Opini

Keuntungan untuk Negeri Hanya Ilusi, Apabila SDA Dikelola oleh Swasta

Dalam sistem Islam, negara sendiri yang akan mengelola sumber daya alam. Hasilnya akan sepenuhnya diberikan kepada masyarakat. Kas negara pun juga akan melimpah dan dengan hasilnya pemerintah dapat menjalankan pemerintahannya secara independen.


Oleh Siti Rohmah, S.Ak.
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM – Pada selasa 4/10/2022 di ITS Surabaya. Richard C. Adkerson sebagai Chairman of the Board and CEO Freeport McMoRan menyampaikan bahwa PT Freeport Indonesia akan menambah investasi hingga tahun 2041 mendatang senilai Rp282.32 triliun atau USD 18,5 miliar.

Penggelontoran dana investasi tersebut dibagi untuk penanaman modal dan untuk membangun smelter di Gersik Jawa Timur. Menurut Richard, proyek PT Freeport Indonesia akan memberikan keuntungan bagi negara Indonesia.

Freeport menjanjikan keuntungan yang makin besar untuk Indonesia melalui investasi. Padahal sejatinya sebesar apapun yang diberikan Freeport, Indonesia tetap rugi besar karena harta akan tetap dikuasi asing.

Jika ada kebermanfaatan PT Freeport untuk Indonesia seharusnya nampak bagi warga sekitar. Namun sampai saat ini nyatanya warga sekitar tambang masih diliputi kemiskinan. Laporan BPS 2019 menunjukkan bahwa Kabupaten Mimika, tempat penambangan PT Freeport menjadi salah satu daerah termiskin di Papua walaupun pada tahun 2022 kemiskinan menurun tetapi tidak begitu meningkat.

Penambahan investasi PT Freeport sebenarnya hanya akan menambah deretan penderitaan bagi warga negara dan negara sendiri akan kehilangan sumber kekayaan alam akibat penambangan.

Begitulah watak sistem kapitalisme, berdalih investasi nyatanya menguasai. Sistem kapitalisme adalah sistem rusak yang takkan mampu menyejahterakan rakyat. Dalam sistem ekonomi kapitalis, kekayaan alam mampu dimiliki atau dikuasai oleh swasta maupun asing. Akibatnya rakyat tidak mendapatkan manfaat dari hasil kekayaan alam di negeri ini.

Negara dalam sistem kapitalis hanya sebatas fasilitator, pemulus jalan para pemilik modal yang menyokongnya pada jabatan. Karena dalam sistem kapitalisme kekuasaan berada ditangan para pemilik modal, bukanlah di tangan rakyat.

Kita membutuhkan sebuah sistem yang mampu menyejahterakan rakyat dengan nyata bukan ilusi. Oleh sebab itu, sudah semestinya umat manusia membuka lebar penglihatannya untuk menghentikan semua itu. Sudah saatnya pemerintah melepaskan sistem ekonomi kapitalisme dan beralih ke sistem ekonomi Islam.

Dengan sistem ekonomi Islamlah negara mampu menyejahterakan rakyat dan bukan hanya ilusi semata. Islam sudah mengatur bahwa, kepemilikan barang tambang yakni sebagai kepemilikan umum.

“Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal, yakni air, rumput, dan api; dan harganya adalah haram.” (HR Ibnu Majah)

Dalam hadis lain Islam juga melarang adanya swastanisasi barang tambang yang memiliki jumlah besar. “Wahai Rasulullah saw., tahukah engkau apa yang engkau berikan kepadanya? Sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir.” Rasulullah saw., kemudian bersabda, “Tariklah tambang tersebut darinya.” (HR Tirmidzi)

Jadi, dalam sistem Islam, negara sendiri yang akan mengelola sumber daya alam. Hasilnya akan sepenuhnya diberikan kepada umat manusia. Maka, kas negara pun juga akan melimpah dan dengan hasilnya pemerintah dapat menjalankan pemerintahannya secara independen.

Kemudian, seluruh kebutuhan pokok umat akan terjamin tanpa harus memungut pajak dari mereka. Nah, inilah yang akan membuka jalan kemaslahatan dan keberkahan bagi umat manusia. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by unsplash.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button