Opini

Kelamnya Potret Generasi, Buah Sistem Hari Ini?

Islam memandang bahwa menjaga generasi bukanlah hanya tugas orang tua, akan tetapi juga butuh peran dari masyarakat dan negara.


Oleh Nesvy Mayasari
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM – Ada apa dengan generasi?
Perilakunya abaikan logika dan naluri
Kian hari kian menjadi-jadi
Adakah yang salah dengan sistem hari ini?

Banua berduka. Lantaran, kasus perundungan yang berbuntut penusukan dilakukan oleh salah seorang pelajar di satu sekolah tingkat menengah atas di Banjarmasin. Korban diduga kuat kerap membully teman satu sekolahnya yang merupakan teman pelaku sejak sekolah dasar.

Kasus perundungan di dunia pendidikan memang marak terjadi. Bukan hanya marak, kasusnya pun tak dinyana menjadi sadis. Dilansir dari republika ( 05/08/2023), dalam waktu yang dekat pula, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengungkap bahwa selama Januari hingga Juli 2023 telah terjadi 16 kasus perundungan di satuan pendidikan. Empat di antaranya bahkan terjadi saat tahun ajaran baru sekolah 2023-2024 yang baru saja dimulai pada pertengahan Juli 2023. Ketua Dewan Pakar FSGI, Retno Listyarti, mengatakan dari 16 kasus perundungan pada satuan pendidikan, mayoritas terjadi pada tingkat sekolah dasar (25 persen), sekolah menengah pertama (25 persen), dan sekolah menengah atas (18,75 persen), juga sekolah menengah kejuruan (18,75 persen).

Sungguh, inilah konsekuensi logis dari penerapan sistem hidup yang salah berupa sistem hidup sekuler liberalistik. Sistem pendidikan hari ini tentu gagal mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Masih ingatkah kita dengan tujuan pendidikan nasional di negeri ini? Tujuan pendidikan nasional yakni di antaranya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memiliki budi pekerti luhur. Namun, amat sangat menyedihkan, kenyataan ini jauh panggang dari api.

Tidak bisa dimungkiri bahwasanya sistem pendidikan sekuler telah menjauhkan peserta didik dari nilai-nilai Islam, iman dan takwa juga tentunya minim dari orientasi pembentukan kepribadian Islam yang mulia. Semua ini berakar dari asas pendidikan yang sekuler atau memisahkan agama dari kehidupan. Alhasil, generasi justru terwarna dengan pemahaman sekuler yang melahirkan perilaku liberal atau bebas. Generasi tidak dipahamkan bagaimana bersikap benar sesuai syariat dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya.

Demikian pula, sebagian besar pengasuhan dan pendidikan anak di rumah tidak dilandasi oleh Islam. Alhasil, identitas keislaman yang senantiasa melekat pada anak menjadi hilang. Semua mengekor pada budaya Barat yang sekuleristik dan liberalistik. Semua itu diperparah dengan fungsi kontrol masyarakat, media yang semakin liberal, bertebarannya tayangan kekerasan, serta lemahnya sistem hukum di negeri ini. Maka, tak heran, aksi kekerasan seperti perundungan yang berbuntut aksi sadis semakin mudah dilakukan oleh kaum pelajar.

Sejatinya, generasi akan terselamatkan dari perilaku bobrok hanya dengan Islam kaffah. Penerapan Islam kafah dalam bingkai negara terbukti mampu menghasilkan sebuah peradaban gemilang, generasi berkualitas, dan berkepribadian Islam di dalamnya. Itulah negara yang terbukti mampu menjadi mercusuar dunia selama lebih dari 13 abad lamanya. Adapun salah satu rahasianya adalah penerapan pendidikan Islam yang berasaskan akidah Islam. Sistem pendidikan Islam akan memahamkan tentang jati dirinya sebagai hamba Allah sehingga mereka akan selalu berhati-hati dalam beramal.

Mereka hanya akan beramal sesuai dengan syariat Islam, bukan yang lain. Pasalnya, tujuan pendidikan Islam adalah mendidik generasi berkepribadian Islam yang handal dalam tsaqafah Islam dan iptek. Mereka hanya akan menyibukkan diri dalam menghasilkan karya-karya terbaik demi membangun peradaban Islam. Tentunya hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional di negeri ini.

Negara akan menjadikan Islam sebagai satu-satunya sumber aturan kebijakannya. Sebab Islam diturunkan oleh Allah Swt. sebagai solusi atas setiap problem kehidupan. Islam memberikan perhatian yang besar kepada generasi yang merupakan agent of change demi terbentuknya peradaban gemilang. Negara akan menempuh dua langkah yaitu preventif (pencegahan) dan kuratif (pengobatan). Upaya preventif dilakukan dengan mengembailkan peran keluarga, masyarakat, dan negara. Sedangkan upaya kuratif dilakukan dengan mengobati mereka yang memiliki kecenderungan melakukan perundungan dengan pendekatan mendasar yang akan mempengaruhi pola berpikir anak ketika menghadapi kehidupan sehingga mereka akan meninggalkan sikap tersebut dengan penuh kesadaran.

Dalam Islam, benteng pertahanan pertama dan utama generasi adalah keluarga. Karena keluarga akan menjadi tempat pendidikan dan pembentukan karakter yang terpenting bagi seorang anak. Orang tua harus mendidik anak dengan benar. Menanamkan akidah dan syariah yang benar dan kokoh, pemahaman tentang pengaturan hidup yang benar, tentang pergaulan, akhlak, dan sebagainya. Selain itu, orang tua harus membangun mindset yang benar tentang visi misi dan makna hidup yang benar.

Islam memandang bahwa menjaga generasi bukanlah hanya tugas orang tua, akan tetapi juga butuh peran dari masyarakat dan negara. Masyarakat memiliki tanggung jawab untuk saling beramar ma’ruf nahi munkar, menasihati, mengajak pada kebaikan, dan mencegah tindakan yang tak terpuji. Masyarakat tidak boleh abai terhadap permasalahan di sekitarnya, sedangkan negara memiliki peran sentral dalam menyaring segala tontonan di media yang berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian generasi.

Sistem pendidikan yang dijalankan oleh negara adalah sistem pendidikan Islam yang berasakan akidah Islam. Sungguh, aturan Islam yang diterapkan dalam bingkai negara akan mampu memutuskan mata rantai aksi kekerasan yang dilakukan oleh generasi. Wallahu a’lam bisshawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by istockphoto.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button