
Islam menjaga agar naluri kemanusiaan tetap terjaga melalui berbagai kewajiban syariat yang telah ditetapkan, bahkan menjadikannya sebagai amal kebaikan. Hal ini hanya akan terwujud ketika negara menjaga umatnya terikat dengan hukum syara dan juga menerapkan syariat secara nyata dalam kehidupan.
Oleh Desy Purwanti
(Aktivis Dakwah Kampus)
JURNALVIBES.COM – Sumber daya alam yang melimpah ternyata tidak menjadikan Indonesia sebagai negara yang makmur. Justru, Indonesia merupakan salah satu negara paling miskin di dunia. Banyaknya pengangguran, anak putus sekolah maupun tidak sekolah, kurangnya layanan kesehatan yang layak, juga gizi buruk pada anak, dan masih banyak lagi persoalan lain di negara ini.
Indonesia masuk dalam 100 negara paling miskin di dunia. Hal ini diukur dari Gross National Income (GNI) atau pendapatan nasional bruto per kapita.
Mengutip World Population Review, Indonesia masuk dalam urutan ke-73 negara termiskin di dunia. Pendapatan nasional bruto RI tercatat US$3.870 per kapita pada 2020.
Mengutip gfmag.com, Indonesia menjadi negara paling miskin nomor 91 di dunia pada 2022. (5/10/2022, CNNIndonesia)
Angka kemiskinan di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan pendapatan nasional bruto per kapita mengalami peningkatan. Namun, di tengah meningkatnya angka kemiskinan, sebagian orang justru berbondong-bondong membeli mobil mewah dengan harga miliaran rupiah.
Belum lama ini, Range Rover baru resmi meluncur di Indonesia. Kendaraan tersebut merupakan generasi kelima dan dibanderol mulai Rp 5,9 miliar dengan status off the road. Meski mahal dan baru diluncurkan, namun stok yang tersedia di Tanah Air sudah nyaris habis. Range Rover baru masuk ke Indonesia melalui PT JLM Auto Indonesia. Kendaraan tersebut rupanya berstatus limited dan hanya tersedia 50 unit di dalam negeri hingga akhir tahun. Setidaknya, hal itu yang disampaikan Direktur Pemasaran PT JLM Auto Indonesia, Irvino Edwardly saat peluncuran produk di Jakarta Selatan.
Dua fakta di atas menunjukkan bentuk kesenjangan sosial. Sungguh miris, di tengah banyaknya rakyat yang makin sempit hidupnya, segelintir orang membeli mobil mewah.
Seharusnya, kekayaannya itu digunakan untuk membantu yang miskin sebagai bentuk rasa kemanusiaan. Bukan malah menumpuk harta hanya untuk kepuasan hawa nafsu. Itulah yang terjadi di negeri ini, orang kaya semakin kaya, orang miskin semakin miskin.
Namun, jika dikaji lebih dalam, keberadaan orang-orang miskin saat ini bukan karena nasibnya yang tidak beruntung atau karena si kaya tidak mau membantu, melainkan karena sistem kapitalisme yang bercokol di negeri ini.
Kapitalisme merupakan ideologi yang memegang prinsip sekularisme, yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Agama tidak perlu mengatur hidup mereka. Agama hanya boleh mengurusi pada perkara ibadah. Sehingga dalam menjalankan kehidupannya, mereka dibebaskan.
Sistem tersebut juga melahirkan sifat individualis yang mementingkan urusannya sendiri. Menyebabkan materi menguasai hati, sehingga mematikan naluri kemanusiaannya.
Tentunya, sistem kapitalisme merusak akidah umat Muslim yang tidak punya rasa takut terhadap murka Allah subhanahu wa ta’ala ketika mereka berlaku zalim.
Oleh karena itu, untuk menghilangkan fenomena orang-orang kaya yang minus empati ini, tidak bisa hanya dengan dakwah yang fokus pada perbaikan individu. Namun, harus mengganti sistem kapitalisme dengan sistem Islam.
Islam menjaga agar naluri kemanusiaan tetap terjaga melalui berbagai kewajiban syariat yang telah ditetapkan, bahkan menjadikannya sebagai amal kebaikan. Hal ini hanya akan terwujud ketika negara menjaga umatnya terikat dengan hukum syara dan juga menerapkan syariat secara nyata dalam kehidupan. Wallahu a’lam bishawwab []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by unsplash.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com





