Opini

Anosmia Empati Pandemi Demi Tahta dan Kuasa: Countdown Pilpres 2024

Para elite politik seharusnya membantu memberikan solusi. Agar rakyat tidak lagi memikirkan bagaimana cara mencari uang makan untuk bulan depan, melainkan tentang bagaimana cara mencari cara untuk merubah masa depan.


Oleh Awiet Usman
(Pegiat Literasi Dumai)

JURNALVIBES.COM – Euforia pemilihan presiden (pilpres) 2024 sudah mulai terasa. Aura kompetisi untuk meraih simpati dan atensi politik publik pun mulai dipertontonkan. Namun ada yang salah dengan para elite politik di negeri ini. Di mana para politikus sedang sibuk mendesain peta politiknya masing-masing lalu memaksakan komunikasi politiknya pada rakyat yang jelas-jelas sedang terpuruk menghadapi pandemi Covid-19.

Ada banyak orang yang kehilangan pekerjaan, pendapatan, nyawa, dan bahkan masa depan selama pandemi Covid-19. Bahkan info terbaru, Kementerian Kesehatan mencatat kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia mencapai 4.100.138 orang, sembuh 3.776.891 orang dan meninggal 133.676 orang, (Liputan6.com,1/9/2021)

Dengan situasi dan kondisi rakyat Indonesia saat ini, jelas mendeskripsikan bahwa para elite politik tidak menyadari betapa krusialnya krisis yang sedang terjadi. Mereka malah sibuk berkompetisi dengan aksi memasang baliho, menyebarkan kalender dan stiker yang mencantumkan nama partai atau kontestan pilpres yang mulai terlihat di setiap sudut jalanan.

Padahal hal itu bisa saja jadi bumerang buat mereka pada akhirnya. Seperti menurut Pengamat Politik, Pangi Syarwi Chaniago, yang menilai strategi pemasangan baliho oleh para elite politik belakangan ini bisa menjadi strategi untung atau juga buntung. (Beritasatu.com, 10/8)

Ruang publik yang selama ini begitu transparan mempertontonkan kesusahan dan kesulitan rakyat untuk berjuang dan bertahan hidup malah dikotori dan dimanfaatkan oleh para politisi dengan sibuk memoles diri demi memenangi kontestasi. Sungguh, keegoisan dan narsisme politik benar-benar telah membuat mereka menjadi anosmia empati pandemi pada rakyat hanya karena demi tahta dan kuasa.

Padahal krisis kepercayaan publik sedang menggerogoti seluruh rakyat saat ini. Seolah begitu sulit menemukan elite politik yang benar-benar berjuang bersama rakyat, berjuang untuk mempertahankan hak rakyat, dan berjuang mewakili suara rakyat.

Isu-isu keadilan dan kesejahteraan seolah menjadi barang yang limited edition di negeri ini. Keinginan sederhana dari rakyat, namun kemudian cuma jadi isu untuk merebut atensi dan simpati publik tanpa pernah ada realisasi dan bukti, hanya sekedar wacana dan janji-janji. Bahkan semua yang terjadi berbanding terbalik dari ekspektasi dan yang tersisa cuma retorika kosong yang tidak ada empati.

Selama ini, visi dan misi selalu dijadikan wacana untuk mempresentasikan diri oleh para kandidat kontestasi. Namun kini tidak lagi mampu membuat publik mengerti, siapa sesungguhnya pihak yang sedang diperjuangkan oleh para elite-elite politik di negeri ini.

Pandemi Covid-19 yang terjadi kini jadi bukti, betapa para elite politik tak mampu menunjukkan rasa empati dan simpati. Manifestasi politik yang mereka usung pada akhirnya hanya untuk membela diri sendiri dan cenderung narsis, tidak lagi peduli pada suara siapa yang sesungguhnya ingin mereka wakili.

Publik sudah jengah karena titik nadir kepercayaan sudah mereka rusak secara sadar. Oligarki kekuasaan yang mereka kejar telah menampar rakyat untuk segera sadar karena retorika politik yang mereka bangun pada publik, pada akhirnya hanyalah utopis. Inilah gambaran politik demokrasi, di mana sistem politiknya mendorong lahirnya parpol-politisi pengabdi kursi bukan pelayan untuk kemaslahatan rakyat yang punya hati nurani.

Seharusnya di masa pandemi ini para elite politik membantu mencari solusi agar rakyat di negeri ini tidak dibiarkan berjuang dan mempertahankan hidup dengan cara mereka sendiri. Bak kata pepatah melayu, “telungkup makan tanah, telentang minum air”, karena itu sungguh ironi.

Para elite politik seharusnya membantu memberikan solusi. Agar rakyat tidak lagi memikirkan bagaimana cara mencari uang makan untuk bulan depan tapi bagaimana cara mencari cara untuk merubah masa depan.

Ironinya negeri ini, jika negara Rusia sudah lama memikirkan bagaimana cara untuk bisa sampai ke bulan. Negara Amerika sudah memikirkan bagaimana cara untuk bisa hidup di bulan. Namun negeri ini masih stuck, memikirkan bagaimana biaya hidup dari bulan ke bulan. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button