Fenomena Anak Durhaka, Indikasi Apa?

Islam memiliki mekanisme dalam menjauhkan generasi dari kemaksiatan dan tindak kriminal. Juga menegakkan sistem sanksi yang menjerakan sehingga dapat mencegah semua bentuk kejahatan termasuk kekerasan terhadapĀ orangĀ tua.
Oleh Ummu Miqdad
(Pegiat Literasi)
JURNALVIBES.COM – Mengingat masa kecil orang-orang yang lahir di tahun 80-an atau generasi X, kebanyakan mereka adalah anak sederhana, manut, kalem, dan mudah diarahkan. Apa-apa yang hendak mereka lakukan akan ditanyakan kepada orang tua tentang pendapat mereka, misalnya saja memilih baju yang akan mereka kenakan.
Perintah atau kehendak orang tua menjadi keharusan yang tak terbantahkan, karena jika tidak melaksanakan mereka akan mendapat teguran, nasehat, bahkan juga hukuman fisik yang membuat mereka takut dan jera.
Ketundukan dan ketaatan mereka amat besar kepada orang tua. Sopan santun masih sangat dijaga oleh mereka, sehingga wibawa orang tua tetap tetap dalam posisi yang tinggi.
Di era itu tayangan hiburan dan media sangatlah terbatas. Bahkan listrik hanya mengaliri sebagian saja dari rumah-rumah penduduk.
Tidak jarang terdapat sekumpulan anak di salah satu rumah hanya demi dapat melihat tayangan televisi yang baru memiliki dua warna, hitam-putih, itupun hanya segelintir orang saja dengan taraf ekonomi yang lumayan yang memiliki alat elektronik itu. Namun demikian tetap mampu menjadi magnet tersendiri.
Tayangan saat itu juga belum banyak, dikarenakan keterbatasan daya tangkap antena yang masih sederhana. Namun yang sedikit itu penuh dengan pelajaran hidup. Di mana anak-anak diajarkan kesopanan dan tata krama yang baik terhadap orang yang lebih tua, terlebih lagi terhadap orang tua dan guru.
Kartun yang saat ini banyak masuk tak dijumpai saat itu. Selain teknologi belum menunjang pembuatannya, dipengaruhi juga dengan sinyal yang rendah, sehingga tak banyak pilihan channel yang masuk.
Saat itu kartun yang ada berupa boneka, seperti boneka Unyil misalnya. Meski bertujuan untuk hiburan, namun tayangannya sarat dengan pelajaran hidup, yang memberikan nilai yang baik.
Teknologi informatika tidak sebanyak sekarang. Pendidikan didapatkan dari buku-buku di perpustakaan. Sehingga ilmu yang didapat lebih banyak terekam dengan baik. Karena kefokusan dalam membaca dan merekamnya dalam tulisan. Jika tidak, buku-buku tersebut harus dikembalikan lagi ke perpustakaan dan mereka harus kembali meminjamnya.
Orang dewasa yang saat ini menduduki jabatan di pemerintahan dan perkantoran, ataupun di perusahaan saat ini, kebanyakan mereka adalah generasi X yang telah di gembleng dengan keras oleh orang tuanya.
Sangat berbeda dengan anak-anak generas Y dan Z yang lahir di tahuan 90-an ke atas. Didikan dan tekanan keras tak berefek baik. Mereka bukanlah anak-anak yang tunduk dan patuh.
Bisa jadi karena didikan orang tua yang kurang di masa kecil, karena tak mau anaknya mengalami hal yang sama sepertinya pada masa lalu, sehingga berusaha membahagiakan mereka meski berakibat menjadi manja dan sulit diatur.
Akibatnya, teguran, nasehat atau bahkan pukulan dapat berakibat fatal bagi orang tua.
Seperti yang di lansir Liputan6.com (23/6/2024), bahwa terjadi pembunuhan di Duren Sawit terhadap pedagang perabot yang ternyata di lakukan oleh kedua putrinya sendiri berinisial K berusia 17 tahun dan P berusia 16 tahun.
Peristiwa ini dipicu kemarahan korban yang mendapati anaknya mencuri uangnya. Rasa tak terima inilah yang membuat anak-anaknya melakukan pembunuhan tersebut.
Sementara dilansir dari liputan6 (21/6/2024), di Pesisir Barat, Lampung seorang anak membunuh ayahnya yang terkena stroke lantaran diminta mengantarkan ke kamar mandi.
Sungguh miris sekali keadaan ini. Adalah hal yang wajar bila orang tua marah ketika anaknya melakukan pelanggaran hukum seperti mencuri. Karena ini bagian dari kewajiban orang tua dalam mendidik anaknya.
Juga hal wajar bila orang tua yang sakit meminta bantuan kepada anaknya untuk membantunya ke kamar mandi, apalagi dalam kondisi stroke. Dan memang seharusnya anak melakukan bakti kepada orang tuanya sebagai wujud kasih sayang dan juga perintah Allah Swt.
Apa yang terjadi hari ini hari tidak lepas dari pandangan hidup yang kapitalis dan sekuler. Segala sesuatu distandarkan pada materi dan keuntungan.
Berbakti kepada orang tua tak lagi menjadi orientasi anak jika hal itu tidak menghasilkan keuntungan. Bahkan sesuatu yang harus di āsingkirkanā ketika menjadi pengganggu dan penghalang mereka untuk mendapatkan materi.
Emosi anak-anak yang tak terkendali menggambarkan buruknya sistem kehidupan saat ini yang memisahkan aturan agama dari kehidupan. Sehingga melahirkan manusia-manusia yang miskin iman, rapuh dan kosong jiwanya. Tidak lagi menjadikan agama sebagai standar perbuatan yang sesungguhnya kelak akan diminta pertanggung jawaban dan juga akan mendapat kenikmatan ataupun siksa dari Allah Sang Pencipta alam semesta.
Sistem kapitalis gagal memanusiakan manusia. Sehingga fitrah dan akal tidak terpelihara, menjauhkan manusia dari tujuan penciptaannya yaitu sebagai hamba dan khalifah pembawa rahmat bagi semesta alam. Oleh karena itu lahirlah generasi yang rusak dan merusak.
Berbeda dengan penerapan pendidikan dalam Islam yang menjadikan generasi memiliki kepribadian Islam. Mereka akan berbakti dan hormat kepada orang tuanya, serta memiliki kemampuan dalam mengendalikan emosi.
Islam memiliki mekanisme dalam menjauhkan generasi dari kemaksiatan dan tindak kriminal. Juga menegakkan sistem sanksi yang menjerakan sehingga dapat mencegah semua bentuk kejahatan termasuk kekerasan terhadap orang tua.
Dengan menerapkan aturan Islam lah, maka akan terwujud suasana kekeluargaan yang hangat dan penuh kasih sayang juga terhindar dari tindakan durhaka atau bahkan tindakan kriminal. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






