Opini

Pendidikan Merata dan Berkualitas dengan Zonasi, Hanya Sebatas Mimpi?

Islam sebagai mabda (ideologi) memiliki sistem aturan yang lengkap dan mampu memecahkan berbagai problematika masyarakat. Begitu juga problematika dalam dunia pendidikan. Pendidikan dalam sistem Islam adalah hak setiap warga negara yang wajib diberikan oleh negara.


Oleh Astuti Rahayu Putri
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM – Memasuki tahun ajaran baru, masalah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) selalu menjadi topik yang hangat untuk diperbincangkan. Bagaimana tidak, tiap tahunnya ada saja temuan kecurangan pada praktik PPDB yang dilaksanakan.

Berdasarkan data pantauan posko Ombudsman Jateng yang dibuka sejak 11 Juni 2024 sudah ada 30 aduan terkait masalah pendaftaran PPDB di Jawa Tengah 2024. Kepala Ombudsman Jawa Tengah Siti Farida menyebutkan, aduan terbanyak terkait dengan kuota penerimaan melalui jalur afirmasi, kemudian beberapa aduan lainnya juga terkait dengan masalah zonasi, kendala diaplikasi hingga seragam sekolah (RRI, 16/06/2024).

Koordinator Nasional (Koornas) Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji menilai kecurangan pada PPDB akan terus berulang pada tahun-tahun berikutnya, lantaran tidak ada perubahan sistem sejak 2021. Ubaid menyebut sistem zonasi menyimpang dari visi yang seharusnya, yakni pemerataan menjadi ketimpangan. Oleh karena itu, ia mengistilahkan zonasi sebagai kompetisi rebutan kursi. Ia juga menilai zonasi membuat ketimpangan mutu dan tak ada jaminan kepastian (Nasional.tempo, 11/6/2024).

Zonasi Tidak Memberi Solusi

Sejak Permendikbud No. 1/2021 tentang PPDB diberlakukan, maka terhitung sudah tiga tahun lamanya sistem zonasi ini diterapkan. Namun, nyatanya sejak diberlakukan timbul berbagai masalah di lapangan. Padahal sistem zonasi merupakan solusi dari pemerintah untuk mengatasi kesenjangan antara sekolah favorit dan tidak favorit. Karena seperti yang kita ketahui bersama, ketika suatu sekolah bergelar favorit maka fasilitas serta mutu pendidikannya pasti terbaik. Berbanding terbalik dengan sekolah tanpa gelar favorit. Maka dari itu tercetuslah sistem zonasi agar pemerataan pendidikan dapat tercapai.

Namun sayangnya, tujuan zonasi tidak sesuai dengan apa yang di harapkan oleh pemerintah. Sebab yang terjadi malah zonasi menjadi ajang rebutan kursi. Masyarakat pun jadi terdorong melakukan praktik kecurangan agar anaknya mendapatkan sekolah yang diinginkan atau sekolah yang favorit.

Maka dari itu, sebenarnya kebijakan sistem zonasi ini perlu mendapatkan peninjauan ulang. Sebab, kebijakan ini bukannya memberikan solusi malah menimbulkan masalah baru. Buktinya, di lapangan banyak ditemukan praktik buruk yang dilakukan baik itu oleh masyarakat ataupun oknum tertentu. Maka tidak heran jika terciptanya kualitas pendidikan yang merata pun masih menjadi mimpi walaupun sistem zonasi sudah beberapa kali diterapkan saat PPDB.

Akar Masalah

Sebenarnya masalah yang terjadi dalam dunia pendidikan ini tidak bisa dipandang secara pragmatis. Seperti, guru yang hanya fokus pada bagaimana menyelesaikan target yang telah ditentukan kurikulum. Tanpa memikirkan apakah anak muridnya betul-betul sudah paham dan mengerti dengan pelajaran yang diberikan. Kemudian masalah kesenjangan kualitas pendidikan hanya diatasi dengan membagi-bagi siswa sesuai dengan zonasi tanpa memikirkan dengan baik dan matang bagaimana praktik di lapangan. Sehingga tidak heran jika berbagai masalah dan kecurangan pun timbul ketika zonasi diterapkan.

Maka dari itu, masalah-masalah cabang dalam kehidupan seperti dalam dunia pendidikan ini sejatinya akar masalah yang paling mendasar terletak pada sistem kehidupan. Karena dari sistem kehidupan maka akan menentukan bagaimana aturan kehidupan yang akan diterapkan.
Saat ini, sistem kapitalisme begitu mempengaruhi kehidupan. Bisa kita lihat dari orientasi kehidupan kini yang sangat menitik beratkan pada nilai materi. Termasuk dalam dunia pendidikan. Anak pun dididik untuk berlomba-lomba mengejar materi seperti mendapat nilai yang bagus kemudian lulus dan bisa menghasilkan pundi-pundi uang yang banyak.

Sekolah bukan lagi mentransfer ilmu untuk diamalkan, namun untuk mencetak generasi yang sukses dalam sudut pandang materi. Maka tidak heran jika orang tua pun turut berkompetisi untuk menyekolahkan anaknya di sekolah yang favorit, demi kesuksesan anaknya.

Islam Punya Solusi

Islam sebagai mabda (ideologi) memiliki sistem aturan yang lengkap dan mampu memecahkan berbagai problematika masyarakat. Begitu juga problematika dalam dunia pendidikan. Pendidikan dalam sistem Islam adalah hak setiap warga negara yang wajib diberikan oleh negara. Oleh karena itu, negara harus memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik bagi setiap warganya dengan merata tanpa terkecuali.

Hal ini hanya bisa diwujudkan oleh pemimpin dalam sistem Islam, karena Rasulullah bersabda: “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari).

Pemimpin dalam sistem Islam akan melakukan langkah-langkah strategis dan menyeluruh sehingga pelayanan pendidikan terbaik akan terwujud. Pertama, mengantisipasi terjadinya kesenjangan mutu pelayanan pendidikan dengan membangun fasilitas pendidikan, seperti gedung, perpustakaan, dan laboratorium dengan layanan yang sama baik di kota maupun di desa. Pendanaannya pun dapat maksimal dilakukan karena baitul maal negara memiliki banyak sumber pendapatan yaitu berasal dari jizyah, fai, kharaj, ghanimah, hingga hasil pengelolaan sumber daya alam.

Kedua, dari sisi pengajar disiapkan bukan hanya yang menonjol dari segi akademik saja tetapi juga memiliki kepribadian Islam yang kuat. Kemudian kesejahteraan guru pun dijamin oleh negara seperti memberikan gaji yang memadai, serta fasilitas kesehatan yang murah, mudah, bahkan gratis. Dengan begitu, guru bisa lebih fokus dalam mendidik anak muridnya.

Ketiga, kurikulum dalam sistem pendidikan Islam menggunakan akidah Islam sebagai landasannya. Sehingga akan mencetak generasi yang berkepribadian Islam. Hasilnya generasi akan menggunakan ilmunya bukan hanya untuk mengejar materi semata, tetapi juga menggunakan ilmunya agar bermanfaat untuk orang lain dan juga agama.

Jelas sudah bagaimana sistem Islam memiliki solusi yang komprehensif dalam memecahkan problematika yang terjadi dalam dunia pendidikan. Sehingga pemerataan pendidikan pun tidak sulit untuk diwujudkan. Apalagi jika didukung penerapan sistem Islam secara kafah (menyeluruh) pada semua aspek kehidupan, tentunya kesejahteraan yang kita impikan bersama akan tercapai. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button