Investasi Terus Digenjot, Demi Prioritas Siapa?

Pemimpin-pemimpin Islam senantiasa memikirkan keadaan rakyatnya, prioritas mereka yakni kesejahteraan rakyat semata dan menggapai rida Allah Swt. Sehingga, dengan sistem Islam maka rakyat akan sejahtera tanpa harus negara berinvestasi kepada negara tetangga, terlebih musuh Islam.
Oleh Sitti Komariah
(Aktivis Muslimah Konsel)
JURNALVIBES.COM – Momentum HUT Sulawesi Tenggara ke-58 yang di pusatkan di Kota Baubau, dimanfaatkan Pemda Konawe Selatan untuk berjualan, memperkenalkan potensi daerah. Di area stand pameran yang dipersiapkan panitia, daerah pimpinan Surunuddin Dangga ini, mengusung Tagline ‘Surga Investasi di Konawe Selatan.
Bupati Konawe Selatan, Surunuddin Dangga mengungkapkan, di pameran tersebut pihaknya mengenalkan produk-produk khusus yang dibina oleh pemerintah daerah. Guna mendorong agar produk tersebut mendapatkan pasar yang lebih luas, baik regional, nasional maupun global.
“Ini momentum yang baik. Sekarang kita ingin memamerkan dan mengenalkan produk yang dipasarkan dan bisa diperoleh di Konawe Selatan. Agar produk ini dikenal dan dipasarkan di Sulawesi Tenggara,” kata Surunuddin saat kunjungannya di stand Konawe Selatan, Senin (23/5) (telisik.id, 23/05/2022).
Dalam dunia perekonomian, investasi memang merupakan salah satu bagian untuk menumbuh kembangkan perekonomian daerah. Dia juga menjadi salah satu motor penggerak perekonomian yang ditujukan untuk memperbesar keuntungan. Sehingga, suatu daerah akan mampu mengerakkan perekonomian dan mensejahterakan rakyatnya. Bahkan, investasi juga merupakan ajang untuk saling tolong menolong bagi suatu bangsa.
Lalu bagaimana dengan berbagai investasi yang dilakukan oleh negeri ini? Apakah investasi tersebut bisa membuat rakyat sejahtera, atau justru banyaknya investasi membuat negeri ini dalam cengkraman asing?
Tak dipungkiri, jika Indonesia merupakan “surga” bagi para investor asing. Hal tersebut terbukti dari banyaknya investor yang menanamkan modal di negeri ini. Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, realisasi investasi Indonesia mencapai Rp282,4 triliun pada kuartal I-2022. Nilai tersebut tumbuh 28,5% secara tahunan (year-on-year/yoy) atau 16,9% secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), sekaligus menjadi rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Di daerah Konawe Selatan sendiri, capaian realisasi investasi sebesar Rp2,665 triliun di tahun 2021 lalu, melampaui target RPJMD Konsel. Hal ini juga menjadikan Konawe Selatan menduduki posisi kedua dari 17 kabupaten/kota se-Sultra, dalam hal realisasi investasi tahun 2021.
Banyaknya investor yang masuk ke negeri ini selayaknya mampu membuat rakyat sejahtera, sebab dengan investasi tersebut roda perekonomian negeri ini bisa bergerak dengan baik dari hasil investasi tersebut. Namun, jika melihat di lapangan hal tersebut justru berbanding terbalik. Di mana rakyat masih menderita, pengangguran di mana-mana, kelaparan dan kemiskinan yang masih menghantui.
Jika ditelisik semua ini akibat dari sistem ekonomi kapitalis yang diemban oleh negeri ini. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan ini telah menjauhkan syariat Allah dari pengaturan kehidupan. Akibatnya segala aktivitas kehidupan manusia diatur oleh akal manusia, begitu pun dengan landasan investasi.
Dalam pandangan ekonomi kapitalis dan sosialis, investasi ditujukan untuk memperbesar keuntungan (profit oriented) semata, tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Bahkan dengan dalih investasi tersebut negeri ini berada pada cengkraman asing yang mengakibatkan negeri ini kehilangan kedaulatannya. Bagaimana tidak, dalam kamus kapitalisme “no free lunch” bagi siapapun mereka. Sehingga semua dilakukan hanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya bagi diri mereka sendiri dan para kelompok tertentu.
Investasi ini pun semakin menciptakan jarak lebar antara para pemilik modal dan rakyat. Kekayaan negara dan rakyat justru dinikmati oleh para pemilik modal saja, sedangkan rakyat harus mati-matian berjuang guna bertahan hidup.
Belum lagi kebijakan ala kapitalisme yang membuka celah investasi pada ranah kepemilikan umum seperti tambang, hutan, batu bara, eksploitasi bawah laut, juga beberapa aset-aset strategis lainnya. Hal ini jelas membuat negara semakin dalam cengkraman asing. Oleh karena itu, negara seyogyanya waspada dengan berbagai investasi yang ditawarkan oleh para investor, sebab mereka hanya mengincar kekayaan alam negeri ini yang melimpah ruah.
Seharusnya, investasi akan membawa kesejahteraan bagi rakyat suatu daerah jika investasi tersebut berdasarkan pada syariat Allah. Sebab, Islam tidak hanya menjadikan investasi untuk mendapatkan profit yang besar melainkan bertujuan untuk meraih maslahah bagi rakyat dan mendapatkan rida Allah.
Namun, semua itu tidak bisa diwujudkan jika negeri ini masih mengemban sistem kapitalis demokrasi yang berbasis keuntungan semata. Hanya Islam yang mampu menciptakan investasi yang bersih dari berbagai praktik-praktik haram semata.
Dalam Islam, ada batasan-batasan dalam berinvestasi. Tidak dibenarkan SDA (harta kepemilikan umum) untuk dilakukan investasi atau dikelola oleh asing. Sebab, hal tersebut akan membawa suatu negeri pada kesengsaraan dan kehilangan kedaulatan.
Kemudian dalam sistem Islam negara tidak melalukan investasi kepada negeri-negeri musuh, apalagi sampai berinvestasi pada aspek-aspek strategis. Dalam pemulihan ekonomi negara senantiasa mengandalkan baitul maal. Pos pemasukan ini terbukti mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Dengan mekanisme pemasukan melalui Kharaj, Fai, Jizyah, SDA, zakat dan lainnya negara mampu mengendalikan perekonomian negara dengan baik.
Bahkan pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, tidak ditemukan orang miskin, semua rakyat hidup berkecukupan. Padahal, khalifah telah berkeliling untuk mencari orang-orang yang terlilit utang tapi tak boros, orang lajang tapi tidak memiliki modal untuk menikah, namun semua tersebut telah tertuntaskan dan dana di baitul maal masih banyak.
Sungguh gambaran sistem yang luar biasa, semua itu hanya bisa diraih pada sistem Islam. Sebab Islam mengajarkan umat manusia mengelola perekonomian dengan baik, tidak boros dan berfoya-foya, harta digunakan demi keridaan di jalan Allah Swt.
Kemudian, pemimpin-pemimpin Islam senantiasa memikirkan keadaan rakyatnya, prioritas mereka yakni kesejahteraan rakyat semata dan menggapai rida Allah Swt. Sehingga, dengan sistem Islam maka rakyat akan sejahtera tanpa harus negara berinvestasi kepada negara tetangga, terlebih musuh Islam. Wallahu a’lam bishshawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






