Baliho Tebar Pesona Pada Saat Rakyat Merana

Gambaran singkat politik Islam yang berkeadilan dan menyejahterakan di atas menjelaskan kepada kita bahwa sistem inilah yang pantas diterapkan.
Oleh Aslama
JURNALVIBES.COM – Perang baliho semakin marak, mulai dari Ketua DPR Puan Maharani, Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Ketum PKB Muhaimin Iskandar hingga Ketum Demokrat AHY. (detiknews, 5/8/2021)
Pandemi belumlah usai, di sisi lain para politikus sudah memulai aksi untuk menarik simpati. Alih-alih mendapatkan simpati, malah berbagai sindiran yang diberi.
Berbagai sindiran terkait perang baliho tersebut diunggah oleh senior dan pendiri PAN. Abdillah Toha mengunggah gambar di akun Twitter pribadinya terkait sindiran masyarakat terhadap baliho elite partai yang dipajang ketika pandemi Covid-19. (republika, 7/8/2021)
Masyarakat Kecewa
Sindiran masyarakat ini mengisyaratkan bahwa adanya kekecewaan. Kekuasaan terasa lebih prioritas dibandingkan nasib rakyat sendiri. Mereka yang dilanda tekanan hidup karena pandemi, tentunya tidak membutuhkan baliho tebar pesona dari para politikus.
Baliho yang terkesan foya-foya akan semakin melukai hati rakyat. Bambang Gage, panggilan akrabnya mengatakan baliho dan billboard Puan Maharani garapannya yang dipasang di Kota Solo ada 40-an item. Salah satunya yang berukuran paling besar yaitu 8 meter x 16 meter di dekat pintu tol. Tarif pembuatan baliho ini mencapai Rp12 juta. (kompas, 7/8/2021)
Ketika rakyat butuh dana untuk hidup , di sisi lain para penguasa menghambur-hamburkan uang demi kekuasaan dan jabatan. Sistem kapitalis telah menggiring manusia meninggalkan sisi kemanusiaannya. Kebahagiaan yang tolak ukurnya materi telah menghilangkan kepekaan terhadap sesama. Sistem ini melahirkan abdi-abdi kursi yang mengenyampingkan pelayanan terhadap masyarakat.
Dalam sistem kapitalis, partai memang “harus” concern pada kekuasaan. Itu konsekuensinya ideologis. Saat Pemilu mereka berlomba menjadi pemenang, baik sendiri maupun berkoalisi. Lalu ketika kalah menjaga oposisi, dengan harapan pada Pemilu berikut menjaga pemenang dan menjadi partai yang berkuasa. Lazimnya, untuk tujuan itu tidak ada cara yang diharamkan; semua boleh-money politics, konspirasi, dan sebagainya.
Hijrah Menuju Sistem Islam
Hijrah dari sistem kapitalis yang tidak menjamin rasa keadilan bahkan kesejahteraan harusnya sesegera mungkin kita lakukan. Politik yang berkeadilan hanya ada dalam politik sistem Islam.
Gambaran implementasi konsep politik Islam yang berkeadilan tampak dalam:
(1) Pemberian sertifikat tanah (Tahun 925 H/1519 H) kepada para pengungsi Yahudi yang lari dari kekejaman inkuisisi Spanyol pasca jatuhnya pemerintah Islam di Andalusia.
(2) Surat ucapan terima kasih dari pemerintah Amerika Serikat yang sedang dilandasi kelaparan pasca perang dengan Inggris (abad 18).
(3) Surat jaminan perlindungan kepada raja Swedia yang diusir tentara Rusia dan mencari eksil ke khilafah (30 Jumadil Awwal 1121 H/7 Agustus 1709 H).
(4) Pemberian izin dan ongkos kepada 30 keluarga Yunani yang telah berimigrasi ke Rusia, namun ingin kembali ke wilayah khilafah, karena di Rusia merupakan justru tidak sejahtera (13 Rabiul Akhir 1282/5 September 1865).
(5) Pasukan Khilafah Turki Utsmani tiba di Aceh (1566- 1577), termasuk para ahli senjata api, penembak, dan para teknisi untuk mengamankan wilayah Syamatiirah (Sumatera) dari Portugis. Dengan bantuan ini Aceh menyerang Portugis di Malaka.
Negara yang berdasarkan Syariat Islam menjamin kebutuhan pokok setiap individu masyarakat secara layak dalam politik ekonomi Islam serta memberikan kemungkinan kepada semua orang untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier mereka dalam bingkai cara hidup masyarakat Islam. Jaminan kesejahteraan diberikan kepada orang-perorang seluruh rakyat, bukan secara makro/agregat/kolektif. Walhasil, Islam memastikan kesejahteraan dan kemiskinan dapat diatasi dengan benar dan riil.
Jaminan kesejahteraan pemenuhan kebutuhan pokok orang per orang terlihat jelas pada saat Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintah. Ibnu Abdul Hakam meriwayatkan, Yahya bin Sa’id, seorang petugas zakat pada masa itu, berkata, “Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikannya kepada orang-orang miskin. Namun, saya tidak menjumpai seorang pun. Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan semua rakyat pada masa itu makmur. Akhirnya, saya membeli budak lalu memerdekakannya.”
Gambaran singkat politik Islam yang berkeadilan dan menyejahterakan di atas menjelaskan kepada kita bahwa sistem inilah yang pantas diterapkan. Apalagi telah terbukti, sistem kapitalis-sekuler yang diterapkan saat ini telah banyak menimbulkan banyak penderitaan dan ketidakadilan. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






