Opini

Alert! Pergaulan Remaja Kian Mengganas


Oleh. Winda Widiastuty
(Pegiat Literasi)

Setiap hari kita dihadapkan dengan realita yang mengkhawatirkan dan membuat miris tentang gaya hidup bebas remaja. Berita tentang perilaku ini beredar liar di media sosial, seolah-olah tanpa kendali. Sehingga memicu banyak komentar dari netizen yang hanya memperburuk dan mendistorsi citra, menjadikannya kacau balau.

Baru-baru ini jagat maya pun ramai dengan video yang memperlihatkan para siswi salah satu SMA di Cianjur yang sedang melakukan tes kehamilan massal di sekolah. Satu per satu para siswi masuk kamar kecil ditemani guru perempuannya untuk melakukan tes urin menggunakan test pack. Pihak sekolah menyatakan bahwa hal tersebut merupakan salah satu upaya untuk mencegah pergaulan bebas. Sebab tiga tahun yang lalu, ada orang tua murid yang meminta izin pada pihak sekolah untuk menikahkan anaknya lantaran sudah hamil di luar nikah.

Related Articles

Program ini rutin dilakukan oleh sekolah tersebut setelah libur panjang sejak dua tahun yang lalu.
Disisi lain, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo mengatakan sebuah data tentang 50 ribu anak menikah dini karena mayoritas hamil di luar nikah. Miris!

Pertanyaan besarnya adalah, apa yang mendorong remaja untuk bertindak sejauh ini? Ini bukan lagi tentang persahabatan; ini tentang ketertarikan, kemudian hubungan, dan akhirnya kegilaan yang mengarah pada pergaulan bebas yang meluas. Mengapa ini terjadi?

Jika kita gali lebih dalam, setidaknya ada tiga faktor yang mungkin menjelaskan mengapa remaja kehilangan kendali dalam kehidupan sosial mereka:
Pertama, informasi yang menyesatkan tentang hubungan remaja. Saat ini remaja dibombardir dengan penggambaran gaya hidup yang bebas dan tidak terkendali. Interaksi antara anak laki-laki dan perempuan dipromosikan sebagai hal yang modern dan keren, dengan kegiatan seperti berjalan bersama, belajar bersama, makan bersama, menonton film bersama, dan bahkan tidur bersama menjadi hal yang normal.

Padahal, interaksi dengan lawan jenis sebagaimana yang digariskan dalam Islam, seharusnya dipisahkan untuk menjaga martabat manusia, tidak seperti kehidupan hewan. Jika tidak dikendalikan, hasrat seksual yang tidak terkendali akan menjadi hal yang wajar dan malapetaka pun akan menimpa.
Sebagaimana yang diperingatkan oleh Imam Ibnul Qayyim, “Tidak diragukan lagi bahwa membiarkan interaksi bebas antara laki-laki dan perempuan adalah akar penyebab malapetaka dan kerusakan, serta berujung pada meluasnya kerusakan moral dan dosa, termasuk merebaknya perzinaan dan penyakit menular.”

Kedua, lingkungan sosial yang jauh dari ajaran Islam. Saat ini, kaum muda Muslim hidup dalam lingkungan yang sering kali tidak memiliki nilai-nilai Islam. Masyarakat tampaknya tidak mempermasalahkan ketika remaja berpacaran atau terlibat dalam hubungan yang tidak pantas, karena perilaku tersebut dianggap wajar dan tidak ada yang membunyikan alarm ketika kemaksiatan terjadi.

Terlebih lagi, kisah cinta para idola remaja digambarkan dengan sangat gamblang di berbagai media, khususnya media sosial, yang mana para pengikutnya mengikuti setiap gerakan mereka dengan saksama mulai dari rumor kencan hingga pernyataan cinta, kegilaan, dan hubungan putus-nyambung yang menjadi konten viral.

Akibatnya, kehidupan sosial remaja sering kali tidak terpantau, karena mereka dianggap “dewasa”. Namun pada kenyataannya, mereka tumbuh terlalu cepat, terhanyut dalam hasrat mereka saat berduaan. Konsekuensinya, seks pranikah menjadi tak terelakkan.

Ketiga, keyakinan agama yang rapuh. Hidup dalam masyarakat sekuler, jauh dari nilai-nilai Islam, menghadirkan tantangan bagi remaja Muslim. Bagaimana mereka bisa tetap setia pada iman mereka ketika teman-teman mereka terlibat dalam kencan yang tidak serius, berpakaian provokatif, dan berpasangan secara pribadi? Jika mereka pergi, mereka berisiko dikucilkan; jika mereka tinggal, mereka merasa tertekan oleh amoralitas yang merajalela di sekitar mereka.

Sayangnya, bahkan batu yang paling kuat pun akan terkikis jika terus-menerus dilempari air. Hal yang sama terjadi pada iman remaja Muslim di lingkungan sekuler. Awalnya, mereka mungkin berhasil bertahan, tetapi seiring waktu, keyakinan mereka melemah karena gaya hidup hedonistik tanpa henti menggerogoti iman mereka, yang akhirnya membuat mereka menyerah pada interaksi sosial yang bebas.

Pergaulan bebas remaja tidak dapat diabaikan, terutama jika telah merenggut masa depan ratusan pelajar. Masa pubertas seharusnya tidak menjadi alasan untuk membiarkan remaja berpacaran. Orang tua tidak perlu khawatir atau merasa bersalah jika anak-anaknya belum memiliki pasangan romantis.

Sebaliknya, mereka seharusnya merasa lega karena anak-anaknya tidak terjerumus dalam budaya berpacaran, berdoa agar mereka tetap terlindungi dari bahaya dan terus berada di jalan kebaikan saat mereka tumbuh dewasa.
Hal penting yang seharusnya menjadi perhatian kita adalah ketika perilaku sosial remaja menjadi semakin gegabah.
Masalahnya bukan hanya pada remaja yang melakukannya, tetapi pada kita semua generasi masa depan umat Islam. Kita semua menanggung akibatnya melalui penyebaran HIV/AIDS, penyakit menular seksual, prostitusi, aborsi, dan bahkan azab ilahi dari Allah.
Abdullah bin Mas’ud (RA) berkata, “Ketika perzinaan menyebar luas di suatu masyarakat, Allah akan menghancurkan masyarakat itu.”

Selain keluarga dan sekolah, negara memiliki peran penting dalam menjaga integritas generasi muda. Negara harus mencegah maraknya penyebaran media yang mengagungkan gaya hidup bebas para tokoh masyarakat. Negara juga harus memberikan sanksi yang tegas kepada mereka yang melakukan perzinaan agar orang lain jera dan tidak melakukan hal serupa.

Sebagai Muslim, kita juga harus menentang pergaulan bebas. Jaga batasan yang tepat dengan lawan jenis, kecuali dalam pergaulan yang diperbolehkan. Lindungi diri kita dari bisikan setan dan godaan media yang mendorong kita untuk terlalu dekat dengan lawan jenis. Hal yang terpenting, tetaplah teguh dalam keimanan dengan memperdalam pemahaman kita tentang Islam. Dengan demikian, keyakinan kita akan tetap kuat dan tidak goyah. Mari kita belajar dan berdoa bersama.

Wallahu a’lam bishawab.[]

Editor : HafidzahLathifah; Ilustrator : Fahmzz


Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button