Opini

Gen Z Melek Teknologi, Tetapi Mayoritas Pengangguran

Islam memandang SDA sebagai milik umum dan pengelolaannya menjadi tanggung jawab negara. Pengelolaan SDA oleh negara akan membuka lapangan pekerjaan untuk banyak umat. Mencetak generasi yang berilmu tinggi sebagai pembangun peradaban yang mulia.


Oleh Zia Shalihah

JURNALVIBES.COM – Mereka yang lahir di tahun 1995 – 2010 termasuk dalam generasi Z. Berikut karakteristik dan kekurangan Artinya, gen Z sekarang ini berusia 13 tahun sampai 28 tahun. Mereka masih duduk di bangku sekolah, kuliah, dan ada pula yang sudah bekerja atau baru menikah.

Waktu silih berganti, maka generasi baru pun lahir ke dunia ini. Banyak teori yang mengatakan, bahwa generasi zaman sekarang itu manja. Ingin serba instan, dan lebih suka kesenangan.

Benarkah demikian? Hal ini bisa dilihat dari perbandingan keberadaan generasi ini dan orang tuanya. Generasi Z ini lebih banyak mengeluh padahal hidup di zaman serba canggih.

Dinamakan gen Z, dengan jawaban sederhana, karena generasi sebelumnya adalah Gen X dan Y, maka generasi yang lahir setelahnya disebut generasi Z. Penamaan yang sesuai dengan abjad.

Generasi Z memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka lebih melek teknologi, kreatif, menerima perbedaan di sekitar, peduli terhadap masalah sosial, dan senang berekspresi baik di dunia maya maupun realita. Sebab, generasi Z ini tumbuh di era teknologi sedang berkembang dengan pesat. Bahkan, gen Z di Indonesia ini telah menempati posisi teratas, paling banyak menghabiskan waktu untuk berselancar di dunia maya. Yang rata-rata 7 sampai 13 jam setiap harinya.

Karena kecanggihan itu, mereka digadang sebagai generasi yang kreatif dan mampu menghasilkan lapangan pekerjaan sendiri, saat pengangguran yang melanda generasi gen Z telah mencapai 9,89 juta manusia. (CNN.Indonesia, 29/5/2024)

Miris memang. Mereka yang dipikirkan banyak pemerhati sosial mampu menerima perbedaan di sekitar karena lebih melek teknologi. Kenyataannya, masih banyak kasus-kasus yang mencuat karena latar belakang ras dan perbedaan agama.

Meskipun lebih sering rebahan sambil scrolling, bukan berarti Generasi Z menjadi apatis. Justru, mereka ini paling cepat dalam urusan menyebarkan informasi dan mencari solusi. Contohnya ketika ada kakek-kakek yang jualan kue di stasiun, Gen Z bisa aja mengunggah foto si kakek di media sosial dan ramai-ramai menggalang donasi. Hal ini selaras dengan julukan ‘The Communaholic‘ yaitu terlibat dalam komunitas dan teknologi untuk memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Berikut ini, alasan kenapa Gen Z ini meresahkan bagi generasi sebelumnya.

  1. FOMO
    Kekurangan Gen Z yang pertama adalah FOMO atau Fear of Missing Out. Kurang komunikatif terhadap sesama, sehingga muncul kehidupan individual dalam masyarakat. Kurang peduli dan tanggap terhadap sekitar.

Karena generasi Z generasi yang bergantung kepada teknologi, khususnya internet dan media sosial. Setiap harinya, mereka disuguhkan oleh berbagai informasi, termasuk apa yang sedang tren. Mental mereka mudah down ketika dihadapkan oleh ketertinggalan info, dan merasa kuper (kurang pergaulan). Padahal jelas sekali bukan itu yang menjadika negara ini maju. Apalagi sering kali yang trend adalah kasus buruk yang menimpa para artis. Dari gosip baik sampai miring dalam keluarga para artis dunia Maya.

Gen Z juga memiliki kcemasan dan tingkat stres yang tinggi. Mereka mempunyai ekspektasi yang tinggi terhadap kehidupan pribadi mereka. Sehingga jika tidak berjalan sesuai keinginan akan memicu timbulnya stres parah. Ditambah, gen Z lebih sibuk menghabiskan waktunya di depan ponsel pintar mereka ketimbang datang dan belajar ke majlis untuk menguatkan keimanan yang menopang mental.

Seharusnya, kita menjadi Gen Z yang baik, menurunkan ekspektasi berlebihan dan menyerahkan segalanya kepada sang Pemilik Hidup. Dengan tetap berusaha, berbuat baik pada sesama, dan berdoa pada Tuhan.

Tekanan mental di kalangan Gen Z sendiri lebih pada banyaknya pengangguran. Secara fakta menunjukkan adanya keterbatasan lapangan kerja, menunjukkan gagalnya negara menciptakan lapangan. Di sini sudah seharusnya negara memperhatikan nasib Gen Z. Tidak terus membuat kebijakan yang memudahkan investor asing dan pekerjanya berusaha di Indonesia.

Begitu juga dalam mengelola SDA
Selain itu juga adanya ketidaksesuaian antara lapangan kerja yanag tersedia dengan pendidikan yang dimiliki gen Z itu sendiri.

Sudah waktunya, penguasa negeri ini memikirkan solusi. Memandang Islam yang telah mengatur bagaimana kehidupan bernegara dalam mengurus rakyat mereka. Karena Islam sendiri menjadikan SDA sebagai milik umum dan pengelolaannya menjadi tanggung jawab negara. Pengelolaan SDA oleh negara akan membuka lapangan pekerjaan untuk banyak umat. Mencetak generasi yang berilmu tinggi sebagai pembangun peradaban yang mulia. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button