
Sudah seharusya peristiwa agung yang penuh hikmah dan pembelajaran ini menjadi kekuatan bagi umat Muslim untuk bangkit dan kembali bersatu dalam satu kepemimpinan dunia dengan membebaskan Baitul Maqdis dari tangan penjajah.
Oleh: Yulia Hastuti, S.E., M.Si.
(Anggota Penulis Revowriter)
JURNALVIBES.COM – Bulan Rajab merupakan salah satu bulan haram yang berarti bulan yang dimuliakan. Selain Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram yang juga termasuk empat bulan haram (suci). Dinamakan suci karena pada bulan-bulan tersebut orang Islam dilarang mengadakan peperangan.
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At Taubah: 36)
Keagungan Rajab membuat bulan ini menjadi istimewa, berbagai kejadian berlangsung dalam sejarah peradaban Islam. Salah satunya terdapat peristiwa yang sangat agung dan suci yakni Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Al Aqsa di Yerusalem (Isra), kemudian dilanjutkan menuju Sidratul Muntaha (Mi’raj) langit ke tujuh yang merupakan tempat tertinggi.
Isra dan Mi’raj merupakan dua peristiwa berbeda, namun karena dua peristiwa ini terjadi pada waktu yang bersamaan, disebutlah Isra Mi’raj. Dua perjalanan tersebut hanya ditempuh dalam kurang dari semalam, diyakini terjadi pada tanggal 27 Rajab dengan tujuan menerima perintah salat dari Allah Swt. langsung tanpa perantara Jibril.
Peristiwa Isra Mi’raj merupakan mukjizat perjalanan spiritual Rasulullah saw di malam hari sebagai pelipur lara ditengah tahun kesedihan beliau dan jawaban dari doa Rasulullah. Alih-alih larut dalam kesedihan, Nabi Muhammad saw ikhlas menerimanya. Ia bahkan lebih takut akan murka Allah. Ia pun berdoa: “Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua (musibah) itu tidak aku hiraukan.”
Dua orang yang paling dicintainya yakni paman beliau, Abu Thalib dan isteri beliau, Khadijah wafat dalam waktu yang berdekatan. Di tengah keterpurkan yang begitu dalam, Allah lantas memberikan ‘undangan’ Isra Mi’raj kepada Muhammad yang bisa melewati masa-masa sulit dengan tabah. Sehingga Allah Swt. pun membuktikan bahwa semua kesulitan yang dialami bukan murka dari Allah tapi sebuah hukum kehidupan bagi yang membela Allah.
Selain itu terdapat rentetan peristiwa sebelum Isra Mi’raj yang dialami Rasulullah sepeninggal orang-orang terkasihnya dipanggil Allah. Beliau sangat kehilangan pelindung dakwah selama ini. Pemboikotan ekonomi dan sosial kaum Quraisy kepada Rasulullah terjadi hampir 2-3 tahun. Sahabat dan Bani Hasyim harus memakan dedaunan kering kala itu. Beliau akhirnya hijrah ke Habasyah untuk meyelamatkan kaum muslimin dari tekanan ekonomi, mental, dan penyiksaan.
Keberadaan beliau semakin tertekan di Makkah maka Rasulullah berhijrah ke Thaif, namun justru pengusiran dan pelemparan batu yang membuat Nabi terluka dan berdarah akibat perlakuan Bani Tsaqif di Thaif. Saat itu datanglah malaikat Jibril dan malaikat penunggu dua gunung menawarkan bantuan untuk membinasaka Bani Tsaqif yang telah menghina beliau, namun begitu berat Nabi menerima tawaran tersebut. Bukankah Rasulullah pembawa rahmat bukan pembawa laknat? Nabi justru tidak menginginkan murka ditimpakan kepada mereka, melainkan Nabi berharap mereka bisa menyembah dan tidak menyekutukan Allah.
“Tidak, namun aku berharap supaya Allah melahirkan dari tulang sulbi anak keturunan mereka ada orang-orang yang beribadah kepada Allah semata tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua” (HR. Bukhari-Muslim). Hingga akhirnya kita melihat penduduk Thaif berbondong-bondong masuk Islam, berkat doa Nabi saw.
Isra Mi’raj merupakan hiburan dan dukungan luar biasa dari Allah swt yang diberikan khusus kepada Rasulullah saw. Beliau dipertemukan dengan seluruh Nabi dan Rasul di Yerusalem dan memimpin salat di Masjid Al-Aqsa bagi para Nabi dan Rasul yang menjadi makmum di belakangnya. Dari Masjid Al –Aqsa, Beliau kembali mengendarai Buraq yang menggerakkan sayapnya terbang ke atas bersama malaikat yang kini menampakkan wujud aslinya. Beliau Mi’raj melampaui ruang, waktu dan bentuk lahiriah bumi melintasi ke tujuh langit dan mengetuk “pintu” sidrat al-muntaha dan berkomunikasi langsung dengan Allah Swt.
Setelah Isra Mi’raj ini Rasulullah saw membuat terobosan dakwah. Gerakan dakwahnya bukan sekedar aksi penyelamatan tetapi juga penetrasi dakwah keluar Makkah. Sejak peristiwa Isra Mi’raj ini, Rasulullah mendatangani kabilah dari Madinah dilanjutkan dengan Baiat Aqabah I dan II.
Dakwah pun diterima oleh kaum Aus dan Khazraj dengan masuknya mereka kedalam Islam, berselang satu tahun dilanjutkan 73 orang pemuda dan 2 orang wanita menemuai Nabi di Makkah memberikan Baiat Aqabah II.
Dari sinilah kita melihat peran lain Isra Mi’raj yaitu revolusi dakwah baru Rasulullah saw. Setelah kegagalan yang bertubi-tubi beliau alami dari penolakan dan tekanan dakwah yang begitu berat serta sulit mencari dukungan yang beliau lakukan selalu gagal dalam melindungi dakwah Islam, namun pertolongan Allah dan terkabulnya doa Nabi menjadi momentum kebangkitan dalam dakwah Nabi.
Sudah seharusya peristiwa agung yang penuh hikmah dan pembelajaran ini menjadi kekuatan bagi umat Muslim untuk bangkit dan kembali bersatu dalam satu kepemimpinan dunia dengan membebaskan Baitul Maqdis dari tangan penjajah.
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Isra:1) Wallahu ‘alam bish showab. []
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com




