Waspadai Jebakan K-Drama Bisa Kena Hangover!

Banyak milenial yang menyesal ketika sudah terlanjur kena k-drama hangover ini, ingin lepas tetapi terlanjur kecanduan. Apabila enggak nonton, hidupnya serasa itu suram dan penasaran. Padahal, pemuda itu pembangun peradaban, menjadi tokoh di masa mendatang. Nah, apabila pemudanya banyak yang kayak begini, bagaimana kelangsungan peradaban dunia di masa depan?
Oleh Nurul Azzizah
(Mahasiswi/Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok)
JURNALVIBES.COM – Hai bestie, siapa nih yang suka nonton k-drama? Soalnya nih ya, seseorang yang sering nonton k-drama bisa kena hangover tuh. Hangover itu adalah perasaan enggak bisa move on dari kisah drama yang ditonton dan hidupnya kayak kejebak dalam cerita itu. Apabila ceritanya senang dia ikut senang dan apabila ceritanya sedih, keikutan sedih tuh, sampai didramatisir dalam kehidupan nyatanya.
Bahkan, ada juga yang gaya hidupnya jadi ikut-ikutan tokoh dalam drama tersebut. Mulai dari sikap, fashion, juga makanannya. Mungkin awal menontonnya hanya karena iseng saja atau karena pengin menghilangkan stres, tetapi lama-lama jadi keasikan. Sekali nonton pengen lagi dan lagi karena kecanduan nonton. Kewajiban di dunia nyata jadi terabaikan seperti tugas kuliah enggak selesai, ibadah keteteran, dan bantu orang tua jadi enggak menyempatkan. Astaghfirullah.
Jadi, hidupnya benar enggak produktif banget jadinya. Ketika orang lain sudah berlari, dia masih jalan di tempat terjebak dalam kehidupan fiktif. Ini mah bukan ciri khas seorang muslim. Sebenarnya enak enggak sih hidup kayak gitu?
Banyak milenial yang menyesal ketika sudah terlanjur kena k-drama hangover ini, ingin lepas tetapi terlanjur kecanduan. Apabila enggak nonton, hidupnya serasa itu suram dan penasaran. Padahal, pemuda itu pembangun peradaban, menjadi tokoh di masa mendatang. Nah, apabila pemudanya banyak yang kayak gini, bagaimana kelangsungan peradaban dunia di masa depan?
Sebenarnya, hangover ini sengaja diaruskan loh. Siapa yang mengaruskan? Tentunya para kapitalis global. Kapitalisme global adalah orang-orang yang bermodal besar yang ingin mendulang keuntungan sebanyak-banyaknya. Mereka butuh konsumen salah satunya kaum milenial. Jadi, dibuatlah para milenial menggandrungi produk-produk mereka termasuk tayangan-tayangan drama ini.
Para kapitalis ini pandai membaca peluang, memahami konsumen dengan baik. Ketika di masa pandemi kayak gini, milenial banyak menghabiskan waktu di depan layar gadget, semakin masif dalam memproduksi dan mengiklankan platfrom dan produk drama untuk menarik milenial. Milenial yang merasa bosen, stres, dan futur, akhirnya tergoda untuk menonton.
Ditambah lagi, dengan diadopsinya gaya hidup bebas ala Barat yang disebarkan melalui drama itu, para kapitalis juga bisa mendulang keuntungan dari lakunya produk-produknya seperti fashion dan makanan.
Makanya, enggak heran apabila sering menjumpai makanan ala-ala seperti drama banyak digemari oleh milenial dan standar kecantikan juga sesuai standar ala drama. Pejualan produk skincare laris manis di pasaran, yang menawarkan kecantikan sebagaimana artis-artis drama itu. Para kapitalis ini sangat diuntungkan, sedangkan milenial rugi karena terjebak hangover dari segi waktu, pikiran, tenaga, dan uang.
Parahnya lagi, negara yang punya kewajiban menjaga rakyatnya, enggak ambil peran untuk membendung arus malah melegalkan itu semua. Akibatnya, para milenial dibiarkan bingung dengan jati dirinya dan enggak bisa mengambil sikap, malah ikut-ikutan arus. Apabila mengandalkan pendidikan, sistem pendidikan sekuler enggak bisa membentuk kepribadian Islam, yang ada mereka malah makin merasa bebas mengatur hidupnya dan enggak butuh aturan Islam.
Oleh karena itu, supaya milenial enggak ikut arus, maka harus mengganti sistem kapitalisme ke sistem Islam secara kafah supaya bisa lepas dari hangover dan harus ngaji Islam kafah. Milenial ngajinya enggak sendirian, tetapi harus dengan guru yang benar dan enggak boleh main-main, harus serius dan istikamah dalam mengikuti arah pembinaan. Semua itu tentunya akan membentuk milenial mempunyai kepribadian Islam alias pola pikir dan pola sikap yang islami.
Para milenial akan paham bahwa hidup di dunia ini, enggak punya tujuan lain kecuali beribadah kepada Allah Swt. Jadinya, mereka akan menyibukkan diri dalam ketaatan bukan malah buang-buang waktu untuk menonton yang enggak berfaedah, bahkan bisa menjerumuskan pada kemaksiatan. Selain ngaji Islam kafah, juga harus berdakwah memperjuangkan negara yang akan menerapkan Islam secara kafah. Negara ini yang disebut dengan khilafah.
Negara khilafah akan sungguh-sungguh dan sepenuh hati menjaga keimanan juga keamanan warga negaranya dengan landasan ketakwaan kepada Allah Swt. Khilafah akan menjaga generasinya dari tontonan yang menyesatkan, soalnya media dalam Islam bukan untuk ajang bisnis seperti sekarang, tetapi fokus mengedukasi dan menguatkan ketakwaan individu saja. Negara juga akan menerapkan sistem pendidikan Islam yang berbasis akidah Islam. Tujuannya untuk membentuk kepribadian Islam warga negaranya.
Khilafah ini pernah diterapkan selama lebih dari 13 abad dan berhasil mencetak generasi yang keprokdutifannya luar biasa. Misalnya Muhammad al-Fatih. Ia berhasil menaklukkan konstantinopel di usia 20 tahun. Ada juga Iyas Bin muawiyah dan Muhammad bin Idris Asy Syafi’i yang bisa memberikan fatwa saat umurnya belum genap 15 tahun dan masih banyak lagi yang lainnya tuh. Mereka menjadi pionir peradaban. Generasi muda masa itu tampil sebagai prototipe generasi terbaik, maju dan bertakwa. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






