Teenager

Bersinar dengan Penilaian Siapa? Allah atau Manusia?

Ketika kita memprioritaskan penilaian Allah di atas penilaian manusia, ada ganjaran kenyamanan yang bisa kita rasakan di dalam hati. Tentu, itu jauh lebih baik dibandingkan memasang kebahagiaan palsu di hadapan pendapat-pendapat yang bertentangan dengan aturan Allah Swt.


Oleh Aqila Ghania Syakirah

JURNALVIBES.COM – Kita semua pasti tahu bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kita pasti butuh peran dan tindakan orang lain untuk bertahan. Aku, kamu, kita adalah ciptaan yang saling bergantung dengan satu sama lain. Meski terkadang, saking bergantungnya kita dengan satu sama lain, malah membuat kita tidak bisa hidup dan berdiri tangguh dengan pilihan sendiri.

Contohnya, kamu dihadapkan dengan sebuah kondisi dimana kamu harus dibuat bingung karena harus membuat pilihan. Kamu bertanya pendapat temanmu, lalu temanmu berkata A. Kamu pun memilih pilihan itu sesuai dengan apa yang temanmu katakan tanpa memikirkan dua kali, risiko, kelebihan, atau kenyamanan mu sendiri. Pokoknya, apapun yang menjadi pendapat mayoritas, akan kamu adopsi dan menjadikan pendapat itu sebagai prinsip hidup sehari-hari, meski sebenarnya itu bukan suatu hal yang nyaman untuk kamu.

Dear, dalam menjalani hidup di atas penilaian manusia is very tiring. Nggak punya kehendak bebas, bingung dan nggak kenal sama diri sendiri. Segala keputusan dan perasaan semuanya digantungkan kepada orang lain seakan-akan kita adalah budak yang mengikuti majikannya. When the real fact is… we are more than that. We are beautiful creature yang diberi anugerah yang melimpah, hidupnya bebas untuk diberi warna apa saja.

Kenangan apapun yang kita rangkai dalam hidup ini, tentu bisa memberikannya goresan warna putih, kuning, merah, dan warna yang lainnya. Hidup seperti itu tentu akan lebih menenangkan dibandingkan dengan hidup yang diwarnai sesuai dengan kehendak orang lain, apalagi jika kita benar-benar menentukan value diri sendiri dengan mengacu kepada validasi orang lain.

Padahal, ketahuilah bahwa orang-orang yang sibuk mencari penilaian manusia akan hidup dengan tidak bahagia. Ketika semua orang mencintai dirimu, satu-satunya orang yang akan membenci kamu adalah dirimu sendiri. Dalam hidup ini, ada saatnya kita butuh penilaian orang lain, tapi bukan berarti kita menggantungkan setiap jengkal kehidupan kita dengan kehendak orang lain.

Kita tetap butuh pendapat, butuh suara mengenai kesalahan yang tidak kita sadari, kekurangan, kelebihan yang mungkin kita tidak lihat ada pada diri kita. Tapi, untuk hal-hal lain seperti hobi, ataupun keputusan besar lainnya seperti memilih jurusan dan universitas, ada baiknya kamu mendengarkan isi hatimu. Sisanya, biarkan pendapat orang sebagai side note untuk dipertimbangkan dan diukur lagi segala risikonya.

Apalagi, jika kita ingin bersinar jauh menembus awan, maka, apa yang mau kita ambil sebagai standar penilaian? Sebagai seorang Muslim, tentu yang kita ambil adalah standar yang satu dan membuat kita bahagia. Why? Karena di luar sana, terlalu banyak prinsip dan pendapat sehingga rasanya kita bingung harus memilih yang mana. Bahkan, memilih salah satu saja belum tentu membuat kita bahagia dan menjadikan kita lebih baik daripada yang sebelumnya.

Tahu, nggak? Bagaimana manisnya kisah para sahabat terdahulu dan Rasulullah Shalallahu wa’alaihi Wa Sallam ketika berdakwah? Dahulu kala, banyak sekali kebencian yang diberikan oleh masyarakat kepada orang-orang yang terpilih ini. Meski kebencian dan penolakannya bahkan sudah tidak terhitung. Tapi, luar biasanya, di mata Allah mereka bagaikan sebutir mutiara yang bersinar dan diangkat derajatnya setinggi mungkin. Kapan lagi, sih? Diistimewakan sama Allah, zat yang paling Maha, Zat yang paling luar biasa?

Ya, aku tahu. Rasanya memang sulit. Mengapa tidak? Bayangkan saja, kamu tidak disukai oleh semua orang, meski hal yang kamu lakukan selama ini adalah sesuatu yang benar, sesuatu yang haq dan menyelamatkan. Kamu sendiri tahu apa yang kamu lakukan benar, tapi reaksi orang lain seakan-akan memposisikan kita sebagai seorang penjahat. Kita yang lelah bersuara dan berjuang, tapi akhirnya kita yang salah. Waduh, gimana tuh? Bukankah itu adalah salah satu ujian keimanan yang begitu luar biasa?

Hari ini, standar berpikir semua orang tidaklah sama. Sehingga, bisa jadi ada yang akan membenci kita, meskipun hal yang kita lakukan jelas-jelas baik untuk mereka. Mungkin, ini saatnya membuka mata dan melepaskan diri dari jeratan penilaian orang lain di luar sana. Karena hidup ini, tidak mungkin sekali jika kita cita-citakan sebagai hidup yang disukai oleh semua orang.

Inilah waktunya untuk membuka hati, lihatlah cahaya Allah dan berhenti menjadikan manusia sebagai standar utama kita. Karena jika kita menggantungkan penilaian kita kepada manusia, bukankah penilaian manusia itu subjektif dan belum tentu bisa membuat kita bahagia dan nyaman?

Pastinya, penilaian yang akan membuat kita bahagia dan nyaman adalah penilaian yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, yang mengerti seluk beluk bagaimana kita diciptakan, yang mengerti proses macam apa yang sedang kita jalani, bagaimana suka dan duka, sedih dan bahagianya.

Oleh karena itu, lebih baik kita menjadikan aturan Allah sebagai tata cara untuk menjalani hidup alias way of live. Inilah yang sering menjadi titik kesalahan manusia di luar sana. Apalagi, bagi para remaja yang lagi senang-senangnya untuk bersinar, yakni mengambil penilaian manusia sebagai prinsip dalam hidupnya. Padahal waktu itu, Nabi Nuh juga pernah dituduh oleh kaumnya sendiri sebagai orang yang sesat. Hal tersebut diceritakan dalam Q.S Al-A’raf ayat 9 yang memiliki arti, “Pemuka-pemuka kaumnya (Nuh) berkata, ‘Sesungguhnya kami memandang kamu benar- benar berada dalam kesesatan yang nyata.’ Dalam ayat yang lain, QS. Al-A’raf ayat 99 Allah berfirman bahwa “Pemuka-pemuka orang- orang yang kafir dari kaumnya (Hud) berkata, ‘Sesungguhnya kami memandang kamu benar-benar kurang waras dan kami kira kamu termasuk orang-orang yang berdusta.’’ 

Hal ini menunjukkan bahwa, penilaian Allah dengan penilaian manusia bisa menjadi perbandingan yang sangat bertentangan. Dalam kondisi seperti ini, yang harus kita jadikan sebagai patokan adalah aturan Allah semata. Bukan berarti kita menutup telinga juga, sih. Karena, ada kalanya kita harus mendengarkan sudut pandang dan orang lain. Karena, memahami orang lain juga akan menjadikan kita seseorang yang lebih baik, pintar dan berwawasan luas.

Jadi, percayalah, ketika kita memprioritaskan penilaian Allah di atas penilaian manusia, ada ganjaran kenyamanan yang bisa kita rasakan di dalam hati. Tentu, itu jauh lebih baik dibandingkan memasang kebahagiaan palsu di hadapan pendapat-pendapat yang bertentangan dengan aturan Allah Swt. So, yuk bersinar dengan cara kita.

“If your life is about to please others, how you gonna love yourself and recognize your values in a positive way?”

Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button