Opini

Pelajar Tawuran Mau Sampai Kapan?

Islam memerintahkan masyarakat hidup dalam kondisi saling ta’awun amar makruf nahi mungkar. Sehingga suasana yang terbentuk dalam masyarakat adalah suasana keimanan. Bukan suasana saling menunjukkan eksistensi untuk meraih materi semata.


Oleh Anisa Alfadilah

JURNALVIBES.COM – Tim Patroli Perintis Presisi Polres Metro Depok menangkap tujuh anak muda yang hendak tawuran. Para ABG itu diketahui tengah siaran langsung di media sosialnya untuk mencari lawan tawuran. (detikNews, 27/2/2022).

“Tim perintis memantau akun live geng Lapendos Junior karena merasa curiga. Terlihat senjata tajam saat kelompok tersebut live sambil berkeliling menggunakan kendaraan roda dua,” kata Iptu Winam saat dihubungi, Minggu (27/2/2022).

Anggota Satlantas Polres Semarang menggagalkan aksi tawuran yang melibatkan sejumlah siswa SMP, di jalan utama Bawen-Salatiga, di wilayah Desa Asinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Senin (14/2) petang. Delapan siswa SMP diamankan berikut sejumlah peralatan yang diduga akan digunakan sebagai senjata dalam aksi tawuran ini. Beberapa di antaranya adalah senjata tajam jenis sabit dan sabuk gir sepeda motor. (Republika.co.id, 15/2/2022).

Kapolres Semarang, AKBP Yovan Fatika HA, melalui Kasat Lantas Polres Semarang, AKP Rendy Johan Prasetyo mengatakan, pengagalan aksi tawuran ini bermula dari informasi warga di sekitar lokasi. “Awalnya anggota kami mendapatkan laporan dari warga, ada dua kelompok remaja yang sudah saling berhadap-hadapan dan siap tawuran di sekitar restoran Kampoeng Kopi Banaran,” katanya saat dikonfirmasi di Ungaran.

Lagi-lagi kasus kenakalan remaja kembali terjadi. Kasus tawuran pelajar salah satunya. Kini aksi mereka tidak hanya di lingkup sekolah, tetapi turun ke jalan dan bertindak anarkis. Tawuran pelajar menjadi momok menakutkan bagi masyarakat, karena mereka merusak fasilitas umum hingga menimbulkan korban jiwa. Tak heran publik mempertanyakan sampai kapan tawuran pelajar akan terjadi. Selama ini adakah yang salah dari sistem pendidikan kita. Mengapa justru para pelajar yang mengenyam bangku pendidikan yang anarkis dan tawuran. Bahayanya mereka tidak hanya adu fisik tetapi juga menggunakan senjata tajam dalam aksinya.

Bila kita melihat kerusakan yang terjadi dalam diri generasi tentunya ada yang salah dalam sudut pandang mereka yang tercermin dari tindakan yang mereka lakukan. Hal itu merupakan imbas dari penerapan sistem sekularisme, di mana kehidupan masyarakat terpisah dari agamanya. Sistem ini merenggut kesejahteraan, keamanan, dan kedamainan dalam kehidupan bermasyarakat serta bernegara.

Cara pandang masyarakat pada masa kini serba bebas dan memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga agama hanya dijadikan formalitas belaka. Hal ini mempengaruhi kondisi remaja sekarang.Tak heran generasi juga limbung dan tidak mengenal jati dirinya. Mereka berbuat sesuka hati tanpa menghiraukan apakah tindakannya itu merugikan orang lain atau tidak. Kematangan fisik tidak diimbangi dengan kematangan mental. Mereka cenderung labil dan mudah terprovokasi.

Kenakalan remaja juga disebabkan oleh minimnya pengetahuan mereka tentang agama, norma, dan segala aturan-Nya. Mereka tidak memiliki batasan dan kesadaran atas tindakan yang mereka lakukan. Sebab paham yang mereka miliki adalah kebebasan dan agama tidak boleh mengatur kehidupan mereka. Pendidikan paham yang demikian tentunya bermula dari keluarga sebagai pendidikan pertama, kemudian di lingkup masyarakat hingga di sekolah sebagai tempat mereka mengenyam pendidikan.

Pendidikan masa kini hanya mengedepankan aspek intelektualitas berupa prestasi akademik dan nonakademik. Sedangkan keagamaan hanya diposisikan sebagai pelajaran tambahan. Alhasil para remaja tidak memahami jati diri mereka sebagai seorang muslim. Sehingga mereka melakukan tawuran sebagai upaya meraih eksistensi belaka.

Berbeda dengan sistem pendidikan Islam. Islam memandang generasi muda dan remaja adalah aset bangsa yang seharusnya dididik dengan benar dan dimotivasi untuk berkarya untuk umat. Menjadi generasi yang memahami jati diri dan semangat dalam menjalani kehidupan semata untuk ketaatan. Dalam sistem pendidikan Islam ada tiga komponen yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan, yaitu keluarga, masyarakat, dan negara.

Dalam keluarga, negara memerintahkan para orang tua untuk mendidik putra putri mereka dengan menanamkan akidah yang lurus dengan penuh ketaatan dan ketakwaan. Sehingga sejak kecil mereka memiliki kesadaran akan hubungan dirinya dengan pencipta. Dirinya sebagai hamba dan Allah sebagai penciptanya. Dengan demikian mereka akan senantiasa terikat dengan hukum syara’.

Allah Swt. berfirman yang artinya, “Peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”. (TQS. At-Tahrim : 6).

Orang tua juga diperintahkan untuk mendidik anak supaya mampu menyelesaikan persoalan pribadi dan masyarakat sesuai tuntunan syariat. Dari Ibnu Umar Rasulullah Saw. bersabda, “Ajarilah anak-anak lelakimu berenang dan memanah. Ajari menggunakan alat pemintal untuk wanita”. (HR. al-Baihaqi).

Islam juga memerintahkan masyarakat hidup dalam kondisi saling ta’awun amar makruf nahi mungkar. Sehingga suasana yang terbentuk dalam masyarakat adalah suasana keimanan. Bukan suasana saling menunjukkan eksistensi untuk meraih materi semata.

Adapun negara menyediakan pendidikan berbasis Islam. Sehingga dari lembaga pendidikan terbentuk syakhsiyah Islam, yaitu pola pikir dan pola sikap sesuai dengan ajaran Islam. Dari sistem pendidikan Islam telah terbukti mampu melahirkan generasi hebat dan cemerlang.

Faqih terhadap ilmu agama dan dunia. Seperti ilmuwan muslim di masa kegemilangan Islam yaitu, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al Biruni, Ibnu Batutah, Al Farabi, Al Khawaridzmi, dan ilmuwan muslim lainnya. Mereka dididik pada masa anak-anak untuk faqih dalam agama. Kemudian ketika mereka remaja saat mempelajari ilmu dunia telah tertanam dalam benak mereka menjadikan ilmunya untuk diamalkan dan bermanfaat untuk umat bukan sebatas mencari eksistensi dan materi. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button