Motivasi

Menggapai Hijrah yang Istikamah

Hijrah itu mudah, yang sulit adalah istikamah. Namun di titik tersulit itulah yang menjadi ujian bagi kita. Di titik itulah rida-Nya dapat kita raih.


Oleh Fina Fatimah
(Anggota Ksatria Aksara Bandung)

JURNALVIBES.COM – Kata hijrah mungkin sudah tak asing lagi di pendengaran kita. Dalam Islam, makna hijrah bisa didefinisikan sebagai berpindah dari satu tempat ke tempat lain dikarenakan nyawanya atau keselamatannya terancam. Namun seiring berjalannya waktu, ada makna yang lebih luas lagi dari hijrah, yaitu meninggalkan kebatilan menuju kebaikan. Meninggalkan segala perbuatan yang dilarang Allah menuju perbuatan yang diridai Allah. Berpindah dari kondisi kejahiliahan menuju penerapan Islam yang kafah.

Related Articles

Dulu, hijrah terasa asing. Menuntut ilmu Islam terasa kuno bagi kawula muda. Namun atas izin Allah, kini membludak gelombang pemuda yang berhijrah menjadi pemuda yang taat berislam. Sekarang tak susah kita temukan selebaran-selebaran atau poster-poster dakwah dan kajian yang mengusung konsep ‘Pemuda Hijrah’.

Meskipun gelombang hijrah meningkat, namun ada hal yang harus digarisbawahi oleh setiap orang disini, yaitu istikamah. Tak sedikit yang mengeluhkan bahwa dirinya sulit mempertahankan kebaikan, khususnya bagi yang sudah berhijrah. Selalu saja ada godaan untuk kembali ke zaman jahiliah.

Hal itu sebenarnya adalah wajar. Adanya kecenderungan untuk kita kepada kebaikan pasti akan disertai kecenderungan untuk melakukan kemungkaran pula. Hal ini karena sejatinya manusia lahir ke dunia sudah ‘sepaket’ dengan qarin-nya dari kalangan jin dan malaikat. Apa itu qarin? Secara bahasa qarin artinya pendamping, orang yang digabungkan, dan orang yang menjadi kawan.

“Tidaklah seorangpun di antara kamu kecuali disertakan padanya qarîn dari kalangan jin (dan qarîn dari kalangan malaikat)”. Para sahabat bertanya: “Kepada anda juga wahai Rasûlullâh?”. Beliau menjawab: “Juga kepada saya, tetapi Allah Azza wa Jalla membantuku melawannya sehingga dia masuk Islam. Maka dia tidak memerintahkanku kecuali dengan kebaikan”. (HR. Muslim, no: 2814; Ahmad, no. 3770; dari Abdullâh bin Mas’ûd)

Maksud qarin dari hadis di atas adalah jin atau malaikat yang selalu menyertai manusia dari sejak lahir hingga wafat. Qarin dari kalangan jin akan membisikkan keburukan sedangkan dari kalangan malaikat akan senantiasa menyuruh kita kepada kebaikan. Oleh karena ini, saat kita hendak berhijrah, banyak sekali godaan untuk kembali kepada kenikmatan dunia yang fana.

Qarin ini akan selalu menyertai tiap langkah manusia, di manapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun. Qarin tak akan lepas dari manusia hingga akhir hayat. Kendati demikian, kita tetap bisa melemahkan qarin dari kalangan jin ini dengan cara memaksa diri kita untuk senantiasa meningkatkan kualitas dalam ber-taqarrub kepada Allah. Seperti memperbaiki salat, bacaan Al-Qur’an, berzikir, menuntut ilmu islam, dan sebagainya. Hal-hal inilah yang akan melemahkan jin qarin yang mendominasi kita untuk berbuat kemungkaran.

Hal penting lainnya agar kita istikamah dalam berhijrah adalah hidayah-Nya. Kita itu ibarat seekor burung yang sayapnya patah. Mustahil tanpa pertolongan Allah kita bisa bertahan dan melesat terbang. Tanpa hidayah-Nya kita bisa tersungkur dan jatuh ke lembah kegelapan. Oleh karenanya, hidayah-Nya selalu kita pinta berulang-ulang di setiap salat kita.

Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus,” (TQS. Al-fatihah[1] :6).

Saat kita meminta hidayah kepada Allah dalam Surat Al-Fatihah ayat 6 ini, menurut mufassirin hidayah dalam ayat ini mencakup tiga hidayah.

Pertama hidayah Irsyad, yakni hidayah kepada Islam. Seorang muslim terkadang lupa untuk mensyukuri bahwa dirinya telah mendapat satu hidayah bersamaan dengan lahirnya dia sebagai muslim. Padahal banyak sekali di luar sana yang berusaha mati-matian untuk menjadi seorang muslim.

Kedua hidayah taufik, yakni hidayah agar menerima kebenaran yang diajarkan oleh Islam. Hidayah agar kita senantiasa dihantarkan Allah menuju keridaannya dengan amalan-amalan saleh yang mungkin tak pernah kita duga sebelumnya.

Ketiga hidayah tatsbit, hidayah agar iman dan Islam ditetapkan dan dikukuhkan di dalam sanubari kita dan tidak pernah lenyap.

Hidayah ini amatlah penting bagi manusia. Tanpanya segala amal saleh bisa menjadi sia-sia. Mari kita merenungi kisah Ar-Rajjal bin Unfuwah. Seorang sahabat nabi yang dikenal dengan kesalehannya, ilmu agamanya baik, penghafal Al Qur’an, dan dahulu ikut berjuang bersama Rasulullah Saw. Di era khalifah Abu bakar ash Shiddiq, Rajjal mengusulkan diri untuk memberantas nabi palsu, Musailamah Al-Kadzaab. Namun yang terjadi adalah di tengah misi dakwahnya dia menjadi ragu dan berbelot menjadi pendukung si nabi palsu itu dan berada di barisan penentang kaum muslimin hingga akhir hayatnya.

Dari kisah ini, dapat kita tarik kesimpulan bahwa seluruh kebaikan kita tidak bisa menjadi jaminan amannya kita dari godaan setan yang menjerumuskan kepada kekafiran. Titik aman seorang hamba adalah tatkala dia berpulang ke sisi-Nya dalam kondisi husnul khatimah.

Seperti yang sudah dibahas tadi, bahwa setan akan senantiasa hadir di setiap aktivitas manusia. Agar Allah menjaga kita dari godaan-godaan setan yang terkutuk ini, maka perlu bagi kita untuk selalu mengingat Allah dengan berzikir yang sempurna. Berikut di antaranya kriteria dzikir yang sempurna,

Zikir yang banyak. Batas minimalnya zikir yang banyak adalah berzikir di waktu yang telah disunahkan untuk berzikir. Sedangkan batas maksimalnya adalah tatkala lisan seorang hamba selalu basah dengan dzikrullah di setiap kesempatan.

Zikir dengan lisan dan hati. Maksudnya adalah zikir yang diucapkan oleh lisan seperti tahlil, tahmid, tasbih, takbir, dan sebagainya. Lalu diresapi makna yang terkandung dalam kalimat-kalimat tersebut.

Zikir yang mengikuti amalan seorang hamba, yaitu zikir yang manakala seorang hamba melakukan amalan ibadah, ia tak lupa untuk terus mengingat Allah dan menghadirkan keikhlasan niat di dalamnya.

Zikir yang sesuai syariat. Tak sedikit kita dapati, aktivitas mulia berzikir ini kerap disalahgunakan oleh sebagian orang. Ada yang melakukan zikir hingga ribuan kali namun diiringi dengan ritual-ritual syirik dengan maksud untuk dilapangkan dunianya. Hal tersebut bukanlah zikir yang dibenarkan oleh syariat.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengingatkan, “Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak”. HR. Muslim (III/1344 no 1718).

Hijrah itu mudah, yang sulit adalah istikamah. Namun di titik tersulit itu lah yang menjadi ujian bagi kita. Di titik itulah rida-Nya dapat kita raih. Dengan niat ikhlas disertai ikhtiar yang maksimal dan tawakal setelahnya. InsyaAllah, Allah subhanahu wa ta’ala yang akan memudahkannya. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button