Teenager

Remaja Muslim Krisis Jati Diri

Salah satu sebab krisis jati diri remaja adalah mereka tidak memiliki paradigma berpikir yang menyentuh tataran akhirat. Jka remaja bisa memecahkan pertanyaan mendasar, niscaya ketika berbuat, mereka memiliki tujuan jelas.


Oleh Tsabita Mardhia
(Santriwati kelas XII, Islamic Leadership School Taruna Panatagama, Yogyakarta)

JURNALVIBES.COM – Zaman yang serba canggih ini, di mana teknologi semakin terdepan, banyak sekali penemuan baru yang diluncurkan oleh para ilmuwan untuk memudahkan manusia beraktivitas. Mulai dari kendaraan autopilot hingga telepon genggam yang semakin canggih. Namun dengan semakin baiknya teknologi ini apakah membuat akhlak para remaja menjadi semakin baik pula?

Beberapa bulan lalu, ada berita seorang anak meludahi dan mencaci ibunya karena sang ibu menanyakan handphone miliknya. Astaghfirullah, itu baru dunia nyata. Lalu bagaimana di dunia maya? Jangan ditanya lagi. Dengan kemajuan teknologi saat ini, banyak video tak senonoh yang dilihat para remaja, tanpa malu-malu mereka bebas mengekspresikan diri, dari cinta beda gender hingga cinta segender. Alhasil, dalam keseharian remaja kita menjadi pribadi yang miskin akhlak.

Remaja yang saat ini membeli sesuatu bertajuk self reward atau liburan bertajuk healing, itulah yang dihadapi oleh kita sebagai remaja Muslim. Kita berhadapan masalah mental dan psikis yang lemah, maka dari itu bunuh diri atau pun mental illness sedang marak di sekitar kita. Itu adalah salah satu bukti remaja Muslim saat ini krisis jati diri.

Jika remaja Muslim memahami prinsip hidup yang benar dan tidak terombang-ambing, bukankah ini sangat bagus? Dulu, sahabat Nabi saw. tidak mempunyai sahabat seperti kebanyakan remaja Muslim saat ini yang lemah, yang sedikit-sedikit trust issue, overthinking. Dulu, pada masa Nabi saw. ada sahabat Ali bin Abi Thalib. Pada usia yang masih belia, beliau disegani karena memiliki prinsip hidup yang khas, dan masih banyak sahabat lain yang bisa kita contoh.

Salah satu sebab krisis jati diri remaja adalah mereka tidak memiliki paradigma berpikir yang menyentuh tataran akhirat, bukan hanya dunia. Jika remaja bisa memecahkan pertanyaan mendasar, niscaya ketika berbuat, mereka memiliki tujuan jelas, pasti, dan tidak abu-abu.

Membahas sisi remaja tidak akan cukup dengan melihat psikisnya saja, namun kita harus bisa memahami mereka dengan pertanyaan mendasar yang dapat membentuk karakter mereka. Apakah itu? Yaitu pertanyaan dari mana ia berasal, apa tujuannya di dunia ini, dan kemana ia setelah meninggalkan dunia. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by istockphoto.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button