Opini

Pembajakan Peran Santri Hanya Akan Membelokkan Arah Perjuangan yang Hakiki

Hari santri ditetapkan berdasarkan tanggal keluarnya resolusi jihad yaitu seruan kalangan pesantren untuk melawan penjajah. Ini bermakna bahwa kalangan pesantren merupakan adalah aktor utama pelaku perubahan sesuai tuntunan syariat.


Oleh Leihana
(Ibu Pemerhati Umat)

JURNALVIBES.COM – “Saat ini kita telah merdeka
mari teruskan perjuangan ulama.
Berperan aktif dengan dasar Pancasila
Nusantara tanggung jawab kita”

Begitulah penggalan lirik lagu hari santri yang diciptakan dan dipopulerkan oleh Kemenag untuk memperingati Hari Santri Nasional tahun 2021. Namun lirik lagu ini terasa sedikit mengganjal, bahwa santri harus meneruskan perjuangan ulama setelah merdeka dengan dasar Pancasila. Namun pada masa Nusantara belum merdeka, benarkah para ulama berjuang berdasarkan Pancasila yang belum tersusun? Padahal Pancasila disusun setelah Nusantara merdeka menjadi Republik Indonesia.

Tentu para santri dan ulama terdahulu tidak mengenal Pancasila apalagi berjuang untuk Pancasila. Lalu atas dasar apa para santri dan ulama berjuang melawan penjajah di Nusantara dahulu?

Sebagaimana yang tengah di ketahui rakyat Indonesia saat ini tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan tanggal tersebut sebagai Hari santri Nasional oleh Keputusan Presiden (Kepres) no. 22 tahun 2015 sebagai peringatan dari seruan jihad Nahdhatul Ulama (NU) tanggal 22 oktober tahun 1945. Seruan Jihad ini dilakukan oleh KH. Hasyim Asy’ari kepada para santri dan ulama pondok pesantren dari berbagi penjuru Nusantara. Instruksi tersebut berisi seruan untuk membulatkan tekad dalam melakukan jihad membela tanah air.
Seruan itu menyebutkan bahwa mengusir penjajah itu hukumnya adalah fardhu ‘ain (wajib bagi setiap orang) untuk berjihad melawan penjajah di seluruh penjuru Nusantara. (detik.com, 22/10)

Sehingga jelas, dasar perjuangan para santri itu adalah keimanan. Terdorong dari seruan kewajiban jihad bukan karena Pancasila seperti yang disebutkan dalam lirik lagu santri ciptaan Kemenag.

Selain lirik lagu Kemenag yang mengabulkan dasar perjuangan santri. Bahkan Presiden Republik Indonesia saat ini Joko Widodo dalam peringatan hari Santri Nasional tahun 2021 juga mengharapkan hal yang berbeda dari arah perjuangan para santri yang semestinya. Yaitu Presiden mengharapkan dari hasil pendidikan madrasah dan pesantren para santri ini akan menjadi para wirausahawan muda yang mampu memenuhi tuntutan masyarakat ekonomi syariah (MES). Hal ini diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo dalam peringatan hari santri tanggal 22 Oktober 2021 di Istana Kepresidenan yang dilakukan secara fisik dan virtual.
(viva.co.id, 22/10/2021).

‌Bukan hanya skala nasional pembajakan potensi santri ke arah yang tidak seharusnya bahkan juga didorong hingga ke tingkat desa. Seperti yang diungkapkan oleh Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi ( Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar, bahwa santri adalah penggerak ekonomi desa. Abdul Halim juga menyampaikan pada peringatan hari santri nasional tahun 2021 bahwa disebutkan bahwa pesantren secara kultural dan desa laksana dua sisi mata uang tidak terpisahkan. Biasanya pesantren-pesantren sebagian besar berada di desa-desa di mana para kiai pesantren menjadi bahan rujukan untuk bertanya terkait masalah spiritual dan sosial. Bahkan dewasa ini pesantren juga menjadi penggerak ekonomi desa,” (inews.id, 22/10).

Tidak buruk memang mengarahkan potensi santri untuk menggerakkan ekonomi, tetapi mengingat potensi santri dalam membangun perubahan yang cemerlang pada Nusantara hingga merdeka. Upaya mengarahkan santri untuk pemberdayaan ekonomi saja merupakan bentuk pembajakan potensi yang menyia-nyiakan berlian untuk batu biasa.

Jika santri bisa memberi kontribusi lebih besar untuk masa depan bangsa dengan terus menggelorakan semangat jihad yang dulu berhasil mengusir penjajah dari tanah air. Maka tentu pada era saat ini yang telah merdeka tetapi negara terus terpuruk para santri akan mampu membebaskan negeri ini dari penjajahan ekonomi, politik dan sosial.

Hari santri ditetapkan berdasarkan tanggal keluarnya resolusi jihad yaitu seruan kalangan pesantren untuk melawan penjajah. Ini bermakna bahwa kalangan pesantren merupakan adalah aktor utama pelaku perubahan sesuai tuntunan syariat. Bila saat ini diorientasikan menggerakkan ekonomi dengan program kewirausahaan semata, maka ini akan merampas potensi santri.

Seharusnya dari kalangan santri dan ulama diharapkan lahir gelombang perubahan untuk menentang segala bentuk penjajahan berdasarkan tuntunan Islam. Maka menurut tuntunan syariat, kondisi buruk ekonomi bangsa saat ini sepatutnya diubah dengan penggantian sistem politik dan ekonomi kapitalisme menuju sistem Islam kafah. Sebab akar permasalahan negeri ini yang diklaim telah merdeka, tetapi rakyatnya banyak sengsara ini adalah akibat penerapan sistem kapitalisme sekuler yang aturannya selalu memprioritaskan kepentingan pemilik modal daripada rakyatnya.

Maka belajar dari sejarah kemerdekaan negeri ini. Ternyata semangat para pejuang didapat dari semangat jihad para ulama dan santri. Demikian juga perjuangan dakwah Rasulullah Muhammad Saw. berhasil dimenangkan oleh perjuangan para sahabat muda seperti Ali bin Abu Thalib, Mush’ab bin Umair, dan sahabat muda lainnya yang dengan berani memperjuangkan Islam. Sehingga Islam diterapkan secara kafah dalam naungan sebuah institusi daulah (negara) Islam di Madinah. Untuk itu mari kita jaga cahaya perjuangan para santri untuk perubahan menuju Islam tetap bersinar terang untuk kebaikan negeri ini dan rakyatnya. Wallahu a’lam bishshawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button