Opini

Bonus Wakil Menteri di Masa Pandemi

Seorang pemimpin yang paham mengenai tanggung jawabnya akan bersungguh-sungguh melaksanakan tugasnya semata-mata mencari rida Allah Swt., bukan materi. Pemimpin yang seperti ini hanya ada dalam sistem Islam. Sebuah sistem kehidupan yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Baginda Rasulullah Saw.


Oleh Aprilina, S.E.I
(Aktivis Muslimah Peduli Umat)

JURNALVIBES.COM – Fantastis. Kata yang tepat untuk mengungkapkan kekaguman terhadap jumlah bonus yang diterima wakil menteri. Bagaimana tidak, uang senilai Rp580 juta pada saat ini bukanlah jumlah yang sedikit.

Sebagaimana Peraturan Presiden (Perpres) 77/2021, bahwa wakil menteri yang berhenti atau telah menyelesaikan masa jabatannya akan diberikan uang penghargaan. Ini tertulis pada pasal 8 ayat 2 yang berbunyu,
“Uang penghargaan bagi wakil menteri paling banyak sebesar Rp580.454.000 untuk satu periode masa jabatan wakil menteri”.

Pemberian uang penghargaan ini berdasarkan lama masa jabatan. Masa jabatan satu tahun akan mendapatkan 20% dari angka maksimal uang penghargaan, masa jabatan dua tahun 40%, masa jabatan tiga tahun 60%, masa jabatan empat tahun 80%, dan masa jabatan lima tahun 100%. Uang penghargaan juga diberikan kepada wakil menteri yang telah berhenti atau berakhir masa jabatannya sebelum aturan tersebut diundangkan oleh pemerintah. Sungguh menakjubkan bukan?

Mengutip pernyataan dari Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara, Faldo Maldini yang mengatakan bahwa selama ini hanya menteri yang mendapat uang pensiun, sementara wakil menteri tidak ada. “Ini apresiasi buat orang yang sudah mengurusi jutaan rakyat Indonesia. Peraturan ini berlaku untuk seluruh wakil menteri termasuk yang menjabat pada kabinet sebelumnya. Besar uang penghargaan yang diterima berbeda-beda sesuai lama menjabat,” katanya pada JawaPos.com, Kamis (2/9).

Fakta Kerja Menteri dan Wakilnya Sebagai Pejabat Negara

Benarkah menteri dan wakilnya telah mengurus jutaan rakyat Indonesia? Kenyataannya di lapangan tak sesuai dengan apa yang disebutkan. Menteri dan wakil menteri sesungguhnya bukan mengurus jutaan rakyat Indonesia. Lebih tepatnya mengurus kepentingan pemimpin negara ini, serta para pengusaha yang ada dibalik kekuasaannya.

Jika benar para menteri dan wakilnya mengurus jutaan rakyat Indonesia, pastinya angka pengangguran, kemiskinan, dan kriminalitas dapat dikurangi. Apalagi di masa pandemi sekarang, masyarakat diberikan bantuan sosial tetapi dipangkas jumlahnya. Belum lagi, sulitnya mendapatkan fasilitas kesehatan bagi masyarakat umum. Sehingga tidak sedikit korban pandemi ini meregang nyawa di lorong-lorong rumah sakit. Selain itu, insentif para nakes yang masih menunggak. Merekalah yang sebenarnya berhak mendapatkan bonus karena menjadi pihak yang berada di garda terdepan dalam mengurus masyarakat yang jadi korban wabah. Pekerjaan mereka beresiko maut jika tertular virus dari pasien. Tentunya ini sangat berat, baik bagi mereka (para nakes) maupun keluarga yang mereka tinggalkan.

Inilah ketimpangan yang terjadi dalam sistem kapitalis-sekuler. Lain yang peras keringat, banting tulang, siang dan malam, lain pula yang menikmati hasil. Rakyat tanpa jam kerja yang jelas, penghasilan yang tidak jelas, bermandikan keringat karena teriknya matahari, dan kedinginan pada saat hujan. Bahkan bekerja tanpa ruangan apalagi AC dan kursi putar, harus berpacu dengan waktu untuk dapat memenuhi kebutuhannya sendiri maupun keluarganya.

Sementara ada para pejabat yang katanya bekerja untuk rakyat, duduk santai di kursi putar dalam ruangan dengan AC dan fasilitas lengkap, menerima gaji yang jelas setiap bulannya ditambah bonus. Ini masih belum cukup. Terbukti dengan adanya pejabat yang tertangkap melakukan tindakan korupsi. Sungguh miris. Kapitalisme telah menjadikan mereka hanya berpikir materi dan materi. Tak pernah puas dengan apa yang telah diperoleh.

Pejabat Negara dalam Islam

Berbeda halnya dengan sistem Islam. Para pejabat negara Islam yang pernah ada dalam sejarah tidak memperlihatkan kehidupan yang materialistis. Mereka hidup sederhana dalam pemahaman zuhud, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Walaupun demikian, mereka bekerja siang dan malam untuk rakyatnya tanpa fasilitas lengkap seperti pejabat negara hari ini. Bahkan tidak jarang mereka berkeliling pada malam hari untuk melihat secara langsung, kehidupan rakyat yang dipimpinnya.

Hal ini pernah dilakukan oleh Umar bin Khattab Ra. Beliau pernah mendapati sebuah gubuk yang penghuninya belum tidur pada suatu malam. Ini beliau ketahui dari suara tangisan anak-anak yang ada di dalam gubuk tersebut. Tanpa ragu, beliau mengetuk pintu gubuk itu, sehingga keluar seorang wanita dari gubuk tersebut. Beliaupun bertanya mengenai anak-anak yang menangis. Wanita itu pun menjawab bahwa anak-anak itu menangis karena belum makan. Mereka tidak memiliki apapun untuk dimakan.

Mendengar hal itu, Umar segera menuju baitul maal. Beliau memikul gandum dan membawa beberapa potong daging untuk wanita tadi. Sesampainya di gubuk itu, beliau mendapati anak-anak yang menangis tadi, sudah tidur karena kelelahan. Beliau pun segera memasak bahan makanan yang dibawanya dari gudang sehingga ketika anak-anak itu bangun, makanan sudah tersedia. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Umar sempat menyuapi anak-anak itu. Sebelum pulang, Umar memberikan santunan kepada wanita tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Demikianlah pemimpin dalam Islam mengurus rakyatnya. Untuk pekerjaannya itu, Umar bin Khattab tidak pernah mendapatkan bonus apapun. Apa yang telah dilakukannya sebagai khalifah, menjadikan namanya dikenang sampai hari ini dan dijadikan teladan dalam kepemimpinan. Meskipun beliau tidak pernah mengharapkan ini. Beliau melakukan semuanya semata-mata takut akan balasan pada hari kiamat. Beliau memahami bahwa apapun yang beliau lakukan akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat oleh Allah Swt.

Para pemimpin dalam Islam memahami betul bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw. yang artinya,

“Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, seorang pemimpin umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab atas mereka, seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anaknya, dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang budak adalah pemimpin bagi harta tuannya, dan ia bertanggung jawab atasnya. Maka setiap dari kalian adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR Abu Dawud).

Seorang pemimpin yang paham mengenai tanggung jawabnya akan bersungguh-sungguh melaksanakan tugasnya semata-mata mencari rida Allah Swt., bukan materi. Pemimpin yang seperti ini hanya ada dalam sistem Islam. Sebuah sistem kehidupan yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Baginda Rasulullah Saw. Kita sebagai umatnya wajib meneladani beliau dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam memimpin masyarakat.

Allah Swt. berfirman yang artinya, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (TQS. Al-Ahzab [33]: 21). Wallahu a’lam bishshawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button