Korban Kecubung Berjatuhan Bukti Hancurnya Generasi Negeri?

Fenomena mabuk kecubung menunjukkan rusaknya generasi dalam menjalani kehidupan termasuk dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Juga menunjukkan lemahnya ketahanan mental mereka.
Oleh Zia Shalihah
JURNALVIBES.COM – Kecubung adalah tanaman beracun. Dalam bahasa Inggris disebut juga Jimson Weed. Daun dan biji kecubung kadang digunakan untuk membuat obat dan menyebabkan halusinasi. Kecubung sendiri dapat menyebabkan amnesia, kebingungan, psikosis, dan halusinasi, mengubah suasana hati, dan ekspresi emosional.
Mengonsumsi kecubung dalam jumlah sedikit dan tidak sampai overdosis, bisa jadi hanya akan mengalami sesuatu yang mirip dengan konsumsi narkoba. Yang memungkinkan individunya merasakan kecemasan, dehidrasi, mengantuk, dan sensitif terhadap cahaya, serta gejala lainnya.
WebMD menuliskan kecubung mengandung bahan kimia berbahaya. Atropin, hyoscyamine, dan skopolamin ada di dalamnya. Bahan kimia yang dapat menyebabkan efek samping serius, terutama kematian. Kandungan dalam kecubung sendiri adalah zat yang biasa digunakan untuk pengobatan maag, sindrom iritasi usus besar, pankreatitis, serta masalah perut. Hyoscyamine di dalamnya dapat membuat mengantuk, menyebabkan sakit kepala, atau mengaburkan penglihatan. (Tirto, 11/7/2024)
Kasus konsumsi kecubung sendiri menyebabkan dua orang tewas, dan puluhan dirawat di RSJ setelah mengkonsumsi kecubung yang dioplos dengan minuman dan obat-obatan. Hal yang sangat disayangkan dari kasus-kasus tersebut, penyalahgunaan kecubung sendiri tidak ada hukum yang menjeratnya. (Kompas, 10/5) 2024.)
Mengutip dari laman BNN, narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman/ bukan tanaman. Sintetis maupun semi sintetis. Zat ini memicu beberapa efek seperti penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan bahkan menyebabkan ketergantungan. Namun, sangat disayangkan di sisi lain, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi telah mengatakan, tak masuknya kecubung dalam golongan narkotika dan psikotropika adalah karena tidak menimbulkan kecanduan.
Apa bedanya ketergantungan dan kecanduan? Bukankah keduanya sama-sama membawa efek buruk untuk tubuh manusia? Sama-sama memicu kejahatan karena mengandung khamar (memabukkan). Lalu bagaimana kecubung sendiri dilihat dari sisi Islam?
Sekalipun ada manfaat sebagaimana disebutkan sebelumnya dalam dunia medis, kecubung tetap tanaman beracun yang seharusnya tidak dikonsumsi manusia. Lebih-lebih tanpa diawasi seorang ahli untuk tujuan kesehatan tertentu. Hukum memakan kecubung sendiri adalah haram. Hukum keharaman ini dipertimbangkan efek yang ditimbulkan kecubung yang dapat menghilangkan kesadaran. Efek menghilangkan kesadaran akibat kecubung ini sama dengan seseorang yang meminum khamar.
Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Umar, Rasulullah saw.telah bersabda:
Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda, ‘Setiap yang muskir [memabukkan] adalah khamar, dan setiap yang muskir adalah haram,'” (HR. Muslim).
Selain haram, memakan kecubung termasuk dosa besar karena menghilangkan kesadaran.
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 219 yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. [Akan tetapi] dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” Mereka [juga] bertanya kepadamu [tentang] apa yang mereka infakkan. Katakanlah, ” (yang infakkan adalah) kelebihan (dari apa yang diperlukan)” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu berpikir.”
Jelas sekali, mabuk kecubung menunjukkan rusaknya generasi dalam menjalani kehidupan termasuk dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Juga menunjukkan lemahnya ketahanan mental mereka.
Tidak ada pencegahan yang tegas agar hal serupa tidak terjadi ke depannya. Hal ini menggambarkan bagaimana kegagalan sistem pendidikan sekuler di negeri kita dalam mencetak generasi berakhlak mulia. Generasi muda justru tumbuh menjadi generasi dengan perilaku liberal. Bebas dan semaunya sendiri mengekspresikan diri mereka ketika menghadapi permasalahan hidup.
Hal ini berbeda dengan Islam yang memiliki sistem pendidikan berkualitas. Sistem yang mampu mencetak generasi berkepribadian Islam, bermental kuat dan produktif. Keimanan yang dimiliki juga akan menuntun penggunaan berbagai bahan alami secara bijak sesuai tuntunan syariat Islam itu sendiri.
Itulah sebabnya perlu ditegakkan sistem Islam di tengah masyarakat, agar bisa mencetak generasi tangguh, yang berakhlak mulai. Generasi yang kelak akan melanjutkan tongkat estafet perjuangan generasi sebelumnya. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






