Opini

Marak Anak Durhaka, Pertanda Apa?

Sistem Islam adalah sistem yang menyejahterakan, menentramkan dan menenangkan jiwa, karena sesuai dengan fitrah manusia. Sistem yang mengajarkan bahwa kebahagiaan itu ketika berada dijalan kehidupan yang diridhai Allah Swt. yaitu terikat dengan syariatnya Allah. Sistem yang dilandasi dengan keimanan yang menjadikan pola pikir dan pola sikap terikat dengan aturannya Allah. Sehingga bisa menjadikan manusia hidup tenteram, sejahtera, bahagia dan mulia.


Oleh Sulistijeni

JURNALVIBES.COM – Akhir-akhir ini ramai dihebohkan dengan maraknya kasus anak durhaka, perilaku anak yang melawan orang tua. Bahkan tidak jarang sampai menghilangkan nyawa.

Seperti yang dirilis liputan6 (23/6/2024), telah viral di media sosial seorang pedagang yang ditemukan tewas di sebuah toko perabot di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. Pria itu tewas dibunuh oleh kedua putri kandungnya sendiri yang berinisial K dan P. Dari hasil penyelidikan polisi, pelaku sudah ditangkap.

Di lain tempat ada seorang pemuda yang tega menganiaya bapaknya hingga tewas. Sebagaimana yang dilansir enamplus.liputan6 (24/6/2024), seorang pemuda tega menganiaya ayahnya sendiri yang sedang sakit stroke hingga meninggal dunia. Peristiwa miris itu terjadi di Pekon Padang Rindu, Kecamatan Pesisir Utara, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Kejadian bermula ketika S sedang makan lalu dimintai tolong oleh sang ayah yang sakit stroke untuk mengantar ke kamar mandi. Namun tersangka menolak dan terjadilah cekcok. Anak tersebut lalu memukul ayahnya berulang kali di bagian kepala hingga tidak sadarkan diri yang akhirnya meninggal.

Sungguh miris kasus anak durhaka yang semakin marak terjadi. Betapa sadisnya seorang anak yang sudah dilahirkan dan dibesarkan tega membunuh orang tuanya dengan tangannya sendiri. Ini menunjukkan bahwa telah hilang nilai-nilai keimanan dan kemanusiaan pada diri seorang anak, akibat lemahnya kontrol sosial dari lingkungan dan juga akibat dari tontonan negatif di internet menjadikan anak berperilaku sadis ke orang tuanya.

Sistem sekularisme kapitalis telah merusak dan merobohkan pandangan mengenai keluarga. Sekularisme melahirkan manusia-manusia miskin iman yang tidak mampu mengontrol emosinya, rapuh dan kosong jiwanya. Kapitalisme menjadikan materi sebagai tujuan, abai pada keharusan untuk birrul walidain. Begitu juga dengan sistem pendidikan sekuler yang tidak mendidik agar memahami birrul walidain. Malah melahirkan generasi yang rusak, dan rusak pula hubungannya dengan Allah.

Pendidikan hari ini juga tidak mampu mencetak anak didik berkualitas yang mempunyai kepribadian yang mulia. Tetapi malah melahirkan generasi yang banyak masalah. Karena kurikulum yang diterapkan tidak mengarahkan para anak didik untuk bersikap baik dan beradab.

Dengan adanya berbagai tekanan mental, sosial, psikologi, bahkan ekonomi, telah menjangkiti anak di sistem sekuler kapitalis ini. Sistem yang menjauhkan agama dari kehidupan sehingga melahirkan peradaban yang rusak dan merusak. Sehingga menjadikan generasi hari ini rusak akibat dari sistem yang rusak, yang menjadikan sebagai aturan hidup yang juga rusak. Sistem yang jauh dari agama yang melahirkan peradaban yang rusak dan merusak. Karena tegak dari akidah yang rusak sehingga melahirkan sistem atau aturan-aturan hidup yang rusak.

Penerapan sistem kapitalisme telah gagal memanusiakan manusia. Fitrah dan akal tidak terpelihara, menjauhkan manusia dari tujuan penciptaannya yaitu sebagai hamba dan khalifah pembawa rahmat bagi alam semesta. Sehingga sistem ini melahirkan generasi rusak dan merusak.

Tampak sudah bahwa sistem kapitalisme sekuler adalah sistem yang tidak bisa menjaga fitrah manusia. Sistem yang menggiring manusia untuk melakukan tindak keburukan dan kejahatan tanpa pandang bulu meskipun itu adalah orang tua sendiri. Siapapun bisa menjadi korban sistem ini, tidak hanya anak-anak, orang dewasa, tetangga, teman, keluarga bahkan orang tua sendiri bisa menjadi korban kebiadaban. Sudah seharusnya sistem yang rusak ini dibuang dan diganti dengan sistem kehidupan yang benar dan mensejahterakan. Sistem yang datangnya dari Allah Swt. yaitu sistem Islam.

Sistem Islam adalah sistem yang menyejahterakan, menentramkan dan menenangkan jiwa, karena sesuai dengan fitrah manusia. Sistem yang mengajarkan bahwa kebahagiaan itu ketika berada dijalan kehidupan yang diridhai Allah Swt. yaitu terikat dengan syariatnya Allah. Sistem yang dilandasi dengan keimanan yang menjadikan pola pikir dan pola sikap terikat dengan aturannya Allah. Sehingga bisa menjadikan manusia hidup tenteram, sejahtera, bahagia dan mulia.

Sistem Islam akan mendidik generasi menjadi generasi yang memiliki kepribadian Islam, pola pikir dan pola sikap islami. Sistem ini akan menjadikan berbakti dan hormat pada orang tuanya, dan memiliki kemampuan dalam mengendalikan emosi. Islam melarang untuk berkata kasar, membentak, tidak menghiraukan dan mendengarkan nasehat orang tua, juga dilarangan memarahi dan berlaku cuek terhadap orang tua. Islam memerintahkan agar berlaku baik terhadap orang tua jangan sampai menyakiti apalagi membunuh. Naudzubillah.

Allah berfirman di dalam Al-Quran surat An-nisa ayat 36 yang artinya, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua”. (TQS An-Nisa: 36).

Islam memiliki mekanisme dalam menjauhkan generasi dari kemaksiatan dan tindak kriminal. Juga menegakkan sistem sanksi yang bisa menjerakan, sehingga dapat mencegah semua bentuk kejahatan termasuk kekerasan anak pada orang tua. Apalagi sampai membunuh itu termasuk jinayah atau kejahatan, dan wajib di qisas bagi yang melakukan. Apabila pembunuhan itu disengaja maka pelaku akan dijatuhi hukuman mati jika keluarga korban tidak memaafkan, dan menerima diat berupa 100 ekor unta, 40 diantaranya bunting. Apabila tidak mampu wajib membayar kafarat dengan memerdekakan budak perempuan mukminah atau puasa dua bulan berturut-turut.

Hukuman tersebut dilaksanakan agar tidak mengulangi kejahatan pembunuhan yang dilakukan, begitu juga pembunuhan orang tua yang dilakukan oleh anaknya. Dengan demikian anak durhaka yang berani melawan dan membunuh orang tuanya tidak akan marak seperti hari ini.

Untuk bisa mengaplikasikan itu semua perlu diterapkan Islam secara kafah dan keseluruhan dalam kehidupan. Dengan demikian tidak ada anak yang bertindak durhaka pada orang tua. Yang ada adalah anak yang saleh/salehah dan berbakti kepada orang tua. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustratr: Fahmzz

Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button