Badai PHK di Industri Startup, Bukti Hegemoni Kapitalisme Global

Umat Islam harus berusaha dengan segenap kemampuannya untuk mencabut tatanan ekonomi kapitalisme yang menindas, eksploitatif, dan tidak adil ini, seraya memastikan penerapan satu-satunya agama yang hak di hadapan Allah Swt.
Oleh Tri Rahayu, S.TP.
JURNALVIBES.COM – Sejumlah perusahaan rintisan atau startup yang cukup dikenal di Indonesia melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya. Hal ini terjadi pada perusahaan rintisan global hingga dalam negeri. Seperti, startup edu-tech, Zenius, yang telah mengumumkan PHK 200 pegawai. Tidak hanya itu, Robinhood juga memangkas 300 karyawan, begitu juga Netflix yang melakukan PHK 150 pegawai, dan Cameo memangkas 87 pegawainya. (CNBCIndonesia, 28/5/2022)
Sementara di dalam negeri dilaporkan ada tiga perusahaan yang melakukan efisiensi seperti Zenius, LinkAja, hingga JD.ID.
Adapun fenomena PHK massal ini diduga karena Indonesia masih terguncang kondisi makro-ekonomi selama masa pandemi Covid-19. Selain itu, fenomena ini juga terjadi akibat ketergantungan perusahaan startup pada pendanaan dari investor. Pendanaan tersebut digunakan untuk operasional bisnis yang merugi atau dikenal dengan “bakar uang”.
Peneliti Ekonomi Digital Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menyebutkan, saat ini perusahaan rintisan masih bergantung kepada pendanaan guna menjalankan bisnisnya. “Makanya ketika gagal mendapatkan pendanaan, biasanya mereka akan kelimpungan hingga tidak bisa beroperasi secara normal,” kata dia. Oleh karenanya, Nailul mengatakan bahwa pengurangan tenaga kerja menjadi salah satu opsi yang kerap diambil perusahaan rintisan untuk memperbaiki kondisi keuangannya.
Didik J Rachbini selaku Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) juga mengatakan, fenomena PHK massal yang terjadi di sejumlah startup di Indonesia dalam waktu berdekatan ini bisa dibilang sebagai bubble burst.
Bubble atau gelembung adalah siklus ekonomi yang ditandai dengan eskalasi cepat nilai pasar, terutama pada harga aset. Inflasi yang cepat ini diikuti oleh penurunan nilai yang cepat, atau konstraksi, yang terkadang disebut sebagai “kecelakaan atau crash” atau “ledakan gelembung atau bubble burst”. Biasanya, gelembung diciptakan oleh lonjakan harga aset yang didorong oleh perilaku pasar yang bersemangat. Selama gelembung, aset biasanya diperdagangkan pada harga atau dalam kisaran harga yang sangat melebihi nilai intrinsik aset (harga tidak selaras dengan dasar aset) (Investopedia, 3/4/2022)
Saat pasar memuncak atau bersemangat, sejumlah situasi yang memicu kepanikan terjadi. Suku bunga dan inflasi yang melonjak tinggi hingga perang Rusia-Ukraina menjadikan para investor berhati-hati untuk menyuntikkan dananya pada sejumlah startup. Walhasil, pasar saham startup menurun, harga aset terjun, dan investasi menurun. Penurunan nilai yang cepat inilah yang dikenal dengan ledakan gelembung.
Inilah karakter bawaan ekonomi kapitalisme yang selalu menciptakan bubble ekonomi. Hegemoni kapitalisme makin menguat di era demokratisasi. Kondisi ini akan terus berulang sebab fondasi sistem ekonomi kapitalisme dibangun dari struktur ekonomi semu, yaitu sektor nonriil.
Penerapan sistem kapitalis juga telah memicu terjadinya krisis-krisis ekonomi maupun keuangan yang berulang dengan dampak yang makin parah. Krisis demi krisis, seperti krisis di Asia, AS, Eropa, maupun berbagai belahan dunia lainnya terjadi karena dipicu pertumbuhan sektor nonriil yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor riil.
Startup dijadikan sebagai jalan bagi para kapitalis pemodal besar untuk menguasai data (big data) dan pasar kaum muslim. Hal ini sebenarnya sangat berbahaya karena ekonomi kaum muslim menjadi dikuasai asing.
Islam tidak bergantung kepada investasi asing karena hal itu bisa menjadikan ketergantungan terhadap negara lain. Jika negara tidak mengutamakan sektor riil, industri tidak menjadi prioritas dan produksi negara menjadi tidak ada. Sama saja dengan bergantung pada produk negara lain. Dampaknya, kita akan terus-menerus bergantung impor. Dengan demikian, sistem ekonomi Islam mencegah terjadinya bubble burst.
Sistem ekonomi Islam berfokus pada pembangunan ekonomi sektor riil dan tidak mengenal sektor ekonomi nonriil. Dengan kata lain, ekonomi nonriil bertentangan dengan sistem Islam. Hukum jual beli saham di lantai bursa saham juga haram karena di dalamnya terdapat riba dan akad syirkah yang batil.
Untuk itu, dunia membutuhkan tatanan ekonomi global baru yang hanya bisa disediakan oleh Islam dan hanya dapat dilakukan oleh sebuah negara Islam, yaitu khilafah. Tatanan ekonomi dunia Islam akan mengutamakan pemerataan ekonomi dan menghilangkan kesenjangan, menolak pinjaman berbunga, menggunakan emas (dinar) dan perak (dirham) sebagai mata uang, menggunakan mata uang sendiri dalam perdagangan internasional dan transaksi bersama, serta mencegah adanya praktik perdagangan yang spekulatif (nonriil).
Khilafah lah yang akan mengakhiri dominasi dolar, menolak institusi kolonialis seperti IMF dan Bank Dunia, serta menyatakan minyak, gas, dan pembangkit listrik sebagai milik publik. Khilafah akan menegakkan tatanan ekonomi revolusioner ini di dunia. Di atas segalanya, umat Islam memiliki harta berupa iman. Dengan iman itulah umat Islam dapat meruntuhkan tatanan ekonomi kapitalisme yang eksploitatif saat ini.
Oleh karena itu, umat Islam harus berusaha dengan segenap kemampuannya untuk mencabut tatanan ekonomi kapitalisme yang menindas, eksploitatif, dan tidak adil ini, seraya memastikan penerapan satu-satunya agama yang hak di hadapan Allah Swt. Wallahu a’lam bisshawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






