Ekonomi Dunia Stagflasi, Umat Butuh Solusi Hakiki

Sistem ekonomi kapitalisme telah terbukti mengalami resesi bahkan stagflasi. Tak ada harapan bagi umat untuk tetap berharap bahkan bertahan pada sistem ini. Umat membutuhkan sistem kepemimpinan alternatif lain yang mampu menjamin kestabilan ekonomi dan membawa kesejahteraan hidup bagi manusia.
Oleh Qonitta Al-Mujadillaa
(Aktivis Muslimah Kalsel)
JURNALVIBES.COM – Bak buah simalakama, perekonomian dunia Amerika Serikat kian mengkhawatirkan. Kerapuhan demi kerapuhan terlihat secara nyata dengan guncangan yang dahsyat. Kerapuhan yang memberikan pengaruh pada negeri pengikut Amerika Serikat. Hal ini menjadi alarm negeri pengikut untuk keluar dari lubang resesi berkepanjangan ini.
Lonjakan inflasi di Amerika Serikat menyebabkan harga gas hingga pangan naik drastis. Ribuan keluarga pun berbondong-bondong mengantre makanan bantuan di bank pangan setiap harinya. Ribuan keluarga itu mengantre setiap harinya di sejumlah organisasi bank makanan yang tersebar di berbagai penjuru Negeri Paman Sam. Juru bicara Bank Makanan St. Mary, Jerry Brown, mengatakan bahwa lebih dari 900 keluarga berbaris di berbagai cabang organisasi mereka setiap harinya. (CNNIndonesia.com , 15/7/2022).
Sebagaimana, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2022 sebanyak 26,16 juta orang. Persentase penduduk miskin terbanyak di pulau Jawa yaitu 52,96 persen. Menurut Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers virtual pada Jumat, 15 Juli 2022, Beliau menyampaikan bahwa total penduduk miskin di Jawa yang tercatat sebanyak 13,85. Angka tersebut turun 9,61 persen terhadap September 2021. (Bisnistempo.com , 15/7/2022).
Dunia mengalami stagflasi tak terkecuali Amerika Serikat (AS) sebagai negara besar yang dianggap maju. Terjadinya sebuah keguncangan ekonomi di sebuah wilayah memang sesuatu yang biasa terjadi. Akan tetapi, jika guncangan terus terjadi secara periodik dan berulang seperti hari ini. Jelas kondisi tersebut membuktikan kegagalan sistem ekonomi yang sedang diterapkan. Ketika dunia mengalami stagflasi maka akan memberikan pengaruh terhadap negara yang mengadopsi sistem yang sama seperti negara yang diikutinya.
Sebagaimana sistem ekonomi global saat ini adalah hasil dari sistem kapitalisme. Sistem ekonomi inilah yang diadopsi oleh Amerika Serikat termasuk negara pengikutnya, salah satunya adalah negara Indonesia. Sistem ekonomi kapitalisme berdiri diatas pilar sistem mata uang kertas, sistem utang-piutang berbasis ribawi, dan sistem investasinya berbasis pada perjudian.
Sistem ekonomi kapitalisme juga hanya berorientasi pada materialistik semata. Sistem ekonomi ini memberikan ruang bebas dan kesempatan pengelolaan sumber daya alam (SDA) kepada para oligarki korporasi kapital serta negara hanyalah sebagai fasilitator bagi mereka untuk mengelola dan meraup keuntungan (profit) atas sumber daya alam (SDA) negara.
Alhasil, negara-negara pengadopsi sistem ini akan mengalami resesi bahkan guncangan yang cukup dahsyat di setiap aspek perekonomian negerinya. Problem-problem kehidupan tersebab resesi bahkan stagflasi ekonomi ini mengakibatkan kemiskinan makin merebak, utang negeri makin melonjak, kebutuhan pokok kian melambung dan problem sebagainya. Sehingga pertumbuhan ekonomi negara akan sulit naik dan baik.
Padahal pertumbuhan ekonomi ibarat gelembung semakin lama semakin membesar sehingga sangat rentan untuk meledak. Sistem ekonomi kapitalisme memiliki karakter untuk mengalami krisis secara periodik berulang, mengikuti gelombang konjungtur. Sedangkan manusia yang tak mampu penuhi kebutuhan dasar bukan hanya di negara berkembang tapi juga negara maju. Ini bukti kegagalan membangun kesejahteraan dengan kapitalisme, dunia membutuhkan solusi hakiki sebagai panduan dan sumber membangun masyarakat yang anti krisis, sejahtera dan adil.
Kemudian setelah mengalami krisis, maka sistem ini akan memiliki kemampuan memulihkan diri dan secara fakta pun demikian. Sistem ini menawarkan berbagai solusi namun nyatanya tak pernah berhasil keluar dari lubang resesi bahkan stagflasi.
Sepanjang sejarah ekonomi kapitalisme selama ini berjalan bahwa ekonomi kapitalisme berkali-kali diterjang berbagai badai krisis ekonomi. Bersamaan saat terjadi pandemi Covid-19 dan konflik Rusia-Ukraina telah melucuti kebobrokan sistem kapitalisme untuk setiap kalinya hingga dunia jatuh pada kondisi resesi bahkan stagflasi. Maka, tak salah jika umat membutuhkan solusi hakiki dalam mengeluarkan negeri ini dari rusaknya sistem ekonomi kapitalisme hari ini yang menjadi biang kerok persoalan perekonomian negeri dan kesengsaraan kehidupan masyarakat.
Islam Solusi Hakiki
Sistem ekonomi kapitalisme telah terbukti mengalami resesi bahkan stagflasi. Tak ada harapan bagi umat untuk tetap berharap bahkan bertahan pada sistem ini. Umat membutuhkan sistem kepemimpinan alternatif lain yang mampu menjamin kestabilan ekonomi dan membawa kesejahteraan hidup bagi manusia. Sistem alternatif ini adalah sistem Islam, yakni khilafah islamiyah.
Khilafah islamiyah yang mengadopsi asas Islam sebagai aturan bagi negara. Maka, pengelolaannya pasti akan sesuai syariah Islam.
Khilafah memiliki konsep ekonomi yang khas, yaitu :
Pertama, khilafah akan menjamin kebutuhan pokok masyarakatnya secara tidak langsung dengan menyediakan lapangan pekerjaan. Sedangkan kebutuhan dasar publik seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan akan dijamin langsung oleh khilafah sehingga tidak ada komersialisasi oleh pihak lain dan masyarakat bisa memanfaatkannya secara gratis. Konsep ini akan memberi jaminan kesejahteraan untuk rakyat.
Kedua, khilafah memiliki sistem moneter yang stabil berbasis dinar dan dirham. Mata uang ini stabil karena didukung oleh nilai intrinsiknya.
Ketiga, khilafah memiliki sistem fiskal yang stabil berbasis baitul maal. Baitul maal adalah lembaga keuangan yang memiliki tiga pos pemasukan, yaitu pos kekayaan milik negara, seperti harta kharaj, fai, usyur, jizyah, ghanimah, ghulul dan sebagainya. Pos kekayaan milik umum yang berasal dari has pengelolaan sumber daya alam. Pos zakat dan sadaqah yang bersumber dari zakat fitrah, zakat maal, sadaqah, infak dan wakaf kaum Muslimin. Setiap pos baitul maal memiliki jalur pengeluaran masing-masing sehingga negara memiliki anggaran yang lebih dari cukup menjamin kebutuhan masyarakat tanpa hutang dan pajak seperti negara yang menerapkan ekonomi kapitalis.
Keempat, khilafah mengharamkan praktik ribawi, spekulan dan sejenisnya. Khilafah tidak akan membiarkan sektor nonriil seperti pasar saham, investasi, dan sejenisnya untuk berkembang. Ekonomi dalam daulah khilafah berbasis pada ekonomi sektor riil, hal ini berlaku bagi perdagangan dalam maupun luar negeri. Sehingga aktivitas perekonomian masyarakat akan stabil.
Oleh karena itu, konsep ekonomi seperti inilah yang akan diterapkan negeri Khilafah Islamiyah untuk menciptakan ekonomi yang stabil yang berujung pada kesejahteraan masyarakat. Bukankah pengaturan dan pengelolaan seperti ini yang kita harapkan? Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






