Opini

Polemik Dana Sumbangan, Indikasi Mahalnya Biaya Sekolah

Pendidikan gratis bisa diraih dengan menerapkan Islam secara kafah. Sistem yang akan menghasilkan individu-individu yang berkepribadian Islam. Tidak hanya mampu mencetak individu-individu yang bertakwa, namun mampu menghasilkan penemuan-penemuan yang menjadi solusi bagi umat dan mendekatkan umat pada pencipta-Nya.


Oleh Tita Rahayu Sulaeman

JURNALVIBES.COM – Sejumlah orangtua siswa salah satu SMA negeri di Bandung mengaku mendapat perlakuan yang kurang mengenakan karena belum membayar sumbangan pendidikan ke sekolah. Hal itu terjadi dalam sebuah forum yang dihadiri orangtua siswa, guru, kepala sekolah dan komite sekolah.

Awalnya kepala sekolah menjelaskan program-program sekolah pada orang tua murid. Usai menjelaskan program-program sekolah, guru dan kepala sekolah diminta untuk keluar ruangan, acara diambil alih oleh komite sekolah. Orangtua siswa yang belum membayar diminta duduk terpisah. Saat itulah ketua komite sekolah melontarkan kata-kata yang bernada merendahkan pada orang tua siswa yang belum membayar sumbangan sekolah. Sementara orang tua yang telah membayar sumbangan sekolah mendapatkan perlakuan yang berbeda (detik.com, 13/09/2022).

Sekolah negeri masih menjadi pilihan karena bersekolah di sekolah milik negara diharapkan tidak akan membutuhkan biaya sebanyak bersekolah di sekolah-sekolah swasta. Diharapkan ada peran negara dalam membiayai segala kebutuhan sekolah negeri, baik sarana prasarana maupun untuk keperluan program-program pengembangan agar sekolah mampu meningkatkan kualitas pendidikan terhadap para siswanya.

Berbeda dengan sekolah swasta, di mana pendanaan sekolah bertumpu pada dana yang diperoleh dari banyaknya siswa yang mendaftar. Namun pada faktanya, bersekolah di sekolah milik negara pun membutuhkan biaya yang tak sedikit. Orangtua siswa diminta berkontrubusi pada sekolah dengan memberikan sejumlah sumbangan.

Pendidikan Gratis dan Berkualitas Masih Sebatas Impian

Polemik yang terjadi di salah satu SMA negeri di Bandung mengindikasikan bahwa biaya pendidikan tidaklah murah sekalipun bersekolah di sekolah negeri. Bagi orang tua yang penghasilannya tidak menentu, atau dengan penghasilan yang sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tak jarang biaya pendaftaran sekolah menjadi hal yang memberatkan.

Meskipun iuran bulanan di sekolah negeri telah digratiskan, namun faktanya ada biaya sumbangan sekolah yang jumlahnya tidak sedikit. Ada biaya lainnya seperti seragam dan buku-buku. Bagi si miskin, bisa bersekolah adalah barang mewah.

Pendidikan gratis dalam kehidupan kapitalisme saat ini menjadi suatu hal mustahil. Negara hanya mampu meringankan dengan menggratiskan iuran bulanan pada jenjang sekolah SD-SMP-SMA. Sementara untuk sarana prasarana, serta fasilitas penunjang pembelajaran tidak mampu diberikan secara penuh dan merata di seluruh pelosok negeri.

Anggaran pendidikan yang ditetapkan negara mencapai 20 % dari total RAPBN. Namun ternyata angka ini tidak cukup untuk mewujudkan pendidikan gratis berkualitas ke seluruh pelosok negeri. Anggaran yang terbatas selalu bisa menjadi alasan. Tidak mengherankan, karena pemasukan utama negara bertumpu hanya pada hutang dan pajak.

Pendidikan adalah Hak Seluruh Rakyat

Islam adalah agama yang sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Termasuk dalam hal mengelola negara. Dalam pandangan Islam, pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya. Sudah menjadi kewajiban bagi negara untuk memberikan pndidikan berkualitas pada rakyatnya. Bahkan secara gratis. Dalam pandangan Islam, pendidikan adalah salah satu hak dasar rakyat yang harus dipenuhi.

Untuk mewujudkan pendidikan berkualitas, memang banyak faktor yang perlu diperhatikan. Tidak hanya berbicara sarana dan prasarana, tapi juga kurikulum yang ditetapkan negara adalah kurikulum yang berlandaskan Islam.

Kompetensi para pengajar dan kesejahteraannya wajib diperhatikan oleh negara. Selain itu, perlu solusi yang terintegrasi dengan bidang ekonomi agar negara memiliki kas yang cukup untuk memenuhi seluruh hak dasar rakyat. Semua itu hanya akan dipandang sebagai beban negara, bila tidak menggunakan Islam sebagai landasan dalam mengelola negara.

Anggaran pendidikan dalam sistem Islam berasal dari baitul maal yaitu pos fa’i, kharaj, dan pengelolaan sumber daya alam yang merupakan kepemilikan umum.

Kompetensi para pengajar dan kesejahteraannya wajib diperhatikan oleh negara. Selain itu, perlu solusi yang terintegrasi dengan bidang ekonomi agar negara memiliki kas yang cukup untuk memenuhi seluruh hak dasar rakyat. Semua itu hanya akan dipandang sebagai beban negara, bila tidak menggunakan Islam sebagai landasan dalam mengelola negara.

Anggaran pendidikan dalam sistem Islam berasal dari baitul maal yaitu pos fa’i, kharaj, dan pengelolaan sumber daya alam yang merupakan kepemilikan umum.

Pendidikan gratis bisa diraih dengan menerapkan Islam secara kaffah. Tidak hanya gratis, ketika Islam dijadikan landasan pendidikan, maka akan menghasilkan individu-individu yang berkepribadian Islam. Tidak hanya mampu mencetak individu-individu yang bertakwa, namun mampu menghasilkan penemuan-penemuan yang menjadi solusi bagi umat dan mendekatkan umat pada pencipta-Nya. Wallahu a’lam bishawwab []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by unsplash.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button