Menilik Penyebab Mental Illness, Maraknya Angka Bunuh Diri

Sebagai agama yang sempurna, Islam memiliki aturan yang dapat menyelesaikan permasalahan generasi, termasuk gangguan mental. Penyakit ini sebetulnya lahir dari peradaban Barat yang memiliki pandangan sekuler kapitalisme. Akan tetapi, berbeda dengan kapitalisme, Islam memiliki gambaran ideal mengenai karakter pemuda.
Oleh Drg. Endartini Kusumastuti
(Praktisi Kesehatan Kota Kendari)
JURNALVIBES.COM – Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan maraknya kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia. Mengutip kompas, (13/3/2013), seorang mahasiswi Universitas Indonesia (UI) berinisial MPD (21) ditemukan tewas di sebuah apartemen kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Korban diduga bunuh diri dengan melompat dari lantai 18 apartemen tersebut, Rabu (8/3/2023).
Kasus ini tidak sendiri, melansir okezone (24/3/2023), Kasus serupa terjadi dalam waktu yang berdekatan. Seorang warga Dusun Wirokerten RT 02 Banguntapan, Bantul, DIY, ditemukan gantung diri di dapur rumahnya, Kamis (9/3/2023). Di atas hanya dua kasus dari sekian kasus yang terjadi di awal tahun ini. Makin berderetnya angka bunuh diri yang terjadi di Indonesia, bisa jadi empat kali lebih besar daripada data resmi. WHO sendiri menyatakan bunuh diri adalah penyebab kematian terbesar keempat di antara orang-orang berusia 15—29 tahun di seluruh dunia pada 2019.
Fenomena Bunuh Diri, Apa Penyebabnya?
Peningkatan tren angka bunuh diri ini makin membuat miris karena tidak hanya ‘menyerang’ kalangan dewasa tapi juga anak dan remaja. Apalagi makin meningkat pascapandemi Covid-19. Bentuk gangguan mental menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) antara lain depresi, bipolar, kecemasan, gangguan makan, dan skizofrenia. Bahkan, orang yang mengalami gangguan mental bisa sampai melakukan bunuh diri.
Mengutip laman resmi Kementerian Kesehatan (6/902022), penyebab utama bunuh diri adalah kondisi depresi pada individu. Depresi merupakan problem kesehatan masyarakat yang cukup serius. WHO menyatakan bahwa depresi berada pada urutan nomor empat penyakit di dunia dan diprediksi akan menjadi masalah gangguan kesehatan yang utama. Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), sebuah survei kesehatan mental nasional pertama, pada Oktober 2022 merilis angka kejadian gangguan mental pada generasi muda 10—17 tahun di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa satu dari tiga anak muda Indonesia memiliki masalah mental health (kesehatan mental), sedangkan satu dari dua puluh anak muda Indonesia memiliki gangguan mental dalam 12 bulan terakhir.
Riset dari Institute for Health Metrics and Evaluation University of Washington terkait Global Burden of Disease (GBD) 2019 menunjukkan bahwa gangguan kesehatan mental menjadi 10 penyebab teratas beban penyakit di seluruh dunia. (The Conversation, 11/10/2022).
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), 80% kasus bunuh diri di Indonesia dilakukan oleh remaja dan faktor terbesarnya adalah putus cinta, disusul faktor ekonomi, keluarga, dan lingkungan sekolah.
Semua data tersebut tentu membuat kita miris. Remaja yang semestinya menjadi generasi penerus, ternyata mengalami krisis jati diri yang begitu parah. Alam kehidupan saat ini yang didominasi sekularisme memang begitu berat, selain krisis jati diri juga tampak jelas dari rendahnya taraf berpikir hingga manajemen pengelolaan kesehatan jiwa . Ibarat kata, mental generasi muda saat ini cenderung sebagaimana “mental tempe”. Kematangan emosinya di titik nadir. Sosoknya mudah depresi, pragmatis terhadap dinamika kehidupan, perjuangan hidupnya salah arah, bahkan mereka jauh dari karakter problem solver. Parahnya, mereka malah menjadikan bunuh diri sebagai solusi.
Sejak 1992, World Federation of Mental Health (WFMH) dibentuk untuk memberi perhatian khusus mengenai isu kesehatan mental dunia. Para pendiri WFMH awalnya memahami perlu adanya tindakan global untuk menanggulangi kerusakan mental. Program yang dilaksanakan berupa sosialisasi ke negara-negara dunia mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental dan mendorong agar memfasilitasi dan melakukan perbaikan penanganan seputar kesehatan mental. Namun, semua itu sejatinya bukan solusi mengatasi masalah kesehatan mental. Solusi tersebut sebatas solusi parsial yang tidak menyelesaikan masalah hingga akarnya. Buktinya, sudah lebih dari 20 tahun melakukan edukasi, angka gangguan mental tetap saja bertambah.
Banyak yang menolak bahwa mental illness disebut lemahnya iman dan minim daya juang. Padahal, tindakan bunuh diri memang nyata-nyata bukti rendahnya kualitas tawakal, alih-alih ada kesadaran kuat akan hubungan dengan Sang Khalik. Namun terlepas dari rendahnya keimanan yang dimiliki, yang menjadi pencetusnya tentu kondisi sistemik yang sekuler ini. Sayangnya, fenomena serta maraknya bunuh diri tidak menjadi perhatian penguasa untuk diselesaikan dengan mendekatkan generasi muda pada pemikiran-pemikiran Islam kafah.
Alih-alih mencari solusi bagi kesehatan mental di kalangan masyarakat, justru menyebarkan ide Islam kaffah adalah ide yang radikal. Masyarakat dicekokkan dengan ide moderasi beragama, dijauhkan dari nilai-nilai Islam. Bahkan pendekatan yang dijadikan solusi adalah humanism. Self healing yang berujung pada egosentris di kalangan remaja. Humanism yang dilontarkan oleh WHO jelas kebablasan. Bagaimana hak-hak dirinya harus dipenuhi dan dilampiaskan agar tidak mengendap dan menjadi emosi yang tidak diarahkan dengan benar. Bahkan sampai membuat orang lain tidak boleh ikut campur terhadap apa yang terjadi pada dirinya.
Namun, alih-alih bermanfaat bagi diri dan keluarga, mereka malah serupa beban. Lihat saja fenomena generasi Z yang terkenal dengan sebutan “generasi stroberi”, psikis mereka begitu lemah. Jadilah mereka menjadi “generasi mental illness“.
Butuh Support System Bagi Mental Health
Keluarga yang seharusnya menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya dan tempat ternyaman bagi seluruh anggota keluarganya. Nyatanya, fungsi rumah ini sudah sedemikian langka. Ibu yang seyogianya menjadi guru pertama bagi anak-anaknya dan orang yang memberikan limpahan kasih sayang, malah sibuk di luar rumah membantu ekonomi keluarga. Para ayah yang seharusnya hadir menjadi teladan para anak-anaknya pun malah absen. Fungsi ayah dikerdilkan sebatas pencari nafkah yang pergi sebelum anak-anak bangun dan pulang setelah mereka tidur. Padahal, ayah turut bertanggung jawab terhadap pembentukan kepribadian anak-anak mereka. Pola komunikasi yang buruk ditambah dangkalnya agama juga mengantarkan keluarga pada perceraian. Bukankah ini semua menjadi pintu menuju terganggunya mental si anak?
Faktor selanjutnya adalah sekolah yang yang seharusnya menjadi tempat terbaik bagi anak-anak membangun kepribadiannya, malah menjadi tempat perundungan merajalela. Padahal, korban perundungan sangat rentan terkena gangguan mental. Sistem pendidikan berasaskan sekularisme juga terbukti menjauhkan anak-anak dari agamanya. Sudahlah jam pelajaran agama hanya sedikit, ditambah dengan program moderasi yang terus ditancapkan. Semua ini tentu dapat membuyarkan ajaran Islam yang sesungguhnya, padahal agama adalah pedoman hidup manusia.
Jika generasi sudah tidak mengenal agamanya, jangan heran jika mereka menjelma menjadi individu-individu labil yang tidak mengenal jati diri. Mereka tidak bisa memahami hakikat penciptaan ataupun tujuan hidupnya. Perjuangan yang harus mereka kejar pun menjadi samar. Bukankah ini pula yang menjadikan seseorang rentan terkena gangguan mental?
Lebih jauh lagi, generasi mental illness ini bisa menjelma menjadi sampah masyarakat. Terkena gangguan mental saat usia sekolah jelas berdampak pada proses pembelajaran. Alih-alih bergairah untuk belajar, mereka malah bersemangat untuk melakukan aktivitas nirfaedah, bahkan kemaksiatan, seperti pacaran, seks bebas, narkoba, dsb. Bukankah jika saat usia sekolahnya saja sudah begitu, tentu masa depannya akan lebih suram? Inilah sebab mereka mudah sekali menjadi sampah masyarakat.
Sistem sosial yang disetir kapitalisme telah nyata menciptakan kerusakan pada manusia. Kehidupan liberal yang serba bebas menjadikan manusia merasa bisa berbuat semaunya. Tidak peduli perbuatannya menzalimi sekitar atau tidak, atas nama HAM, perbuatan itu akan terus dilakukan selama merasa puas dan bahagia. Makna kebahagiaan ini pun hanya digantungkan pada kepuasan jasadi, merasa bebas berekspresi dalam semua hal. Bukankah ini pula yang akan mengantarkan pada terciptanya gangguan mental semacam bipolar disorder?
Selain itu, teknologi informasi yang disetir peradaban kapitalisme turut menciptakan penyakit gangguan mental anti-social personality disorder (ASPD). Lihat saja, betapa banyak remaja yang tidak peduli sekitar tersebab mengidap gangguan antisosial yang dipicu oleh kecanduan gawai. Padahal, manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Namun, kapitalisme merusak fitrah tersebut. Jika sudah begini, mereka hanya akan menjadi sampah bahkan predator yang siap melakukan onar.
Kondisi ekonomi kian terpuruk. Kesejahteraan masyarakat kian hilang. Para ayah makin sulit mencari kerja. Kaum perempuan pun dituntut membantu ekonomi keluarga hingga mengabaikan kewajiban utamanya di rumah. Pendidikan di sekolah juga kian sekuler. Tatanan sosial makin rusak. Semua itu adalah konsekuensi diterapkannya kapitalisme dalam seluruh kehidupan, termasuk bernegara. Artinya, seluruh faktor yang mendukung terwujudnya gangguan mental di kalangan remaja sejatinya berpangkal dari penerapan kapitalisme.
Disadari atau tidak, kapitalisme telah menjadi platform penguasa dalam mengatur rakyatnya. Kebijakan yang ditetapkan dalam upaya menyelesaikan persoalan gangguan mental pada remaja nyatanya mandul karena tidak menyentuh akar persoalan. Kebijakan menghadirkan bimbingan konseling di sekolah-sekolah, misalnya, tentu tidak akan efektif. Ibarat kebakaran hutan, bimbingan konseling serupa air dari selang yang sangat kecil, tentu tidak akan mampu memadamkan api. Kapitalisme ibarat api tersebut yang telanjur merusak seluruh sendi kehidupan, termasuk menciptakan gangguan mental pada generasi. Oleh karenanya, satu-satunya solusi adalah mencabut kapitalisme dan menggantinya dengan sistem Islam.
Islam Menyelesaikan Gangguan Mental
Sebagai agama yang sempurna, Islam memiliki aturan yang dapat menyelesaikan permasalahan generasi, termasuk gangguan mental. Penyakit ini sebetulnya lahir dari peradaban Barat yang memiliki pandangan sekuler kapitalisme. Akan tetapi, berbeda dengan kapitalisme, Islam memiliki gambaran ideal mengenai karakter pemuda. Dalam Islam, pemuda tidak akan mengalami gangguan mental sebab sedari buaian ia kenyang akan kasih sayang orang tuanya. Sang ibu akan benar-benar menjalankan fungsinya sebagai ummun warabbatul bait. Ia akan serius mengurus anak-anaknya dan menjadikan rumah seolah baiti jannati. Artinya, dari rumah lah kebahagiaan dan ketakwaan akan disemai oleh seluruh anggota keluarga. Islam meniscayakan peran ayah dan ibu dalam institusi keluarga, berbeda dengan kapitalisme yang sarat akan fatherless dan motherless. Anak yang kenyang akan kasih sayang dan dididik dari ibu yang bersungguh-sungguh dalam pengasuhan, tentu akan menjadi kuat, stabil, dan bermental baja. Ini karena ia akan fokus pada tujuan dari hidupnya, yaitu beribadah kepada Allah Taala.
Pendidikan di sekolah pun berbasiskan akidah Islam yang akan melahirkan pemuda cerdas bersyakhsiyah Islam. Sedari dini, ia menimba ilmu tanpa direcoki dengan “gangguan mental”. Ia akan fokus belajar dan mendalami ajaran agamanya sebagai bekal hidup dan menjadi sebaik-sebaiknya manusia, yaitu yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Sistem sosial budaya Islam yang khas, yaitu budaya amar makruf, akan menjadikan setiap individu saling memperhatikan sesamanya. Perundungan tidak akan marak sebab semua anak paham bahwa menyakiti sesamanya adalah dosa besar.
Begitu pun sistem informasi yang berkembang, dikontrol penuh oleh negara sebab fungsi media adalah wasilah siar Islam yang akan makin menumbuhkan suasana keimanan di tengah masyarakat. Negara sebagai pengurus dan pelindung rakyatnya juga akan sigap terhadap seluruh permasalahan. Ia akan mengkaji secara bersungguh-sungguh atas problem rakyatnya, kemudian menetapkan kebijakan yang fokus pada penyelesaian masalah dan merujuk pada Al-Qur’an dan sunah. Maka tidak akan beredar konten-konten negatif yang cenderung merusak pemahaman remaja dan masyarakat pada umumnya.
Demikianlah gambaran solusi komprehensif dari Islam dalam mencegah dan mengatasi masalah mental pemuda Muslim hingga akhirnya lahirlah generasi tangguh secara massal. Semua dilandasi kecintaan pemimpin kepada rakyatnya untuk menjalankan fungsi negara sebagai pelindung atas rakyatnya. Solusi tersebut hanya dapat terwujud apabila sistem sekuler kapitalisme yang berjalan saat ini di seluruh dunia dicabut dari akarnya, lalu menggantinya dengan sistem Islam. Semua itu perlu usaha dan peran dari seluruh kaum Muslim untuk mewujudkannya.
Maka jelaslah, sistem dan negara sekuler telah menabung kesalahan besar karena aturan kehidupannya menghasilkan borok dan berbagai kebusukan yang menjadi atmosfer negatif sehingga memicu mental health yang rendah yang sekaligus memicu tingginya angka bunuh diri. Kapitalisme telah gagal memberikan kebahagiaan sejati bagi orang-orang yang bernaung padanya, alih-alih kesejahteraan hakiki. Sungguh, hanya Allah tempat berlindung.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami).” (QS Al-A’raf: 96)
Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by istockphoto.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






