Kasus Bullying Kembali Terjadi, Sistem Sekuler Biang Keladi

Islam memiliki seperangkat aturan sempurna yang berasal dalam Allah Sang Pencipta. Islam yang diterapkan secara sempurna dalam kehidupan akan menciptakan atmosfer kehidupan yang dilandasi keimanan kepada Allah Swt. Maka tidak heran jika pada peradaban Islam tercetak generasi yang saleh-salehah, berakhlak mulia, serta pandai akan ilmu dunia.
Oleh Nabila Sinatrya
JURNALVIBES.COM – Kasus bullying masih banyak terjadi. Parahnya tidak lagi memandang usia, siswa SD pun bisa menjadi pelakunya.
Mengutip dari detik.com (20/05/2023), Anak kelas 2 SD dianiaya oleh empat siswa dari kakak kelasnya dan temannya sendiri, sebagian mereka duduk di kelas 2, 4, dan 5 SD. Parahnya, korban yang dianiaya meninggal dunia setelah empat hari dirawat di rumah sakit. Berdasarkan keterangan dokter kepada keluarga, korban mengalami luka di bagian dada, punggung, kepala dan rahang.
Kasus bullying dan kekerasan pada anak masih menjadi ancaman. Banyak faktor yang memicu bullying di antaranya, kesalahan pola asuh keluarga, di mana peran orang tua sangat minim dalam mengasuh anak karena lebih sibuk dengan dunia luar rumah. Kurikulum pendidikan hari ini masih mengacu pada capaian angka sedangkan pendidikan karakter dan nilai agama dikesampingkan, sehingga anak tidak memahami benar dan salah dalam bersikap.
Tontonan yang sering dikonsumsi akan menjadi tuntunan bagi anak, termasuk kemudahan dalam mengakses segala sesuatu yang berbau kekerasan. Lingkungan pergaulan yang buruk juga mempengaruhi sikap dan perilaku anak. Serta sistem sanksi yang tidak memberikan efek jera bagi pelaku kekerasan.
Dalam catatan KPAI, terjadi kenaikan yang signifikan sepanjang tahun 2022 terhadap kasus perundungan (bullying), yaitu sebanyak 226 kasus atau meningkat empat kali lipat dibandingkan 2021. Survei Kemendikbud Ristek yang melibatkan 260 ribu sekolah di Indonesia di level SD/Madrasah hingga SMA/SMK terhadap 6,5 juta peserta didik dan 3,1 juta guru menyatakan bahwa terdapat 24,4% potensi perundungan di lingkungan sekolah. (sugawa.id, 20/5/2023)
Kasus perundungan ini menjadi bukti nyata akibat dari penerapan sistem sekulerisme, sistem yang menjauhkan generasi dari ketaatan kepada syariat Allah Swt. Sehingga untuk mengatasi persoalan ini tidak bisa hanya dengan himbauan kepada sekolah atau lingkungan sekolah, tapi dengan mengembalikan sistem kehidupan ini sesuai aturan Sang Pemilik Kehidupan.
Islam memiliki seperangkat aturan sempurna yang berasal dalam Allah Sang Pencipta. Islam yang diterapkan secara sempurna dalam kehidupan akan menciptakan atmosfer kehidupan yang dilandasi keimanan kepada Allah Swt. Maka tidak heran jika pada peradaban Islam tercetak generasi yang saleh-salehah, berakhlak mulia, serta pandai akan ilmu dunia.
Sistem pendidikan Islam akan mencetak individu yang memiliki mafahim (pemahaman), maqayis (tolok ukur), dan qanaat (penerimaan) sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Sehingga output generasi tercetak baik dari sisi pola pikir dan pola sikapnya.
Negara yang menerapkan sistem Islam akan mengontrol fungsi sosial media, tidak akan ada konten yang tidak bermanfaat untuk pembentukan generasi, termasuk yang berbau kekerasan dan pornografi. Selain itu, masyarakat yang terbentuk adalah masyarakat yang peduli bukan individualis.
Sebagaimana firman Allah di surah Al-Imran: 104 yang artinya:
“Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Perintah amar ma’ruf nahi munkar membuat masyarakat tidak segan untuk saling menasehati dan peka terhadap lingkungan sekitar, sehingga bibit-bibit pelanggaran akan mudah terdeteksi. Dukungan dari masyarakat dan negara dalam mendidik generasi membuat pola asuh orang tua terhadap anak pun akan berubah, tercipta keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang.
Pengaturan masalah bullying secara integral oleh negara akan menutup celah-celah kejahatan, generasi tak lagi terbayangkan untuk merendahkan orang lain. Sejarah mencatat, dalam peradaban Islam para pemuda berteman tanpa memandang latar belakang sosialnya. Seperti Abdullah bin Mas’ud, dia berprofesi sebagai penggembala kambing dan sahabat lain sangat menghormati beliau. Terbukti bahwa tidak ada sistem yang berhasil mengatasi bullying kecuali hanya dengan Islam yang diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






