Opini

Omicron Mendunia, Kapitalis Gagal Menghentikan Pandemi

Dengan adanya penguncian wilayah, maka wabah tidak akan tersebar ke wilayah sekitar, dan aktifitas tetap normal. Sehingga pandemi pun dapat segera teratasi.


Oleh Nita Savitri

JURNALVIBES.COM – Sudah dua tahun pandemi berlalu, namun belum muncul tanda usai. Kemunculan varian baru Omicron di Afrika Selatan membuat dunia masih dihantui virus yang selalu bermutasi ini.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan kemunculan varian Omicron (B.1.1.1.529) sebagai VoC (Varian of Concern) yaitu varian yang mengkhawatirkan. Sehingga diserukan kepada semua negara untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculannya. Para epidemiologi menyatakan varian Omicron ini memiliki 500% daya penularan lebih tinggi dibanding virus corona asli yakni SARS CoV-2, yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok pada penghujung 2019 (Kontan.co.id, 13/12/21).

Dilaporkan 57 negara sudah terpapar varian Omicron, termasuk Inggris dan Amerika. Sedangkan untuk negara Asia, tercatat 11 negara yang sudah melaporkan kasusnya, termasuk Singapura dan Malaysia. Analisis awal WHO analisis awal menunjukkan mutasi Omicron dapat mengurangi aktivitas penetralan antibodi . Hal ini bisa mengakibatkan berkurangnya perlindungan dari kekebalan alami (Katadata.co.id, 9/12/21). Menkes, Budi Gunadi mengumumkan bahwa varian B.1.1.529 atau Omicron pun kini telah terdeteksi di Indonesia, walau masih satu kasus. Pendeteksian bermula pada seorang petugas kebersihan yang bertugas di RS Wisma Atlet. Walau tidak menimbulkan gejala berat, namun pasien tetap menjalani karantina, sampai akhirnya hasil PCR-nya negatif (Kompas.com, 16/12/21).

Walaupun keberadaan vaksin sudah direalisasikan di negara-negara maju, ternyata Corona virus masih bisa bermutasi. Dari satu inang manusia yang tertular berpindah ke manusia lain yang menjadi korban. Apalagi adanya mobilitas tinggi masyarakat sekarang, menyebabkan mereka menjadi lengah terhadap prokes.

Gelombang Pandemi

Pandemi Covid-19 yang menimpa hampir seluruh negara dunia, masih menunjukkan kehebatannya dengan bayangan melonjaknya angka kematian dan pasien rumah sakit. Seakan tidak mampu membendung penyebaran virus kasat mata ini, gelombang demi gelombang pandemi harus terpaksa dihadapi oleh manusia sedunia.

Dari awal kemunculannya pada akhir 2019 di Wuhan, Cina yang merupakan gelombang pertama dan merebak ke negara sekitar sampai lintas benua. Indonesia pun, yang semula menganggap tidak akan terkena virus ini, ternyata terpapar juga. Kasus penemuan penderita Covid-19 semula ditemukan tiga orang dari satu keluarga di Bekasi. Namun menjadi membesar hingga tembus 5000/hari. Hal ini semakin bertambah dari hari ke hari disebabkan oleh beberapa hal.

Pertama, kebijakan yang berubah, tidak konsisten dalam penanganan, membuat penderita semakin melonjak. Dimulai dari PSBB (Pembatasan Skala Berskala Besar) berupa penghentian aktivitas di luar rumah. Dilanjut dengan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) yang berlangsung pada Januari 2021, sebagai puncak gelombang pertama.

Berikutnya adanya varian Delta yang pertama muncul di Bangkalan, Jawa Timur, mengawali munculnya gelombang kedua. Setelah libur lebaran, kasus Covid-19 semakin memuncak pada Juni-Juli 2021. Hal ini karena mobilitas yang tinggi tanpa adanya protokol kesehatan. Ditambah belum terdapat vaksin di masyarakat luas.

Kedua, adanya pertimbangan pemulihan ekonomi membuat kebijakan gas rem. Kadang diperketat jika kasus melonjak, dan diperlonggar jika kasus turun. Padahal, penurunan kasus belum menunjukkan selesainya pandemi. Namun, alasan ekonomi, membuat pemerintah membuka pariwisata, mengijinkan wisatawan asing masuk. Walau penyelenggaraan vaksin sudah berjalan, namun peluang penularan masih ada.

Ketiga, rendahnya tes dan tracing (penelusuran). Jangkauan tes dan tracing masih di bawah standar WHO, yaitu 1:30. Artinya dari satu orang yang positif akan dilakukan tes kepada 30 orang yang kontak. Sedangkan untuk tes 1:1000 orang penduduk.

Walaupun saat ini, varian omicron belum terdeteksi, namun adanya pandemi belum berakhir. Adanya pandemi semestinya bisa diatasi secara cepat jika penanganannya dilakukan secara tepat.

Solusi Islam Menuntaskan Pandemi

Pandemi sudah dikenal sejak dahulu. Adanya penyakit yang tersebar luas, karena penularan yang cepat. Di zaman Rasulullah dan para sahabat, telah menggunakan cara yang tepat dalam penanganannya. Walau teknologi kedokteran masih sederhana, namun adanya kebijakan yang konsisten menyebabkan pandemi terselesaikan.

Waktu itu di Syam, terserang wabah penyakit kusta, maka Khalifah Umar bin Khattab membatalkan kunjungan ke Syam. Beliau memerintahkan agar tidak ada yang boleh mendatangi Syam, sementara penduduk Syam dilarang keluar. Kebijakan tersebut dikenal dengan penguncian wilayah/lockdown. Cara ampuh dalam penanganan pandemi.

Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah yang artinya, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Selama berjalannya lockdown, negara akan menjamin semua kebutuhan hidup penduduk wilayah tersebut, hingga berakhirnya pandemi. Sehingga dengan adanya penguncian wilayah, maka wabah tidak akan tersebar ke wilayah sekitar, dan aktivitas tetap normal. Sehingga pandemi pun dapat segera teratasi. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button