Opini

Kenaikan UKT Dibatalkan, Terbitlah Pinjol Pendidikan

Islam menjadikan negara sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas segala pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, termasuk di dalamnya memberikan kesejahteraan dan komitmen dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Dengan landasan berpikir seperti ini maka akan timbul pengayoman yang manusiawi dari negara. Memberikan solusi bagaimana agar masyarakat dengan mudah mengaksesĀ pendidikan.


Oleh Hany Handayani Primantara, S.P.
(Pendidik Generasi)

JURNALVIBES.COM – Pembatalan kenaikan UKT memang telah resmi diputuskan oleh pemerintah beberapa waktu lalu, namun ternyata masyarakat belum bisa bernafas lega. Faktanya pembatalan UKT kemarin bukan dinilai karena bentuk prihatin pemerintah kepada sebagian kalangan masyarakat yang ingin melanjutkan kuliah, melainkan hanya sekadar penundaan kebijakan agar tidak terjadi protes besar.

Hal ini nampak pada pandangan pemerintah tentang solusi bagi masyarakat yang terkendala uang kuliah untuk beralih pada pinjaman online. Saat kenaikan UKT dibatalkan terbitlah pinjol (pinjaman online) pendidikan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy. Beliau berpandangan bahwa sistem pinjaman online (pinjol) melalui perusahaan P2P lending di lingkungan akademik adalah bentuk inovasi teknologi. (Tirto, 03/07/24)

Rusaknya Paradigma Berfikir dalam Sistem Sekuler

Pernyataan di atas sebenarnya tidak layak disampaikan oleh seorang menteri. Bagaimana mungkin seorang menteri yang notabene adalah orang berpendidikan tinggi justru memberikan saran yang tidak masuk logika. Ibarat pepatah “keluar dari lubang buaya, malah masuk kandang singa”. Sikap pejabat yang demikian menunjukkan rusaknya paradigma berpikir di kalangan akademisi, sekaligus menunjukkan rusaknya paradigma kepemimpinan dalam sistem sekuler kapitalisme yang malah mendukung pengusaha pinjol. Pola pikir seperti ini kelak akan mengantarkan pada kerusakan tatanan masyarakat.

Pinjol dalam sistem Islam jelas keharamannya. Maka masyarakat akan dengan tegas menghindarinya bagaimana pun kondisinya. Berbeda dalam sistem seluler, tidak ada batasan yang jelas tentang boleh dan tidaknya suatu aktivitas. Walhasil ketika masyarakat dihadapkan pada masalah yang makin bertumpuk, mereka seakan tidak memiliki ruang untuk berfikir logis. Kemiskinan terstruktur secara materi saat ini membuatnya berpikir pragmatis. Perlahan tapi pasti hal ini akan merusak pola hidup masyarakat dan terbiasa berharap pada pinjol di setiap masalah.

Faktor akses terhadap pinjol yang dipermudah bahkan difasilitasi, hal ini menambah daya tarik tersendiri. Di samping pandangan pinjol merupakan inovasi teknologi di lingkungan akademik, menjadi gambaran seakan pemerintah memberi dukungan terhadap masyarakat yang terjerat pinjol. Menganggap pinjol adalah bagian dari kemajuan teknologi yang harus dimanfaatkan dengan baik yakni untuk memenuhi kebutuhan sektor pendidikan. Analoginya seperti seorang ibu yang menggiring anaknya untuk masuk jurang.

Dari sini tampak jelas kegagalan negara dalam mengayomi masyarakat dari sektor pendidikan. Sebab pendidikan adalah bagian penting yang harus menjadi perhatian penuh demi terwujudnya generasi cerdas yang mampu membangkitkan negara. Sikap pejabat yang demikian menunjukkan lepas tangan mereka terhadap tanggung jawabnya sebagai abdi negara yakni pelayan umat. Di mana tugas utamanya adalah memenuhi seluruh kebutuhan umat agar umat menjadi sejahtera hidup di negaranya sendiri.

Benahi Paradigma Berpikir dengan Islam

Islam menjadikan negara sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas segala pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, termasuk di dalamnya memberikan kesejahteraan dan komitmen dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Dengan landasan berpikir seperti ini maka akan timbul pengayoman yang manusiawi dari negara. Memberikan solusi bagaimana agar masyarakat dengan mudah mengakses pendidikan. Bukan dengan menjadikan pendidikan sebagai ladang bisnis yang bertujuan mencari untung, kemudian menyarankan masyarakatnya bergantung pada pinjol.

Islam pun menetapkan bahwa pejabat pemerintahan adalah salah satu teladan bagi masyarakat. Maka selayaknya teladan, mereka akan dituntut untuk mampu memimpin masyarakat dengan ketaatannya terhadap syariah. Begitu pula dalam menunjukan sikap serta pendapat, yang mereka sampaikan tak jauh dari hukum syara sebagai acuannya. Termasuk ketika menjadikan pemanfaatan teknologi, yang diambil akan sesuai dengan tuntunan syariat bukan dari yang lainnya. Saat masyarakat taat syariat maka yang didapatkan bukan hanya kehidupan penuh berkat melainkan rasa tenang dan jaminan akhirat yang pasti menghadirkan suasana senang. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by bingdesigner.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button