Mitigasi Gempa dan Takwa, Rumus Tentram Menghadapi Bencana

Islam memahami bahwa segala yang terjadi dalam kehidupan terdapat tujuan dan sebab yang menyertainya, bukan semata-mata fenomena alam. Sebaliknya mereka akan melakukan muhasabah dan menjauhkan dirinya dan umat dari segala bentuk maksiat kepada Allah Swt.
Oleh Nurul Adha
JURNALVIBES.COM – Kabar duka kembali melengkapi jalannya hari-hari pada tahun yang baru. Bagaimana tidak, pasalnya hingga 17 januari 2022, pulau Jawa saja tercatat telah diguncang 11 gempa signifikan, ditambah dengan bencana banjir, dan lain sebagainya di belahan wilayah yang lain negeri ini (pikiranrakyat.com, 22/01/2022).
Adapun gempa yang sempat sangat menghebohkan salah satunya yaitu gempa yang beberapa waktu lalu menimpa warga Banten dan sekitarnya. Gempa magnitudo yang berkekuatan 6,6 di Pandeglang, Banten, ini menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengakibatkan sebanyak 3.078 unit rumah rusak, yaitu 395 unit rusak berat, 692 unit rusak sedang, dan 1.991 unit rusak ringan (suara.com, 21/01/2022).
Diperkirakan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun Irwan Meilano, Pakar Kegempaan Institut Teknologi Bandung (ITB), menyatakan bahwa dampak kerusakan ini justru menunjukkan bahwa konsep “desa tangguh bencana” yang dicanangkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) baru sebatas “jargon” semata. Sebab, gempa Banten ini tergolong berintensitas sedang. Maka seharusnya tidak sampai menimbulkan kerusakan separah yang terjadi. Beliau menilai hal ini membuktikan bahwa ancaman gempa megathrust yang mungkin muncul belum mampu diimbangi oleh sistem mitigasi saat ini, sehingga hal inilah yang perlu dibenahi.
Terlebih Girgi Jantoro, Pelaksana Tugas Kepala BPBD Pandeglang, membenarkan bahwa penyebaran informasi terkait evakuasi bencana masih belum berjalan secara optimal. Sebab sejumlah titik di wilayah tersebut belum terjangkau oleh jaringan komunikasi. Hal ini menunjukkan belum utuhnya pemahaman masyarakat sekitar terkait risiko dan apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi, di mana hal ini akan berdampak sangat berbahaya jika gempa dengan kekuatan lebih besar sesuai prediksi itu benar-benar terjadi (Bbc.com, 17/01/2022).
Gempa merupakan ketentuan Allah yang manusia tidak diberikan kesempatan mengendalikannya. Sedangkan manusia tetap diberikan ruang untuk berikhtiar sebagai bentuk upaya meminimalisir terjadinya kerusakan di tengah masyarakat, hal ini juga dalam rangka melindungi nyawa umat. Namun ikhtiar dalam bentuk mitigasi gempa, belum terlaksana dengan baik oleh negara hari ini.
Padahal fenomena gempa yang mengguncang tidak hanya wilayah Banten namun juga Jakarta, Depok, dan Bogor ini sudah menjadi pembahasan sejak 2018 lalu. Kemudian banyak para ahli yang akhirnya memberikan analisisnya mengenai data yang ada, termasuk mengenai mitigasi yang dapat dilakukan. Dalam melakukan langkah-langkah antisipasi gempa, penting melihat karakteristik dari gempa. Sebab, menilik pada persiapan Kota Tokyo di Jepang dalam menghadapi gempa, ancaman gempa yang diantisipasi sangat jelas, yakni perulangan dari gempa Great Kanto Earthquake yang sudah sangat dipelajari dengan baik, maka sudah seharusnya belajar dari hal tersebut.
Adapun bentuk mitigasi yang dilakukan pun sangat jelas, mulai dari penguatan standar bangunan, jalur evakuasi, jalur air untuk antisipasi kebakaran pascagempa, hingga waktu pemulihan infrastruktur dasar dihitung dengan pasti. Peneliti menilai bahwa tanpa mengetahui karakteristik gempa yang akan terjadi, mustahil rencana mitigasi dapat disusun dengan baik (msn.com, 14/01/2022).
Dari fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa negara sebenarnya mampu melakukan ikhtiar terbaiknya demi melindungi umat dari kerusakan bangunan hingga hilangnya nyawa umat, seperti yang dilakukan Jepang.
Namun, sebagai negara muslim tentunya yang harus dilakukan bukan hanya hal tersebut saja. Sebab muslim dalam berbuat segala sesuatu harus melandasinya dengan kesadaran hubungannya dengan Allah Swt. sehingga menghadirkan ruh di sana.
Maka barang tentu penguasa muslim seharusnya melihat sebuah fenomena alam bukan hanya sebatas bencana. Sebab Islam memahami bahwa segala yang terjadi dalam kehidupan terdapat tujuan dan sebab yang menyertainya, bukan semata-mata fenomena alam. Sebaliknya mereka akan melakukan muhasabah dan menjauhkan dirinya dan umat dari segala bentuk maksiat kepada Allah Swt., karena mereka memahami bahwa datangnya gempa merupakan teguran dari Rabb Semesta alam ini akibat adanya maksiat yang dilakukan baik umat maupun penguasanya sehingga jauh dari panduan-Nya.
Seperti itulah seharusnya penguasa muslim, sebagaimana demikianlah yang dilakukan oleh dua Umar Ra. yaitu Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. Sejarah mencatat pada masa kepemimpinan mereka pernah terjadi gempa bumi.
Umar bin Khattab Ra. mengingat kejadian itu. Ketika terjadi gempa pada masa kepemimpinannya, ia berkata kepada penduduk Madinah, “Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!”. Umar pun mengingatkan kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ia bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali. Sesungguhnya bencana merupakan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya, jika manusia tak lagi mau peduli terhadap ayat-ayat Allah.
Hal serupa juga dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz yang segera mengirimkan surat kepada para wali negeri, dan memperingatkan bahwa gempa bumi merupakan teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan beliau memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, dan yang memiliki harta diarahkan untuk bersedekah.
Namun, penguasa yang nafsiyah dan pemikirannya diiringi oleh Islam sulit di produksi oleh sistem yang sedang bercokol dan mengontrol dunia hari ini. Penguasa yang mengantisipasi dengan baik telah terbukti ada seperti yang dicontohkan oleh Jepang. Namun saat ini sulit sekali ditemukan pemimpin yang tanggap bencana dan mengerahkan segala daya upaya dalam mencegah bencana yang melakukannya karena aqidah Islamnya serta menghadirkan ruh kesadaran hubungannya dengan Allah sebagai landasannya dalam berbuat, seperti yang dilakukan oleh penguasa dalam kepemimpinan Islam yaitu kedua Umar Ra. tersebut.
Sebab hal ini terjadi tidak lain karena kapitalisme dengan asas sekulernya telah memisahkan agama dalam aktivitas kehidupan kecuali ibadah semata. Oleh karena itu, penguasa yang diproduksi oleh sistem kehidupan saat ini jauh dari panduan Islam yang kafah. Sehingga sulit melakukan tanggung jawabnya disertai keimanan di dalam dadanya.
Sebaliknya hanya Islam dengan penerapan syariat-Nya yang kafah lah yang mampu memproduksi penguasa-penguasa yang sekelas dengan kedua Umar Ra. tersebut. Wallahu a’lam bishshawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






