
Tak bisa dimungkiri bahwa Islam adalah satu-satunya agama sekaligus ideologi yang mampu menurunkan keberkahan dan mewujudkan menjadi rahmatan lil’alamin bagi dunia seluruhnya.
Oleh Khayra Hasyima
(Aktivis Muslimah Kalsel)
JURNALVIBES.COM – Termuat dalam Wikipedia dengan judul Gempa bumi Cianjur 2022, dituliskan bahwa gempa bumi Jawa Barat 2022 adalah gempa bumi berkekuatan 5.6 Mw dengan kedalaman 10 km yang terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Indonesia pada 21 November 2022 pukul 13.21 WIB. Gempa ini dirasakan hingga Bandung, DKI Jakarta, Tangerang, Rangkasbitung, dan Lampung. Tercatat di dalamnya pula berdasarkan data dari pemerintah kabupaten cianjur sebanyak 635 jiwa dinyatakan tewas.
Menanggapi hal itu pemerintah, ormas dan masyarakat pun berbondong-bondong menurunkan bantuan. Harapan terbesar para korban tentunya mengarah kepada pemerintah, tak elak Presiden Joko Widodo pun turun, berbagai arahan diberikan, TNI-POLRI digalakan.
Seperti dikutip dari laman setkab.co.id KEMENKO PMK, menanggapi arahan Presiden terkait perubahan besaran nilai bantuan stimulan perbaikan rumah rusak berat, sedang, dan ringan terdampak gempa bumi di Cianjur. Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mengadakan Rapat Koordinasi Tingkat Menteri (RTM) pada Senin (12/12/2022).
Menko PMK Muhadjir Effendy menyebut terdapat beberapa perubahan besaran nilai bantuan stimulan yang diberikan pemerintah untuk perbaikan rumah terdampak bencana gempa bumi di lokasi Cianjur. Ia menjelaskan perubahan nilainya itu adalah untuk yang rusak berat itu dari 50 juta diubah menjadi 60 juta, rumah yang rusak sedang dari 25 juta menjadi 30 juta, sedangkan yang rusak ringan dari 10 juta menjadi 15 juta.
Berdasarkan data dari BNPB per 12 Desember 2022, jumlah rumah rusak sebanyak 56.480 rumah yang terdiri dari 13.633 rusak berat, 16.059 rusak sedang, dan 26.856 rusak ringan. Informasi terbaru, berdasarkan data pemerintah, gempa tersebut menyebabkan 602 orang meninggal dunia, lima orang hilang, dan 166.927 orang mengungsi.
Dampak gempa ini juga menyebabkan kerusakan di 59.889 rumah, 281 rumah ibadah, 18 fasilitas kesehatan, 18 kantor/gedung, dan 701 fasilitas pendidikan. Namun yang menyedihkan korban merasa terlantar. Setelah gempa bumi berkekuatan 5,6 mengguncang Cianjur, Jawa Barat, sejumlah warga masih bertahan di tenda pengungsian, menanti kepastian untuk memulai kehidupan normal kembali. Di Desa Cibeureum, Kecamatan Cugenang misalnya, masih ada warga yang belum menerima dana stimulan perbaikan rumah karena proses pendataan yang tidak akurat dan harus diulang. Selain itu, sebagai salah satu desa yang disebut dilalui patahan sesar aktif Cugenang, warga juga masih menanti kepastian apakah mereka akan terdampak relokasi atau tidak.
Selalu saja ada aral dalam penyaluran bantuan pada tiap bencana yang terjadi, seperti yang terjadi di Cianjur kali ini. Ini sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan hidup mereka. Bahkan mayoritas warga Desa Cibeureum masih bertahan di tenda-tenda pengungsian, termasuk balita dan anak-anak. Hingga akhirnya pada tanggal 4 Januari Kepala BNPB Suharyanto menyatakan, pemerintah telah menyalurkan bantuan rekonstruksi rumah yang rusak akibat gempa Cianjur, Jawa Barat kepada 25.000 kepala keluarga.
Dilansir dari Kompas.com (4/1/2022), Suharyanto menyampaikan sampai hari ini sudah 25.000 rumah atau kepala keluarga yang sudah diberikan dan ini kita sedang masuk ke tahap 3 mudah-mudahan ini bisa selesai semua di Desa Sirnagalih, Cilaku, Cianjur.
Demikianlah masyarakat sebuah negara, menaruh harapan besar pada para pemimpinnya. Baik dalam kondisi tenang sebagai penjaganya, ataupun dalam kondisi genting dan susah seperti ketika saat ini bencana alam merenggut nyawa atau membuat cacat sebagian dari orang-orang yang mereka sayang, menghabiskan harta, dan membuat kacau rencana yang telah disusun. Mereka sangat berharap pada fungsi pemimpin sesungguhnya, dimana pemimpin bukan sekadar menjaga masyarakat.
Al-Mawardi dalam al-Ahkam as-Sulthaniyah menyebut fungsi pemimpin justru menjaga agama untuk menegakkan syariat Allah. Sehingga ketika tangan manusia yang mendatangkan kerusakan, maka sebelum itu terjadi pemimpin akan menjaga suasana negaranya dengan suasana iman, hingga tangan rakyatnya tak menjadi tangan-tangan yang merusak dan mendatangkan bala.
Jika turun musibah maka ia turun sebagai ujian keimanan bukan sebagai bala atas ingkarnya mereka. Seorang pemimpin, betapapun kecil wilayah kepemimpinannya selalu mengemban peran yang strategis. Hal ini dikarenakan pemimpin menjadi penentu kemana arah dan gerak sebuah organisasi bahkan konstitusi. Solusi atas segala problematika hidup rakyatnya dicarikannya solusi yang cepat, tepat dan bersesuaian dengan syariat islam sebagai syarat.
Sangat disayangkan bila penduduk suatu negri, apalagi negri itu dipimpin oleh seorang Muslim dan berpenduduk mayoritas Muslim namun ketika diturunkan musibah kepada mereka, mereka terlantar dan derita sebab lalai dan lambannya gerak para pemimpin dalam memberikan solusi masalah-masalah mereka. Mereka pun seharusnya tak kebingungan terkait sumber dana mengembalikan kestabilan kondisi ekonomi masyarakat yang terdampak, karena harusnya seluruh potensi alam negri mereka yang kelola dan nikmati hasilnya.
Menjadi sebuah negeri dengan Islam sebagai agama sekaligus ideologi adalah solusi. Islam sebagai agama yang paripurna, lengkap, memuaskan akal dan sesuai dengan fitrah manusia menjadikannya layak untuk dijadikan sebagai ideologi yang mendasari berdirinya sebuah negara. Betapa tidak? bukti akan kesuksesannya memimpin dunia telah tercatat diberbagai tulisan para ahli sejarah, baik yang Muslim maupun yang nonmuslim. Tak bisa dimungkiri bahwa Islam adalah satu-satunya agama sekaligus ideologi yang mampu menurunkan keberkahan dan mewujudkan menjadi rahmatan lil’alamin bagi dunia seluruhnya, karena ia datang dari Zat Yang Menciptakan seluruh alam semesta beserta isinya. Pencipta tentunya paling tahu tentang apa dan bagaimana solusi atas problematika ciptaan-Nya, termasuk bumi dan manusia di atasnya.
Sebagaimana firman-Nya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”.(TQS. al-Anbiya: 107)
Maka mengembalikan kepemimpinan kepada Islam adalah solusi hakiki, sehingga terasalah nikmat iman yang dijaga oleh negara, masyarakat dan dirinya sendiri. Hingga mereka mendapati dirinya menikmati rahmat aturan yang diturunkan langung oleh Ilahi Rabbi. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by unsplash.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






