Opini

Islam Agama Toleran Bukan Kekerasan

Berabad silam Rasulullah saw. telah memberikan contoh nyata dalam praktik toleransi. Madinah hidup damai dalam kepemimpinan Islam meskipun ada tiga agama besar yang berada dalam naungannya.


Oleh Siti Rakmahtusaadiah
(Mahasiswi PGMI, UIN Mataram)

JURNALVIBES.COM – Semua agama mengkritik kekerasan. Islam secara doktrinal adalah agama nonkekerasan, namun karena ada fakta penaklukan atau dalam bahasa historiografi Islam lebih dikenal dengan pembebasan (futuhat) yang dilakukan maka para pembenci Islam menghembuskan isu bahwa Islam adalah agama yang identik dengan kekerasan.

Anggapan Islam agama teroris, identik dengan kekerasan masih saja menyebar di kalangan masyarakat terlebih para pembeci yang terus melakukan berbagai upaya untuk merusak Islam. Namun, tidak hanya itu karena asingnya dengan agama sendiri bahkan Muslim pun membenarkan pernyataan ini.

Tidak heran lagi hal ini ketika umat Muslim jauh, bahkan asing dengan ajaran agamanya sendiri. Karena ada andil besar dari sistem yang diterapkan saat ini. Masuknya paham kapitalisme, sekularisme lah yang menyebabkan umat semakin jauh dari ajaran Islam kafah.

Islam merupakan agama yang sangat toleran terhadap agama lain. Namun tentu dengan batasan-batasan yang sudah ditetapkan oleh syara. Dekonsruksi tentang pemahaman toleransi yang demikian tentunya sangat kontradiktif dengan ajaran Islam bahwa agama Islam sebagai satu-satunya agama yang benar, dan tradisi kenabian yang menyeru agama-agama lain kepada Islam. Islam adalah agama eksklusif, tapi tetap menjunjung tinggi toleransi, bahkan dalam sejarah peradaban Islam, orang-orang Yahudi, Kristen, Majusi dan agama-agama lain berabad-abad hidup damai di bawah naungan negara Islam.

Saat ini, kita sedang digiring ke dalam upaya islamofobia. Pasalnya akhir-akhir ini terjadi berbagai aksi (secara sengaja atau tidak sengaja) yang berkontribusi menguatkan dugaan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kekerasan dan ummat Islam merupakan komunitas yang tidak toleran.

Seperti kasus yang terjadi beberapa hari lalu mengenai wanita bercadar yang nekat masuk istana negara dengan membawa senjata api dan sempat menodong paspampres. Hal ini semakin menguatkan beberapa stetmen yang dilayangkan kepada Islam di mana banyak anggapan yang menganggap bahwa Islam adalah agama teroris, identik kekerasan dan tidak toleran.

Tentu anggapan mengenai Islam yang ekstrem itu tidak benar dan tidak tepat meskipun pandangan ini sudah ada sejak lama. Pandangan ini muncul karena kesalahan dalam mengambil kesimpulan dari para pengkritik Islam yang tidak lepas dari kenyataan bahwa ada sebagian umat Islam yang melakukan tindakan tidak baik dengan mengatasnamakan jihad. Tentu hal ini merupakan kesalahan dalam memahami makna jihad yang merupakan bagian dari ajaran Islam.

Dari peristiwa-peristiwa yang melahirkan paham islamphobia tersebut, membuat beberapa intelektual Barat maupun Muslim mencoba untuk mereduksi kembali ajaran-ajaran toleransi dalam Islam. Sehingga dampaknya adalah umat Islam dibawa kepada pemahaman pluralisme.

Memang tidak bisa kita mungkiri keberagaman merupakan sunnatullah yang pasti akan terjadi di muka bumi ini. Mulai dari suku, ras agama dan lain-lain. Tentunya dalam keberagaman dibutuhkan toleransi. Manusia yang merupakan makhluk sosial, tentunya dituntut untuk berinteraksi dengan individu lainnya. Dalam proses interaksi akan terdapat suatu gesekan baik besar maupun kecil antara individu atau kelompok.

Namun, tentunya roleransi memiliki batasan, bukan dengan mengangap agama Islam itu setara dengan agama lain, atau justru menyakini bahwa semua agama itu sama karena nantinya hal itu akan merujuk pada akidah seseorang.

Berabad silam Rasulullah telah memberikan contoh nyata dalam praktik toleransi. Madinah hidup damai dalam kepemimpinan Islam meskipun ada tiga agama besar yang berada dalam naungannya.

Adanya kampanye pluralisme berbalut toleransi akhirnya melahirkan paham moderasi. Akhir-akhir ini gencar digaungkan oleh pemerintah mengenai moderasi dalam beragama. Bagaimana agama Islam mampu hidup berdampingan dengan agama lain. Namun praktiknya hal ini justru mengarah kepada pemahaman yang tidak tepat.

Anggapan yang mengatakan bahwa Islam intoleran dan tidak menghargai perbedaan sesungguhnya sangat tidak mendasar. Sebab faktanya, ketika umat Islam menjadi mayoritas pada suatu wilayah tertentu, keberadaan kelompok minoritas nonmuslim dapat dengan leluasa melakukan aktivitas keagamaannya. Namun hal tersebut akan berbanding terbalik jika umat Islam berada di tengah-tengah mayoritas nonmuslim, penganiayaan dan penindasan, serta pelarangan dalam pemakaian simbol identitas seorang Muslim selalu menjadi potret buram. Namun fakta ini seolah-olah dipandang sebelah mata oleh masyarakat internasional.

Contohnya saja muslim di India dikutip dari beberapa sumber dijelaskan bahwasanya Muslim di sana dipaksa untuk memakan babi, mereka dipukul, dan ditendang layaknya bukan manusia. Pertanyaannya mengapa kita sebagai umat Islam yang dituntut untuk toleran padahal Islam tidak pernah menjatuhkan atau mencela agama lain?

Apa pernah ada Islam menganiaya orang, dan menjatuhkan agama lain? Sepanjang sejarah itu belum pernah ada walaupun kita hidup berdampingan dengan nonmuslim yang minoritas. Nyatanya tidak pernah ada kasus yang seperti itu, justru agama lain sangat merasa aman berada di tengah-tengah kaum Muslim.

Melihat fakta yang ada haruskah kita tetap berdiam diri tanpa berusaha menepis semua stigma negatif tentang Islam? Atau justru bergerak bersama barisan para penyeru kebaikan yang berusaha membongkar intrik-intrik kotor yang menghembuskan islamofobia. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button