Indonesia Peringkat Kedua TBC di Dunia, Cerminkan Buruknya Pengurusan Negara?

Islam telah menetapkan negara adalah pengurus rakyat, termasuk dalam penanggulangan penyakit menular ini. Negara berkewajiban melaksanakan berbagai upaya dan langkah yang komprehensif untuk menanggulangi akar masalah secara tuntas.
Oleh Sulistijeni
(Pegiat Literasi)
JURNALVIBES.COM – Akhir-akhir ini terjadi kenaikan kasus penderita tuberkulosis (TBC) di Indonesia yang sangat signifikan. Hal ini dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) atas temuan kasus tuberkulosis (TBC) pada anak di Indonesia yang mengalami kenaikan melebihi 200 persen. Ini akibat dari banyaknya orang tua yang tidak menyadari gejala TBC dan tidak segera mengobati penyakitnya sehingga berimbas pada penularan. Misalnya di tahun 2021 ada 42.187, kemudian di tahun 2022 ditemukan 100.726, jadi mengalami kenaikan lebih dari 200 persen. (cnnindonesia.com, 18/3/2023)
Akibat adanya penambahan kasus di setiap tahunnya, Penjabat (Pj) Wali Kota Cimahi, Dikdik S Nugrahawan meminta seluruh pihak agar bersama-sama berupaya mengatasi TBC di Kota Cimahi. Karena penyakit TBC ini akan berdampak pada sektor kesehatan, aspek sosial dan ekonomi masyarakat seperti masalah stunting. Dan berdasarkan data WHO Global TB Report 2020, faktor kurang gizi merupakan faktor risiko tertinggi penyumbang penyakit TBC. (pikiran-rakyat, 15/3/2023)
Berdasarkan berita dari liputan6.com tanggal 12 Januari 2023 Indonesia menempati peringkat kedua di dunia dengan jumlah kasus penyakit tuberkulosis (TBC) terbanyak di dunia. Laporan ini berdasarkan data Global TB Report (GTR) tahun 2022 dengan perkiraan kasus TBC sebanyak 969.000 dengan incidence rate atau temuan kasus sebanyak 354 per 100.000 penduduk. Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah juga mengatakan dalam peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional tahun 2023, hal yang penting difokuskan bersama-sama adalah masalah kesehatan tenaga kerja karena tingginya penderita TBC di tempat kerja.
Dengan Indonesia menempati peringkat kedua di dunia jumlah kasus penyakit tuberkulosis terbanyak, ini mencermikan banyak hal. Diantaranya mulai dari buruknya upaya pencegahan, buruknya higiene sanitasi, rentannya daya tahan, kegagalan pengobatan, rendahnya pengetahuan, hingga lemahnya sistem kesehatan dan pendidikan. Juga akibat dari tingginya kemiskinan dan stunting karena keterbatasan sarana kesehatan yang memberikan kontribusi cukup besar.
Di sisi lain fakta ini menunjukkan lemahnya berbagai upaya yang dilakukan meski sudah menggandeng ormas, bahkan kerja sama dengan LN bahkan WHO. Demikian juga menunjukkan lemah dan jahatnya sistem sekuler kapitalis yang menjadi asas pengaturan urusan saat ini, bahkan menjadikan orang sakit sebagai komoditas dan dikapitalisasi.
Di sistem kapitalis kesehatan benar-benar rapuh, ini terbukti dari kurang tanggapnya pemerintah untuk menangani penyakit menular seperti TBC. Sehingga menyebabkan semakin menjadikan penyakit tersebut menjalar kemana-mana dan memakan korban yang cukup banyak.
Menurut Prof. Tjandra Yoga, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, sedikitnya ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya kasus TBC di Indonesia. Diantaranya adalah waktu pengobatannya yang relatif lama antara enam sampai delapan bulan. Sehingga menjadikan penderita TBC sulit untuk sembuh karena pasien TBC berhenti berobat setelah merasa sehat meski proses pengobatan belum selesai. Juga diperberat dengan adanya peningkatan infeksi HIV/AIDS yang berkembang cepat dan munculnya permasalahan TBC-MDR (Multi Drugs Resistant=kebal terhadap bermacam obat).
Masalah lainnya adalah adanya penderita TBC laten, di mana penderita tidak sakit tetapi akibat karena daya tahan tubuh menurun, penyakit TBC bisa muncul. Juga berkaitan dengan economic lost yaitu kehilangan pendapatan rumah tangga, menurut WHO, seseorang yang menderita TBC diperkirakan akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 3 – 4 bulan. Bila meninggal akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 15 tahun.
Dari sini dapat dihitung kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh TBC. Karena TBC sangat erat dengan program pengentasan kemiskinan. Orang yang miskin akan menyebabkan kekurangan gizi dan penurunan daya tahan tubuh sehingga rentan tertular dan sakit TBC, begitu sebaliknya orang terkena TBC akan mengurangi pendapatannya.
Dengan kenaikan kasus TBC yang signifikan ini mencerminkan negara abai dengan rakyatnya. Negara seharusnya bertugas sebagai ra’in yang memelihara urusan rakyatnya, dan sebagai junnah yang melindungi rakyatnya dari segala yang menyebabkan kerusakan. Negara juga bertugas untuk menyiapkan sumberdaya manusianya dengan memberikan kesehatan dengan konsep sistem pendidikan Islam, dan dengan pembiayaan kesehatan yang bersifat mutlak dengan berbasis baitul maal. Itulah yang dilakukan di dalam sistem Islam dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada rakyatnya.
Islam telah menetapkan negara adalah pengurus rakyat, termasuk dalam penanggulangan penyakit menular ini. Negara berkewajiban melaksanakan berbagai upaya dan langkah yang komprehensif untuk menanggulangi akar masalah secara tuntas, melalui sistem kesehatan yang handal yang ditopang oleh sistem politik dan ekonomi berdasarkan Islam. Karena sistem politik Islam dan sistem ekonomi Islam merupakan unsur utama pembentuk sistem kesehatan Islam.
Karena dengan sistem kesehatan Islam akan menyelamatkan kehidupan manusia dalam kondisi apapun termasuk juga dalam menangani penyakit menular seperti TBC. Ini semua hanya bisa diwujudkan hanya dengan diterapkannya Islam secara kafah dan keseluruhan dalam kehidupan. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by istockphoto.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






