Motivasi

Al Wahn: Penyakit Mematikan yang Harus Dihindari

Al wahn merupakan sumber ketergelinciran, sedangkan harta mengandung banyak penyakit, paling tidak ia akan menjadikan seseorang sombong dan takabur, minimal melalaikan untuk mengingat Allah dan ayat-ayat-Nya.


Oleh: Cicih Yuningsih Irawan, M.Pd.

JURNALVIBES.COM – Sahabat, saat ini ada sebuah penyakit yang sedang melanda umat islam. Penyakit ini enggak menular, tapi mematikan. Lho kok? Ya, mematikan iman kita. Al wahn merupakan penyakit cinta dunia dan takut mati.  Suatu hari Rasulullah saw pernah berkumpul di hadapan para sahabat. Beliau menyampaikan satu kalimat yang membuat para sahabat cukup tercengang. Beliau bertanya tentang apa yang disebut sebagai al wahn. Sahabat pun bertanya-tanya apa gerangan yang dimaksud al wahn. Rasulallah saw menjawab, “Al wahn adalah penyakit cinta dunia dan takut mati.”

Cinta dunia adalah cinta berlebih kepada dunia. Sebuah sejarah panjang yang telah menimpa kehidupan anak manusia, Qabil dan Habil. Qabil adalah orang yang membunuh Habil disebabkan penyakit Al wahn yang menimpa jiwa Qabil. Qabil sangat cemburu dengan pasangan yang akan menjadi pasangan Habil dalam pernikahan sehingga ia tega membunuh saudaranya. Cintanya pada dunia melupakan dirinya sebagai hamba Allah Swt. Akibatnya larangan-larangan Allah Swt. tidak diperhatikan.

Tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme adalah contoh dari hubuddunya. Rasulullah saw dalam hadis lain mengatakan bahwa cinta dunia adalah sumber dari segala kesalahan. Sedangkan Utsman bin Affan mengatakan, ”Menggandrungi dunia itu kegelapan hati dan menggandrungi akhirat adalah cahaya hati.” Orang yang telah terjangkiti penyakit ini akan melakukan apa saja demi mencapai keinginannya mendapatkan harta, jabatan, kekuasaan dan segala hal yang berhubungan dengan kenikmatan dunia.

Cinta dunia merupakan sumber ketergelinciran, sedangkan harta mengandung banyak penyakit, paling tidak ia akan menjadikan seseorang sombong dan takabur, minimal melalaikan untuk mengingat Allah dan ayat-ayat-Nya. Sedang orang yang lalai, ia adalah orang yang merugi. Bila ia jauh dari mengingat Allah, ia akan terkuasai setan dan setan akan menghiasi keburukan-keburukan seolah kebaikan.

Dari sahabat Tsauban ra berkata, “Telah bersabda Rasulullah saw,

Hampir saja bangsa-bangsa berkumpul menyerang kalian sebagaimana mereka berkumpul untuk menyantap makanan di nampan. Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena sedikitnya jumlah kami pada saat itu?” Beliau menjawab, “Bahkan pada saat itu jumlah kalian banyak, tetapi kalian seperti buih, buih di atas lautan. Sungguh Allah benar-benar akan mencabut rasa takut pada hati musuh kalian dan sungguh Allah benar-benar akan menghujamkan pada hati kalian rasa wahn.” Kemudian seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta kepada dunia dan takut mati”.

Al wahn, pokok persoalan sebenarnya bukan pada cinta dunia, tetapi lebih kepada ketika hati sudah cinta dunia melebihi apapun. Di saat yang sama, Al wahn menyebabkan seorang mukmin takut pada kematian. Oleh karena itu, Al wahn menjelma menjadi sebuah penyakit yang bisa mematikan potensi keimanan. Tidak hanya itu, bahkan sampai pada potensi amal seorang insan. Seseorang yang mabuk dunia keadaannya lebih parah dari mabuk arak, orang tersebut tidak akan pernah sadar dan siuman kecuali bila telah merasakan sempit dan gelapnya liang lahat.

Lantas, bagaimana cara menyembuhkan penyakit al wahn itu, kawan?
Islam telah menyediakan vaksin untuk mencegah dan obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit al wahn. Dalam Islam ada satu cara yang sangat efektif dan praktis untuk mencegah dan mengobati penyakit al wahn, yaitu dengan cara mengingat mati.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, beliau berkata:

“Perbanyaklah mengingat hal yang akan memutuskan berbagai kenikmatan. – yaitu maut.” (HR. Ashabus Sunan, dishahihkan Al-Albani dalam Al-Irwa’)

Mengingat mati? Sungguh dua kata yang memiliki makna mendalam. Sulit rasanya kita menemukan orang yang selalu mengingat mati. Contohnya, ketika kita berulang tahun. Kita malah merasa super bahagia merayakan hari kelahiran, tanpa ingat sedikitpun akan hari kematian. Itulah fakta di akhir zaman ini, kawan. Padahal ketika kita mau mengingat mati, maka salah satu efek positif dari mengingat mati adalah menyebabkan hati memiliki sikap qana’ah.

“Barangsiapa banyak mengingat mati maka dia akan dimuliakan dengan tiga perkara: segera bertaubat, hatinya qana’ah terhadap dunia, dan semangat beribadah. Sedangkan barangsiapa yang melupakan mati, dia akan dibalas dengan tiga perkara: menunda-nunda taubat, hatinya tidak qana’ah terhadap dunia, dan malas beribadah. Maka ingat-ingatlah kematian, sakaratul maut, dan susah serta sakitnya, wahai orang yang tertipu dengan dunia!.” (Abu Ali Ad-Daqqaq rahimahullah)

Menurut bahasa, qana’ah berarti merasa cukup. Sedangkan menurut istilah, qana’ah berati merasa cukup dan menerima atas apa yang telah diberikan Allah Swt., sehingga mampu menjauhkan diri dari sikap tamak, dan sikap tidak puas yang berlebihan.
Dari Fadlolah bin Ubaid bahwasanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda:

“Sungguh berbahagialah orang yang mendapatkan hidayah Islam dan penghidupannya sederhana serta mau qana’ah (menerima apa adanya).” (HR. Tirmidzi) 

“Qana’ah itu mengandung lima perkara: Menerima dengan rela akan apa yang ada. Memohonkan kepada Tuhan tambahan yang pantas, dan berusaha. Menerima dengan sabar akan ketentuan Tuhan. Bertawakal kepada Tuhan. Tidak tertarik oleh tipu daya dunia.” (Hamka)

Orang yang cinta dunia tidak akan pernah merasa bahagia, karena dia telah diperbudak dunia sehingga tidak pernah merasa puas atas apa yang telah dia dapat. Maka, menumbuhkan sifat qona’ah merupakan jurus jitu membasmi serangga, eh maksudnya membasmi penyakit al wahn.

Mari latih dan biasakan diri dan anggota keluarga kita untuk selalu mengingat mati agar mempunyai gaya dan pola hidup qana’ah dan bukannya kebalikannya yakni gaya dan pola hidup materialistis yang mengajak “meminum air laut”. Ya, bagaimana sih ketika kita meminum air laut? Meminum sebanyak apapun air laut, akan terus merasa haus. Semoga diri dan keluarga kita bebas dari penyakit al-Wahn (cinta dunia dan takut mati) yang telah Rasulullah saw sebut 15 abad yang lalu. Semoga diri dan keluarga kita bukan orang-orang yang fasik, yakni yang lebih mencintai harta benda dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya dengan jiwa dan harta benda. Aamiin. Wallahu alam []


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button