Opini

Harga Telur Membumbung, Kesalahan Tata Kelola Pangan Sistem Kapitalis

Dalam sistem Islam negara melakukan monitoring pasar agar senantiasa menjaga kestabilan harga pasar. Islam juga akan menjaga produksi dalam negeri dengan memanfaatkan dan mengelolanya sumber daya alam yang ada. Tidak bergantung kepada impor. Maka, negara secara independen akan memenuhi kebutuhan rakyatnya sehingga tidak ada intervensi harga dari luar.


Oleh Jumiran, S.H.
(Pemerhati Publik)

JURNALVIBES.COM – Belum lama ini harga bahan pokok kembali merangkak naik. Misalnya saja telur, sumber protein hewani ini yang selalu diburu-buru oleh emak-emak kian meroket tajam. Ditambah lagi dengan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) pada 3 September 2022, menambah penderitaan rakyat yang mau tidak mau harus menanggungnya. Bagaikan menenggak pil yang belum pasti akan menyehatkan tubuh. Begitulah kiranya gambaran untuk saat ini, rakyat yang kian tercekik menanggung berbagai penderitaan ini.

Dari data di laman Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), Kementerian Perdagangan, harga telur ayam ditingkat pengecer naik sebesar 6,83% hingga 26 Agustus 2022. Bahkan dibeberapa daerah di luar Jawa menyentuh angka Rp35.000.00 per kilogram.

Pelaksana tugas dari Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementrian Perday (Syailendra) mengatakan, ada beberapa hal yang menyebabkan harga telur ayam naik. Pertama, karena jumlah peternak ayam petelur turun sekitar 30%. Kedua, harga pakan naik, baik yang berasal dari lokal maupun impor. Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan, harga pakan menyentuh Rp6.800.00.00 hingga Rp7.200.00 per kilogram, (Kompas.com, 13/9/ 2022).

Miris melihat kondisi negeri ini. Negeri yang nyatanya subur, tongkat dan kayu bisa jadi tanaman, sebagaimana lirik lagu Koes Plus. Negeri yang sumber daya alam yang melimpah ruah, namun justru sulit mencari sumber pangan.

Bahkan masih sangat melekat dalam diingatan, bagaimana masyarakat dibuat sulit mencari minyak goreng. Tak hanya sulit dicari, namun harganya kian meroket tajam. Belum lagi gas yang menjadi andalan para emak-emak nampaknya sulit dicari, harganya pun naik. Sesak terasa dada ini ketika menyaksikan penderitaan rakyat hari ini.

Ditambah lagi dengan kenaikan BBM yang bersama dengan telur dan gas elpiji. Perlu diketahui dengan jelas bahwa kenaikan harga BBM, maka akan berdampak pada harga barang lainnya. Baik harga sandang, pangan, papan dan lainnya tentunya akan menyusul. Mengapa? Karena, semuanya memerlukan transportasi ketika memindahkan barang dari produsen ke konsumen. Transportasi ini akan berjalan ketika ada BBM. Maka hal inilah yang harus menjadi pertimbangan pemerintah ketika hendak mencabut subsidi BBM yang berarti menaikkan harganya.

Dalam sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan negara saat ini, pemerintah hanya berperan sebagai regulator saja. Tidak ikut terlibat secara langsung untuk menjadi pelaksana. Tugasnya hanya menghimbau dan mengatur tanpa ada solusi pasti di setiap permasalahannya yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Termasuk juga dalam aspek penentuan kebijakan. Kebijakan yang hanya menguntungkan para kapital dan merugikan masyarakat secara keseluruhan.

Inilah fakta yang terjadi di negeri kita saat ini. Artinya, semua itu patut di duga bahwa sistem ini telah memberangus peran dan fungsi pemerintah untuk mengayomi dan melindungi rakyatnya.

Berbeda dengan Islam. Keimanan dan ketakwaan yang kuat dalam diri akan mencetak pribadi yang jujur, amanah, berani dan mampu membedakan antara yang hak dan batil. Pemimpin yang memiliki keimanan tertancap kuat dalam dirinya akan berhati-hati dalam menentukan setiap kebijakan untuk diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Karena mereka yakin bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Termasuk juga dalam hal pemenuhan dan menjaga keseimbangan harga pangan tentu harus dilakukan, karena ini menyangkut hajat hidup manusia. Negara akan sungguh-sungguh mengelola seluruh sumber daya alam yang ada di negerinya untuk kebutuhan manusia dan ternak.

Oleh karena itu, Islam juga melakukan monitoring pasar agar senantiasa menjaga kestabilan harga pasar. Islam juga akan menjaga produksi dalam negeri dengan memanfaatkan dan mengelolanya sumber daya alam yang ada. Tidak bergantung kepada impor. Maka, negara secara independen akan memenuhi kebutuhan rakyatnya sehingga tidak ada intervensi harga dari luar. Para korporat pun tidak punya tempat untuk mengatur masalah dalam negeri negara Islam.

Demikian itu, setidaknya ada beberapa cara yang bisa dilakukan pemerintah untuk menjaga kestabilan harga pasar dan bahan pokok, yaitu menghilangkan aktivitas penimbunan, impor, intervensi harga dan sebagainya, itu yang pertama. Kedua, menjaga keseimbangan ketersediaan produk dan pengaturan distribusinya dengan melakukan pengelolaan sumber daya alam secara mandiri dan memantau penyaluran hasil produksi ke tengah-tengah masyarakat.

Semua itu dilakukan karena pemerintah sadar akan peran dan fungsinya sebagai pelayan bagi umat. Termasuk juga melindungi dan mengayomi dengan baik. Dengan begitu kenaikan harga BBM, minyak goreng, gas elpiji dan sebagainya Jika terdata dengan rapi dan pengaturan yang baik dan benar maka persoalan ini tidak akan berulang.

Sudah saatnya kita beralih pada sistem yang memanusiakan manusia. Tak lain agar yang benar tak bercampur dengan kesalahan. Sehingga rida Allah bisa kita dapatkan dan keberkahan akan mendekat kepada kita. Berperan aktif dan berjuang bersama agar Islam dapat diterapkan di bumi Allah. Tak lupa agar peran dan fungsi negara dapat kembali seperti adanya, menjadi pelindung dan pengayom masyarakat. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button