Generasi Produk Kampus Merdeka Mampukah Menjadi Problem Solver?

Problem pengangguran pada sarjana di Indonesia memang selalu terjadi. Tidak hanya selama adanya pandemi. Pada tahun-tahun sebelumnya pun sudah terjadi.
Oleh Hilya Mafaza
(Aktivis Dakwah Digital)
JURNALVIBES.COM – Berbicara tentang angka pengangguran di Indonesia, Biro Pusat Statistik mencatat sebanyak 999.543 jiwa lulusan universitas (sarjana) adalah pengangguran terbuka berdasarkan data angka pengangguran terbuka menurut pendidikan yang ditamatkan. Total angka pengangguran terbuka sesuai pendidikan yang ditamatkan hingga Februari 2021 adalah 8.746.008 jiwa (data BPS 30/5/2021 ). Penyebab meningkatnya angka pengangguran terbuka ini adalah krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 (katadata.co.id, 31/5/2021).
Problem pengangguran pada sarjana di Indonesia memang selalu terjadi. Tidak hanya selama adanya pandemi. Pada tahun-tahun sebelumnya pun sudah terjadi. Sebenarnya angka pengangguran sempat turun di tahun 2019 dan ini terjadi sejak tahun 2016. Akan tetapi dilihat dari tingkat pendidikan, lulusan diploma dan sarjana makin banyak yang tidak bekerja (katadata.co.id, 17/52019).
Penyebabnya adalah bagi yang berpendidikan rendah cenderung mau bekerja apa saja. Berbeda dengan yang berpendidikan tinggi di mana tentu tingkat kompetitifnya juga tinggi bila mengacu antara latar belakang pendidikan dengan pekerjaan yang ditarget.
Disebutkan oleh katadata.co.id (17/52019) bahwa penyebab tingkat pengangguran masih tinggi di kalangan lulusan diploma dan sarjana di antaranya,
- Keterampilan tidak sesuai kebutuhan.
- Ekspektasi penghasilan dan status lebih tinggi.
- Penyediaan lapangan kerja terbatas.
Kemdikbud pun menganalisis akan realita ini. Itulah sebabnya diadakan ‘Kampus Merdeka’ sebagai ‘solusi’.
Bisa kita lihat pada laman kampusmerdeka.kemdikbud.go.id bahwa tujuan dari diadakannya Kampus Merdeka yaitu untuk meningkatkan kompetensi lulusan, baik soft skills maupun hard skills, agar lebih siap dan relevan dengan kebutuhan zaman, menyiapkan lulusan sebagai pemimpin masa depan bangsa yang unggul dan berkepribadian.
Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Nizam menyampaikan bahwa dibutuhkan sumber daya manusia dengan kreativitas, inovasi, dan kompetensi baru. Maka menurut beliau, perguruan tinggi seharusnya menjadi mata rantai yang lulusannya relevan dengan dunia kerja, karya-karya inovasinya ‘nyambung’ dengan kebutuhan dunia kerja (kemdikbud.go.id, 26/5/2021).
Kemdikbud pun mengeluarkan empat kebijakan terkait Kampus Merdeka yaitu:
- Mengubah PTN Satker menjadi PTN-BH: PTN-BH bisa leluasa bermitra dengan industri, termasuk melakukan proyek komersial (otonom)
- Penyederhanaan Akreditasi PT
- Membuka prodi baru: Otonomi ini diberikan jika PTN atau PTS tersebut memiliki akreditasi A atau B, dan telah melakukan kerja sama dengan organisasi dan atau universitas yang masuk dalam QS Top 100 World Universities.
- Kegiatan dua semester di luar kampus.
Selanjutnya ada sembilan program yang diadakan oleh Kampus Merdeka. Persyaratan dan pendaftaran untuk mengikuti program bisa diakses di laman kampusmerdeka. Program tersebut yaitu,
- Indonesian International Student Mobility Awards
- Kampus Mengajar
- Magang
- Membangun Desa KKN Tematik
- Pertukaran mahasiswa merdeka
- Proyek kemanusiaan
- Riset atau penelitian
- Studi Independen
- Wirausaha
Bila mahasiswa sudah mengikuti salah satu dari sembilan program tersebut maka diharapkan output-nya adalah mampu menjadi lulusan yang produktif (mendapatkan kerja atau bisa juga menciptakan lapangan kerja).
Jadi nantinya bila akan sesuai dengan delapan Indikator Kinerja Utama (IKU) yang menjadi landasan transformasi perguruan tinggi maka mahasiswa, output perguruan tinggi serta kampus itu mendapatkan nilai yang bagus. IKU adalah sebagai berikut,
- Lulusan mendapat pekerjaan yang layak
- Mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus
- Dosen berkegiatan di luar kampus
- Praktisi mengajar di dalam kampus
- Hasil kerja dosen digunakan oleh masyarakat
- Program studi bekerjasama dengan mitra kelas dunia
- Kelas yang kolaboratif dan partisipatif
- Program studi berstandar internasional.
Program Kampus Merdeka yang diharapkan bisa menjadi solusi untuk menurunkan bahkan menihilkan angka pengangguran pada lulusan diploma dan sarjana memang menuai pro dan kontra. Terkait yang kontra, menilai bahwa Kampus Merdeka justru ‘mengkapitalisasi’ para mahasiswa (termasuk dosen & perguruan tinggi) karena menjadi tergantung dengan mitra industri. Di mana Kepentingan Industri seakan menjadi legitimasi dan penentu kualitas di pendidikan tinggi.
Selain itu belum tentu akan menihilkan jumlah angka pengangguran lulusan perguruan tinggi, sebab mahasiswa yang mengikuti program Kampus Merdeka tentu harus memenuhi persyaratan yang ada. Di satu sisi jelas masih tetap ada persaingan yang keras dalam mendapatkan pekerjaan. Selain itu kelemahan ekonomi kapitalis yang mau tidak mau tetap ada selama masih berpijak pada kapitalisme.
Berbicara tentang generasi produk Kampus Merdeka sebenarnya mereka adalah output dari “kepentingan industri”, sebab kurikulumnya pun didesain sesuai keinginan dan kebutuhan industri. Seakan-akan ‘kepentingan industri’ menjadi legitimasi dan penentu kualitas perguruan serta pendidikan tinggi. Maka nantinya mereka akan menjadi pekerja atau entrepreneur atau intelektual sesuai kebutuhan dari dunia industri.
Generasi Kampus Merdeka memang dibina dan dibekali hard and soft skills, teamwork yang solid juga didorong untuk mencurahkan pemikiran serta ilmu yang dimiliki untuk menjalani program-program yang ada. Selain itu bila mereka nantiya telah lulus kuliah dan telah mengantongi sertifikat sebagai tanda telah mengikuti program Kampus Merdeka. Bila mereka bekerja namun tidak linear dengan latar belakang pendidikan justru sertifikat tersebut bernilai, karena keahlian yang mereka terapkan pada pekerjaan adalah tidak linear dengan pendidikan mereka ternyata didapat pada saat mengikuti program Kampus Merdeka.
Namun, apakah generasi yang demikian sudah mencukupi untuk menjadi problem solver baik bagi diri mereka sendiri, umat, dan juga negara? Karena patokannya di sini sebenarnya adalah ‘bonus demografi’ yang bila angkanya semakin besar maka mampu memacu pertumbuhan ekonomi. Namun ekonominya juga kehidupan bernegara ternyata masih tetap berpijak pada sistem kapitalis.
Kemudian apakah para sarjana juga diploma terpikir pada diri mereka sebagai Muslim sudah terbentuk kepribadian Islam? Di mana menyatunya pemikiran dan pola sikap Islam membersamai dalam diri mereka sehari-hari. Justru yang disayangkan adalah bila generasi Kampus Merdeka ini adalah produk sistem kapitalisme yang justru akan menjauhkan diri mereka dari syariat Islam.
Intelektual kampus tentu sudah semestinya memahami bagaimana kehidupan di dalam sistem kapitalisme ini. Dalam artian mampu menyikapi keberadaan Kampus Merdeka hanyalah sebagai sarana mencetak mereka untuk menjadi SDM yang diperlukan oleh sistem. Tidak sebagaimana Islam membentuk SDM yang ada sebagai problem solver bagi umat dan jelas berguna baik dunia dan akhirat.
Selain itu juga seluruh masyarakat pun sudah semestinya mendapatkan akses pendidikan tinggi, jangan sampai terkendala UKT. Apalagi karena tidak terpilih dalam program Kampus Merdeka akhirnya putus kuliah. Intelektual kampus seharusnya paham akan hal ini dan bisa menyikapi bagaimana agar tidak menjadi ‘korban sistem. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






