Opini

Kedelai Mahal, Dampak Refocusing Anggaran Covid-19?

Dengan sistem ekonomi Islam swasembada pangan bisa terwujud, dan dalam menangani masalah krisis pangan tidak akan ketergantungan pada impor, karena negara atau khalifah yang akan mengantisipasi agar bisa survive untuk dapat melindungi dan memenuhi kebutuhan rakyatnya.


Oleh Sulistijeni
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM – Mahalnya harga kedelai dalam beberapa waktu belakangan membuat Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo angkat bicara. Beliau mengklaim, pihaknya kesulitan menggenjot produksi kedelai dalam negeri karena anggaran yang dipangkas imbas akibat kebijakan refocusing karena pandemi Covid-19.

Faktor lainnya yang membuat harga kedelai tinggi, dikarenakan petani dalam negeri tidak terlalu tertarik untuk menanam kedelai karena harga jual yang murah. (suara.com, 14/2/2022)

Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi menjelaskan penyebab harga kedelai impor mahal di Indonesia adalah akibat cuaca buruk di El Nina Argentina, Amerika Selatan. Sementara itu, dikarenakan permintaan kedelai tinggi dari Cina. Perajin yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Produsen Tempa Tahu (Gakoptindo) mengancam akan mogok produksi, begitu yang dinyatakan oleh Ketua Umum Gakoptindo, Aip Syarifudin. Jika harga bahan baku tinggi, maka modal yang dikeluarkan juga tinggi. Sementara laba yang didapat tidak seimbang dengan modal yang dikeluarkan. Akibatnya, perajin tempe dan tahu bakal merugi. (kompas.com, 19/2/2022)

Kenaikan harga kedelai impor berimbas kepada kenaikan harga tahu dan tempe. Hal ini dikeluhkan masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Makanan berbahan dasar kedelai tersebut kian mahal, karena impor kedelai dari luar negeri terganggu. Pasokan impor kedelai dari Brazil dan Argentina berkurang karena mengalami gagal panen akibat krisis iklim.

Brazil merupakan negara penghasil kedelai terbesar di dunia. Kemudian disusul Amerika Serikat sebagai peringkat kedua, kemudian Argentina, Cina, Paraguay, dan India. Selama ini kebutuhan kedelai di Indonesia dipasok dari Amerika Serikat. Dikarenakan permintaan kedelai dari Cina tinggi, yang mengakibatkan pasokan ke Indonesia berkurang sehingga berimbas dengan naiknya harga kedelai impor.

Indonesia sebagai negara agraris sangat ketergantungan dengan bahan pangan impor kedelai. Hal ini dikarenakan mutu kedelai lokal kurang bagus dibanding dengan kedelai impor. Juga dikarenakan minimnya penggunaan teknologi dalam budidaya kedelai. Seperti dalam proses pengeringan belum dapat diakses dengan mudah oleh petani. Padahal fasilitas pengering sangat dibutuhkan untuk mengurangi kadar air dalam kedelai.

Menurut penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) bahwa kecukupan air sebagai salah satu faktor utama budidaya kedelai yang akan mempengaruhi produktivitas. Juga karena luasan area tanam kedelai di lahan bukan sawah belum memadai dan perlu dilakukan perbaikan produktivitas. Petani dalam negeri tidak terlalu tertarik untuk menanam kedelai karena harga jual yang murah.

Sementara janji pemerintah untuk swasembada kedelai tidak bisa dipenuhi dengan alasan refocusing anggaran untuk penanganan Covid-19, karena kasus ini masih menjadi tantangan utama, karena anggaran digunakan untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19, insentif tenaga kesehatan, sarana prasarana kesehatan, digitalisasi pelayanan kesehatan, dan untuk mendukung dalam rangka kegiatan pos komando.

Alasan refocusing membuktikan pemerintah tidak konsisten dari sisi perencanaan program dan perencanaan anggaran. Ini menegaskan bahwa tidak ada keseriusan pemerintah untuk program kemandirian pangan.

Pemerintah juga terkesan tidak serius dalam memberikan jaminan kualitas benih, stok pupuk yang cukup, bantuan pestisida, alat mesin pertanian, apalagi menggalakkan infrastruktur irigasi dan perbaikan lahan. Tidak ada upaya untuk memperkuat penanganan panen dan pasca panen, serta membuka pasar yang menguntungkan petani demi kesejahteraan petani di seluruh Indonesia.

Hal inilah yang membuat petani lokal tidak bisa berkembang dan swasembada pangan kedelai juga belum terealisasi.

Dalam indikator pangan dan pertanian yang dimuat di Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, dijelaskan bahwa setiap tahun harusnya ada capaian indikator peningkatan ketersediaan pangan hasil pertanian seperti kedelai dan pangan secara berkelanjutan. Serta peningkatan kualitas konsumsi dan peningkatan produktivitas pangan dan kesejahteraan petani.

Namun perencanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tersebut tidak diwujudkan dengan anggaran yang berpihak pada tanaman pangan.

Konsekuensi rendahnya alokasi anggaran tanaman pangan seperti kedelai dibanding tahun-tahun sebelumnya, sehingga berdampak pada rendahnya capaian produksi tanaman pangan dibanding tahun sebelumnya. Pemerintah harusnya menjadikan tanaman pangan atau kedelai juga menjadi prioritas, agar cita-cita kemandirian pangan kedelai bisa segera terwujud dengan keseriusan dukungan anggaran.

Begitulah pengaturan swasembada pangan atau kedelai di sistem kapitalis, yang menguntungkan bagi pemilik modal dan tidak menguntungkan bagi petani.

Berbeda dengan Islam, dalam menangani masalah ketahanan pangan yang dapat diselesaikan dengan mudah. Hal ini sudah pernah diterapkan dan dijalankan di masa Kekhilafahan Islam, dan tetap relevan sampai kapanpun. Seperti dalam optimalisasi produksi, yaitu mengoptimalkan seluruh potensi lahan untuk melakukan usaha pertanian berkelanjutan yang dapat menghasilkan bahan pangan pokok.

Ada peran berbagai aplikasi sains dan teknologi, mulai dari mencari lahan optimal untuk benih tanaman tertentu, teknik irigasi, pemupukan, penanganan hama, hingga pemanenan dan pengolahan pascapanen.

Di dalam Islam masyarakat dianjurkan tidak berlebih-lebihan dalam mengkonsumsi bahan pangan, karena konsumsi yang berlebihan akan berpotensi merusak kesehatan (wabah obesitas) dan juga meningkatkan persoalan limbah. Nabi mengajarkan agar seorang mukmin baru makan tatkala lapar dan berhenti sebelum kenyang.

Juga penanganan dalam manajemen logistik, di mana masalah pangan beserta yang menyertainya (irigasi, pupuk, antihama) sepenuhnya dikendalikan pemerintah. Yaitu dengan memperbanyak cadangan saat produksi berlimpah dan mendistribusikannya secara selektif pada saat ketersediaan mulai berkurang.

Di sini teknologi pascapanen menjadi penting. Negara juga harus memprediksi iklim, yaitu melakukan analisis kemungkinan terjadinya perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Dengan mempelajari fenomena alam seperti curah hujan, kelembapan udara, penguapan air permukaan, serta intensitas sinar matahari yang diterima bumi. Juga melakukan mitigasi bencana kerawanan pangan, yaitu mengantisipasi terhadap kemungkinan kondisi rawan pangan yang disebabkan oleh perubahan drastis kondisi alam dan lingkungan. Mitigasi ini berikut tuntunan saling berbagi di masyarakat dalam kondisi sulit seperti itu. (Fahmi Amhar 2018)

Beginilah Islam dalam mewujudkan ketahanan pangan. Sehingga tidak menjadikan bahan pangan langka dan mahal. Dengan memanfaatkan sumber daya alam dan energi yang dimiliki negara Islam, menjadikan roda perekonomian berputar.

Dengan sistem ekonomi Islam, swasembada pangan bisa terwujud dan dalam menangani masalah krisis pangan tidak akan ketergantungan pada impor. Negara atau khalifah yang akan mengantisipasi agar bisa survive untuk dapat melindungi dan memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Demikianlah sistem Islam dalam mengelola pangan negara, sehingga tidak mengalami krisis pangan atau kondisi buruk yang tidak diharapkan. Semua ini bisa diwujudkan dengan adanya negara khilafah agar bisa diterapkan islam secara keseluruhan dan juga ekonominya. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button