Tragedi Berdarah Kanjuruhan, Salah Siapa?

Dalam Islam pemuda adalah aset peradaban, sehingga Islam tidak akan pernah membiarkan para pemudanya terjatuh dalam perbuatan yang sia-sia. Mereka akan didorong bahkan difasilitasi untuk berolahraga di mana tujuannya adalah untuk kemajuan peradaban Islam.
Oleh Mutri Yeni, S.Pd.
(Pemerhati Kebijakan Publik)
JURNALVIBES.COM – Duka mendalam sedang melanda persepakbolaan tanah air. Pasalnya cabang olaraga bergengsi ini telah memakan ratusan korban jiwa. Tragedi berdarah terjadi di stadion Kanjuruhan Malang ketika berlangsung laga pertandingan antara Arema FC vs Persebaya. Kekalahan yang dialami Arema memicu kemarahan suporter Arema FC menyebabkan para suporter turun ke lapangan hingga menimbulkan kerusuhan.
Kerusuhan yang terjadi memancing aparat bertindak represif dengan menembakkan gas air mata ke lapangan dan ke penonton di stadion. Inilah yang menyebabkan banyaknya jatuh korban jiwa.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Selasa (4/10/2022) pukul 10.00 WIB, korban tewas dalam tragedi Kanjuruhan mencapai 131 orang (kompas.com, 05/10/2022).
Kerusuhan dalam pertandingan sepak bola seolah tak pernah usai. Sepak bola yang identik dengan fanatisme para suporternya telah menyebabkan munculnya kerusuhan ketika klub yang diidolakan kalah dalam pertandingan.
Rivalitas dalam persepakbolaan adalah hal yang wajar saat ini, antara pendukung klub saling bermusuhan. Ini semua disebabkan rasa fanatisme yang mengakar dalam diri para pendukungnya.
Adapun dalam kasus kerusuhan di Kanjuruhan yang memakan banyak sekali korban jiwa, juga ditenggarai tindakan brutal aparat keamanan. Penembakan gas air mata menyebabkan penonton berlarian menyelamatkan diri, inilah yang diduga kuat menjadi penyebab banyaknya korban jiwa karena berdesak- desakan dan terinjak.
Sekularisme-Kapitalisme Sumber Bencana
Sistem sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan telah melahirkan insan yang bebas di dalam kehidupannya. Perbuatan mereka dalam kehidupan sehari-hari jauh dari aturan agama, hanya mengikuti hawa nafsu semata.
Ini bisa kita lihat dari sikap fanatisme suporter sepakbola di negeri ini. Luapan emosi dan kemarahan ketika klub yang disayanginya kalah adalah penampakan sikap fanatisme yang sangat kuat. Begitu juga kezaliman penguasa di lapangan. Polisi yang seharusnya menjaga keamanan justru menimbulkan petaka dan bencana bagi rakyat. Selain itu adanya pihak-pihak yang mencoba mencari keuntungan dari cabang olahraga ini telah membuka mata kita bahwa materi adalah hal yang sangat diutamakan dalam sistem ini.
Ketika kita melihat keterlibatan pihak terkait, setidaknya ada beberapa pihak yang harus bertanggung jawab. Menurut ketua LBH Pelita Umat Chandra Purna Irawan, SH., M.H, ada tiga pihak yang dapat dimintai pertanggung jawaban, yaitu aparat, organisasi penyelenggara beserta asosiasi Sepak bola dan negara (muslimahnews.net, 10/5/2022).
Semua ini tidak terlepas dari penerapan sistem sekularisme-kapitalisme di tengah-tengah kaum Muslimin yang melahirkan aturan buatan manusia tanpa peran pencipta. Olahraga yang seharusnya menjunjung sportivitas, dalam kapitalisme justru menjadi hiburan dan lahan bisnis untuk mendapatkan keuntungan materi oleh para kapital.
Olahraga Sepak Bola dalam Pandangan Islam
Dalam Islam, olahraga hukumnya boleh. Bahkan dianjurkan dalam rangka menjaga kesehatan, kebugaran dan keterampilan, tetapi tidak sampai menimbulkan kesia-siaan.
Dari Jabir bin Abdillah Rasulullah Saw. bersabda: “Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan. Kecuali empat perkara, yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah dan berenang.” (HR. An-Nasa’i).
Melihat fakta sepak bola sebagai cabang olahraga saat ini, ternyata termasuk perbuatan yang sia-sia, bahkan bisa jatuh kepada keharaman. Bila kita dilihat hukum fikih Islam, sepak bola secara mutlak haram ketika menimbulkan mafsadat/keburukan di dalamnya, seperti: melalaikan salat, menyia-nyiakan waktu, menimbulkan ucapan keji, membuka aurat, menyerupai musuh-musuh Allah/orang asing dan lupa mengingat Allah.
Pertandingan sepak bola saat ini bisa dikategorikan lahwun munadhamun, yaitu permainan atau hiburan yang diatur sedemikian rupa dengan berbagai jenis program dan waktu penyelenggaraannya.
Dalam Islam pemuda adalah aset peradaban, sehingga Islam tidak akan pernah membiarkan para pemudanya terjatuh dalam perbuatan yang sia-sia. Mereka akan didorong bahkan difasilitasi untuk berolahraga di mana tujuannya adalah untuk kemajuan peradaban Islam. Salah satunya untuk persiapan jihad di jalan Allah. Demikianlah perhatian Islam terhadap manusia, Islam akan menjauhkan manusia dari perbuatan yang sia-sia. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by unsplash.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






