Banjir, Curah Hujan yang Tinggi atau Kapitalisme yang Tak Peduli?

Jauh berbeda halnya yang dilakukan oleh pemimpin dalam Islam. Sebab mereka menyadari bahwa sesungguhnya bencana tidak datang dengan sendirinya, melainkan melihat hal ini sebagai sebuah peringatan. Sehingga taubat adalah hal utama yang dilakukan.
Oleh Nurul Adha
JURNALVIBES.COM – Banjir yang menghampiri pemukiman penduduk belakangan ini tentu bukan hanya sekadar fenomena alam yang terjadi secara alami. Begitu pula curah hujan yang tinggi tidak bisa dijadikan sebagai sebab utama terjadinya banjir. Sebab banjir dapat terjadi akibat ulah tangan manusia. Seperti halnya pemaparan fakta berikut.
Banjir bandang di wilayah Garut, terjadi akibat kerusakan hutan. Penggundulan hutan mengakibatkan aliran air tidak dapat ditahan oleh pepohonan maka tidak terdapat lagi penahan gerak air yang terus mencari wilayah lebih rendah. Sehingga air turun hingga ke pemukiman warga dan mengakibatkan dua rumah rusak berat dan tiga lainnya terendam lumpur setinggi 30 cm. (merdeka.com, 8/11/2021)
Sementara sumber lainnya menyebutkan banjir bandang di Garut, Jawa Barat, menyebabkan sebuah jembatan putus sehingga 1.200 warga kampung terisolasi karena tidak memiliki pilihan akan akses jalan yang lain. Fenomena ini diakibatkan oleh beralih fungsinya hutan menjadi lahan yang ditanami kopi dan sayuran sebelumnya. (liputan6.com, 11/11/2021)
Kerusakan yang terjadi di hulu ini juga mengakibatkan kerusakan pada daerah hilir. Seperti yang terjadi Kalimantan Barat. Konversi tutupan lahan seiring bertambahnya jumlah penduduk dan keinginan melakukan konversi lahan menjadi lahan budidaya, mengakibatkan curah hujan yang lebat diikuti dengan tingginya debit air sungai. Menyebabkan sungai tidak lagi mampu menampung tingginya air. Sehingga kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) tidak dapat dicegah. (merdeka.com, 7/11/2021)
Hal ini membuktikan bahwa banjir terjadi juga akibat dari ulah manusia, bukan hanya fenomena yang alami. Sebab jika kebijakan terkait pencegahan banjir dilakukan dengan baik dari hulu hingga ke hilirnya, maka kerusakan dapat dihambat atau diminimalisir terjadinya.
Namun, fakta tersebut memberikan gambaran bahwa pengaturan manusia yang tidak dibimbing oleh wahyu justru mengakibatkan kerusakan.
Sesuai dengan firman Allah di dalam QS. Ar-Rum ayat 41 yang artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar kembali (ke jalan yang benar).”
Manusia menjadi penyebab kerusakan ketika memperturutkan hawa nafsu menjadi tuannya dalam berbuat.
Padahal Allah menurunkan curah hujan yang lebat ada kalanya dalam rangka menyadarkan manusia atas maksiat yang telah dilakukannya lalu bertaubat dan bersegera dalam ketaatan. Yaitu menjalankan seluruh perintah dan larangan-Nya sebagai satu-satunya aturan yang mengatur kehidupannya.
Namun kapitalisme telah terlanjur memproduksi penguasa dan pengusaha yang rakus akan akan keuntungan dan materi. Sehingga mereka kalap akan materi dan tidak mampu melihat bencana yang terjadi akibat kemaksiatan yang dilakukannya.
Akibatnya dalam memberikan solusi tidak akan pernah tuntas hingga ke akar persoalan, sebab melihat permasalahan dengan pandangan untung rugi bagi diri dan kelompoknya semata.
Inilah akibat buruk ketika aturan yang mengurus urusan orang banyak diserahkan kepada manusia dalam menentukan pemecahan masalah. Yang terjadi adalah datangnya malapetaka, mulai dari kesengsaraan umat, kerusakan alam, hingga terganggunya habitat hewan-hewan. Tidak ada satu makhluk hidup yang sejahtera kecuali para kapital pemilik modal. Aturan manusia terbukti sangat jauh dari kemaslahatan.
Padahal Allah telah lebih dahulu memberikan peringatan mengenai hal ini dalam surat cinta-Nya, yaitu pada QS. Al-Baqarah [2]: Ayat 11 dan 12 yang artinya, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan”. “Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.”
Jauh berbeda halnya yang dilakukan oleh pemimpin dalam Islam. Sebab mereka menyadari bahwa sesungguhnya bencana tidak datang dengan sendirinya, melainkan melihat hal ini sebagai sebuah peringatan. Sehingga taubat adalah hal utama yang dilakukan.
Sembari terus berikhtiar menanggulangi dampak yang ditimbulkan oleh curah hujan yang tinggi. Meminimalisir terjadinya kerusakan yang dapat mengakibatkan hilangnya nyawa, kerugian materil dan non materil lain sebagainya.
Sebab pemimpin dalam Islam akan menjaga maqashid syari’ah agar terciptanya kemaslahatan. Termasuk nyawa, sandang, pangan, dan papan umat dengan sepenuh hati.
Khalifah akan melarang segala hal yang dapat menyebabkan bencana bagi umat, walaupun hal tersebut sangat menggiurkan, karena pemimpin dalam Islam adalah junnah, yang menjadi pelindung umat dari segala hal yang mengancam kehidupannya di dunia dan akhirat.
Maka sudah saatnya kita bergegas meninggalkan sistem kapitalisme yang datang dari manusia menuju kepada penerapan Islam yang kafah dalam seluruh sendi kehidupan ini. Wallahu a’lam bisshawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






