PPKM Darurat, Kepekaan Penguasa Makin Sekarat

Berkaca pada sejarah, bagaimana seorang penguasa dalam menjalankan amanah dalam melayani rakyatnya. Maka kita dapat mempelajari kembali keteladanan Khalifah Umar bin Khattab.
Oleh Aslama
(Pegiat Literasi)
JURNALVIBES.COM – Kepekaan itu butuh rasa, tetapi jika rasa sudah tidak ada, maka nurani menjadi buta. Inilah yang terjadi di negeri tercinta ini, ketika rakyatnya menjerit “lapar”, penguasa malah mengurusi sinetron yang lagi viral. Apakah selain menghilangkan kepekaan indera perasa dan penciuman, Covid-19 juga menghilangkan kepekaan para penguasa saat ini?
Pernyataan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Mahfud MD, yang sering menonton sinetron Ikatan Cinta mengundang reaksi menohok dari Bintang Emon. Bagi komika 25 tahun ini, apa yang disampaikan Mahfud adalah tanda sang menteri tidak memiliki empati kepada rakyat Indonesia yang tengah kesulitan akibat pandemi Covid-19.
Bintang Emon sendiri tidak menyebut nama dalam pernyataannya di sebuah video yang ia unggah di Instagram. Namun tentu semua orang sepakat apa yang diucapkan Bintang untuk Mahfud MD. (Suara.com, 17/7/2021)
Fakta lain yang membuat geleng-geleng kepala adalah anak yang Airlangga Hartarto plesiran ke LN saat PPKM. Menanggapi hal itu, Ketua Departemen Politik DPP PKS, Nabil Ahmad Fauzi, justru menyinggung tidak adanya rasa kepekaan atau empati para menteri Presiden Joko Widodo terkait rakyat yang sedang kesusahan menghadapi pandemi covid saat ini.
“Kami meminta agar para pejabat pemerintah lebih peka, lebih sensitif terhadap situasi yang sedang dialami oleh masyarakat,” kata Nabil saat dihubungi, Jumat (16/7/2021). (Suara.com, 16/7/2021)
Fakta-fakta di atas menggambarkan mentalitas para penguasa pada rezim kapitalis. Terlihat sekali tidak adanya orientasi dalam melayani pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Sistem kapitalisme yang rusak telah melahirkan kerusakan di berbagai sisi termasuk mentalitas penguasa yang hanya mementingkan diri sendiri. Kebijakan yang dipaksakan tanpa memberikan solusi yang nyata sungguh menyusahkan masyarakat.
Para pedagang yang dibubarkan dengan kasar menjadi tontonan yang menyakitkan hati. Bagaimana mungkin mereka hanya akan berdiam dalam rumah sedangkan anggota keluarganya merintih kelaparan.
Rasa sakit yang masyarakat rasakan, masih ditambah lagi dengan sikap kurangnya kepekaan penguasa melihat penderitaan mereka. “Bagaikan luka yang ditaburi garam”, mungkin itulah perumpamaan yang dialami masyarakat saat ini.
Berkaca pada sejarah, bagaimana seorang penguasa dalam menjalankan amanah dalam melayani rakyatnya. Maka kita dapat mempelajari kembali keteladanan Khalifah Umar bin Khattab.
Prof Dr Ahmad Syalaby dalam buku “Masyarakat Islam” (1961) melukiskan persaudaraan dan kebersamaan yang terbina dalam kehidupan umat Islam di zaman Khalifah Rasyidin. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, umat Islam di sekitar Madinah ditimpa bencana kelaparan yang telah menyebabkan wabah penyakit dan kematian.
Kelaparan dan penderitaan rakyat itu dirasakan oleh Umar sebagai penderitaan bagi dirinya. Oleh karena itu, beliau bersumpah tidak akan mengecap daging dan minyak samin. ”Bagaimana saya dapat mementingkan keadaan rakyat, kalau saya sendiri tiada merasakan apa yang mereka derita,” begitu kata Khalifah Umar yang amat berkesan pada waktu itu.
Umar bin Khattab juga pernah berkata, ”Kalau negara makmur, biar saya yang terakhir menikmatinya, tetapi kalau negara dalam kesulitan biar saya yang pertama kali merasakannya.
Teladan kepemimpinan Umar bin Khattab ditemukan kembali pada sosok Umar bin Abdul Aziz, di masa pemerintahan Bani Umayyah tahun 717-720 M. Istri Umar bin Abdul Aziz, ketika menjawab pertanyaan orang-orang yang datang bertakziah atas wafatnya pemimpin teladan ini, menceritakan, ”Demi Allah, perhatiannya kepada kepentingan rakyat lebih besar daripada perhatiannya kepada kepentingan dirinya sendiri. Dia telah serahkan raga dan jiwanya bagi kepentingan rakyat”.
Rasulullah bersabda yang artinya, ”Setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban (di hadapan Allah) tentang kepemimpinannya.” Maka, betapa tidak terpujinya para pemimpin yang hanya berorientasi melanggengkan kekuasaan dan melupakan penderitaan rakyatnya. Wallahu a’lam bisshowab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






