Sekolah Rakyat, Antara Keseriusan dan Angan-angan Mengentaskan Kemiskinan

Sejarah membuktikan bagaimana keseriusan Islam dalam menuntaskan problematika kehidupan, seperti masalah kemiskinan. Pada masa kekhilafahan Umar bin Abdul Aziz tidak ada seorang pun yang miskin untuk diberikan subsidi atau zakat. Hal itu akibat dari kebijakan ekonominya yang berlandaskan pada syariat Islam sehingga mampu menuntaskan kemiskinan dan memberikan kesejahteraan kepada seluruh rakyatnya.
Oleh Astuti Rahayu Putri
(Pegiat Literasi)
JURNALVIBES.COM – Tidak bisa dimungkiri, kemiskinan masih menjadi rapor merah negeri ini. Berbagai program andalan pun telah diberlakukan silih berganti. Namun apa daya, kemiskinan masih terus terjadi. Bahkan kian menyayat hati. Baru-baru ini, pemerintah meluncurkan terobosan program Sekolah Rakyat (SR) sebagai salah satu langkah strategis menyelesaikan rantai kemiskinan.
Program ini merupakan inisiatif langsung dari Presiden Prabowo Subianto dan ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang selama ini sulit mengakses pendidikan berkualitas (detik, 21-07-2025).
Sekilas, program ini tampak menunjukkan keseriusan pemerintah terhadap nasib rakyat miskin. Namun, jika belajar dari pengalaman pelaksanaan program pemerintah yang sudah-sudah. Seperti program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang justru malah tak sesuai ekspektasi. Apakah program ini bentuk keseriusan pemerintah atau hanya sekadar angan-angan belaka dalam mengentaskan kemiskinan rakyat?
Jika berbicara akar masalah kemiskinan dalam negeri ini. Faktanya, kemiskinan yang terjadi saat ini merupakan kemiskinan yang telah terstruktur. Salah satu contoh nyata yang paling kita rasakan kini adalah sulitnya mencari lapangan pekerjaan. Bahkan, beberapa bulan yang lalu pun publik dihebohkan dengan pemandangan miris di salah satu event job fair di Bekasi. Para pencari kerja harus berdesak-desakan, terhimpit, bahkan terjatuh demi dapat melamar sebuah pekerjaan. Itupun belum tentu diterima. Tapi apa daya, tak ada pilihan lebih baik lainnya untuk bisa berkerja demi menyambung hidup.
Hal ini menunjukkan fakta bahwa jumlah pengangguran dan ketersediaan lapangan pekerjaan sangat tidak seimbang. Meningkatnya jumlah para pelamar kerja, ternyata tak diimbangi dengan jumlah pekerjaan yang tersedia. Walhasil, masyarakat mesti bersaing satu sama lain hanya demi mendapatkan pekerjaan. Inilah wujud nyata bahwa saat ini masyarakat dihadapkan pada kemiskinan bukan hanya karena masalah individunya, akan tetapi karena adanya faktor ketimpangan pada struktur sosial maupun ekonomi.
Jika masalah kemiskinan ini bermuara pada ketimpangan pada sistem dan struktur yang diterapkan. Maka perlu ada yang dibenahi pada sistem saat ini, yaitu sistem kapitalisme. Memang kenyataannya penerapan kapitalisme di tengah-tengah kehidupan telah banyak menyebabkan kerugian dan masalah ditengah-tengah masyarakat. Bagaimana tidak, kapitalisme menempatkan negara hanya sebagai regulator oligarki (pemilik modal). Imbasnya, negara tak hadir sebagai pengurus rakyat, baik dalam menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai, apalagi menjamin kesejahteraan rakyat.
Maka kehadiran Sekolah Rakyat patut dipertanyakan realisasinya jika tujuannya untuk mengentaskan kemiskinan. Apakah memang serius atau hanya angan-angan untuk mengentaskan kemiskinan? Jika melihat fakta sistem saat ini yang lebih mengutamakan oligarki, rasanya sulit untuk berharap keseriusan penguasa menuntaskan masalah rakyat, terutama kemiskinan.
Walaupun Sekolah Rakyat gratis, namun hal ini menunjukkan negara hanya mengurusi rakyat miskin yang tak mampu sekolah. Padahal hari ini, permasalahan pada sekolah negeri pun tak kunjung usai. Seperti sarana dan prasarana yang belum memadai, kecukupan dan kualitas tenaga pendidik yang masih memprihatinkan, dan lain-lain. Sekolah rakyat tak lebih hanya sekedar solusi tambal sulam yang tidak menyentuh akar masalah sesungguhnya. Lalu, apa sebenarnya solusi yang dapat serius mengentaskan kemiskinan?
Sejatinya kesejahteraan rakyat bisa diraih ketika Islam menjadi aturan hidup yang diterapkan secara menyeluruh. Kenapa? Karena sejarah membuktikan bagaimana keseriusan Islam dalam menuntaskan problematika kehidupan, seperti masalah kemiskinan. Pada masa kekhilafahan Umar bin Abdul Aziz tidak ada seorang pun yang miskin untuk diberikan subsidi atau zakat. Hal itu akibat dari kebijakan ekonominya yang berlandaskan pada syariat Islam sehingga mampu menuntaskan kemiskinan dan memberikan kesejahteraan kepada seluruh rakyatnya.
Terkait dengan pendidikan, sistem Islam menganggapnya sebagai suatu sektor yang sangat penting. Sehingga baik sarana, prasarana, tenaga pendidik, maupun kurikulum akan dilaksanakan dengan mutu yang terbaik dan gratis untuk semua rakyat tanpa pilih-pilih. Tidak heran jika pendidikan dalam negara Islam pernah menjadi pusat peradaban dunia. Perkembangan ilmu yang sangat pesat menjadikan negara Islam sebagai acuan dan tujuan para pencari ilmu dari seluruh dunia. Bahkan hingga kini, banyak para ilmuwan Muslim yang ilmunya tak lekang oleh zaman, seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Biruni, dan Ibn al-Haytham.
Oleh karena itu, adanya Sekolah Rakyat memang dapat memberikan manfaat karena memberi peluang bagi rakyat miskin yang sulit mengakses pendidikan. Namun sayangnya solusi ini hanya tambal sulam dan tak menyelesaikan akar masalah sesungguhnya kemiskinan di negeri ini. Berbanding terbalik dengan solusi yang diberikan sistem Islam, mampu mengentaskan masalah kemiskinan serta masalah umat lainnya hingga tuntas. Hal ini bisa diwujudkan jika negara mau tunduk dan taat pada aturan Allah Swt. secara menyeluruh.
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 208)
Kita harus berusaha sungguh-sungguh agar senantiasa terikat kepada aturan Allah. Menyadarkan masyarakat akan pentingnya menerapkan Islam secara kafah dalam berbagai aspek kehidupan. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






