Fatamorgana Biden untuk Palestina – Islam

Melihat dengan kacamata sistem sekutu yang dimainkan oleh negara-negara kuasa pemilik Hak Veto (Amerika, Rusia, China, Perancis, Inggris) di PBB, maka negara-negara tersebut memiliki sekutu-sekutu dalam melanggengkan super powernya. Sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa Israel adalah sekutu politik Amerika Serikat.
Oleh: Magnolia (Pegiat Literasi Islam)
JurnalVibes.Com — Euforia kemenangan Biden kini seperti halnya kemenangan Obama dahulu, dimana Biden saat itu adalah wakil dari Presiden Obama.
Biden menggunakan taktik pemenangan yang serupa dengan Obama. Menggunakan Islam sebagai penarik simpatik. Namun, tidak mensucikan cengkeraman tangan negara adidaya ini dalam kerusuhan Timur Tengah.
Umat Islam di Indonesia, terlalu naif dahulu mengelu-elukan Obama. Ketika mengetahui Obama kecil dahulu pernah sekolah di Indonesia dan memiliki nama tengah muslim, dari Barack Hussein Obama.
Kini, muslim Indonesia bagai terhipnotis kembali ketika mengetahui pidato Biden mengutip hadis Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam tentang melawan kemungkaran. Spekulasi nalar pun liar dalam asumsi dan prediksi akan keberpihakan Amerika dalam mengatasi konflik-konflik negara Islam.
Mengutip media online tirto.id tertanggal 21 Januari lalu, dalam tajuk ‘Bagaimana Kebijakan Joe Biden Soal Hubungan Amerika & Palestina?” Hanan Ashrawi (anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina atau PLO), berkeinginan melakukan evaluasi dan pemulihan hubungan Otoritas Palestina dengan Amerika. Trump di masa pemerintahannya, menutup kedutaan besar Palestina di Washington dan menghentikan bantuan rutin untuk PBB demi kepentingan Pengungsi Palestina (UNRWA). Demikian juga penghentian bantuan untuk Gaza dan Tepi Barat melalui pendanaan USAID.
Lobi-lobi politik dengan mengedepankan adikuasanya Amerika Serikat, dilakukan Trump untuk menekan dan memaksa Palestina agar menerima perundingan damai versi Amerika untuk Israel-Palestina.
Masa Trump (bermenantukan Yahudi) adalah keberpihakan total Amerika kepada Israel. Penetapan Yerusalem untuk ibu kota negara Israel, pembangunan pemukiman ilegal dan paksa dengan kekerasan/kekejaman di atas pemukiman rakyat Palestina di tepi Barat, normalisasi kerjasama beberapa negara Arab untuk koneksi bandara internasional Israel, dll.
Ismail Hanayah (Kepala Biro HAMAS) meminta Biden untuk melakukan koreksi historis atas jalan kebijakan AS yang tidak adil terhadap rakyat Palestina. Poin terpenting adalah membatalkan keputusan Trump atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Namun, masyarakat Palestina kecewa mengetahui bahwa Biden tidak akan memindahkan kedutaan besar Amerika keluar dari Yerusalem (tirto.id, 21/01/21).
Melihat dengan kacamata sistem sekutu yang dimainkan oleh negara-negara kuasa pemilik Hak Veto (Amerika, Rusia, China, Perancis, Inggris) di PBB, maka negara-negara tersebut memiliki sekutu-sekutu dalam melanggengkan super powernya. Sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa Israel adalah sekutu politik Amerika Serikat.
Dalam sistem keuangan dunia, para bankir pengendali keuangan negara-negara besar dunia adalah keturunan Rothschild, berkebangsaan Yahudi-Jerman. Selama hampir lebih 230 tahun, mereka berupaya dan berhasil menguasai hampir seluruh Bank Sentral Dunia.
Termasuk Bank Sentral Perancis, Bank Sentral Inggris dan Bank Sentral Amerika Serikat, berhasil diakuisisi oleh Rothschild. Dinasti perbankan Rothschild berkeinginan kuat untuk mewujudkan kemampuannya, mengendalikan dan menerbitkan uang di seluruh muka dunia. Pengalaman Rothschild membuktikan bahwa memberi pinjaman uang kepada pemerintahan jauh lebih menguntungkan daripada ke masyarakat umum. (m.merdeka.com, 13/01/20).
Dilematis akibat ketergantungan negara-negara dunia bersistemkan ekonomi dan industri kapitalis, adalah kebutuhan kredit atau pinjaman luar negeri. Saat ini kekuatan negara ditunjukkan, salah satunya oleh nilai mata uang negara tersebut berada di atas rata-rata nilai mata uang negara melalui lainnya. Neoimperialisme ekonomi dan perbankan melanda negara-negara konflik, dan negara lainnya.
Bagaimanapun sistem bilateral antara bangsa, ataupun PBB tidak dapat unjuk daya secara signifikan dalam memenuhi kemerdekaan dan kedaulatan Palestina. Karena kepentingan politik Israel selalu akan lebih diperhatikan oleh Amerika. Pengakuan atas negara Israel telah dideklarasikan oleh Amerika melalui Presiden Trump. Adapun Israel memiliki keinginan yang kuat untuk menguasai tepi barat, sehingga histori agama Yahudi akan selalu berbenturan dengan keberadaan Al-Aqsha sebagai masjid utama Muslim Dunia, di samping Mekah dan Madinah.
“Tidak akan terjadi kiamat sehingga kaum Muslimin memerangi bangsa Yahudi, sampai-sampai orang Yahudi berlindung di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon tadi akan berbicara; Wahai orang Islam, hai hamba Allah! di belakangku ada orang-orang Yahudi, kemarilah, bunuhlah dia, kecuali pohon Ghorqod, sebab ia itu sungguh pohonnya Yahudi”. (HR. Ahmad)
Kemustahilan secara empiris dan keharaman secara normatif untuk menggantungkan penyelesaian pendudukan Israel terhadap Palestina pada Amerika Serikat.
Wallahu a’lam bish shawab
Pictures source by google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






