Tipe yang Nyeleneh

Jika ingin mendapat yang baik, maka belajarlah menjadi pribadi yang baik, kalau belum baik yang tetap kudu belajar jadi orang baik.
Oleh Rusi Anisa
(Pelajar asal Bandung)
JURNALVIBES.COM –
اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَالْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِۚ وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَالطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِۚ اُولٰۤىِٕكَ مُبَرَّءُوْنَ مِمَّا يَقُوْلُوْنَۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ
“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (Q.S An-Nuur [24] :26)
Pembahasan masalah remaja ini tentunya tidak akan pernah lepas dari yang namanya interaksi, salah satunya interaksi dengan lawan jenis. Tidak dapat dipungkiri bahwa sistem pergaulan saat ini sangat berbeda jauh dengan sistem pergaulan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. selaku suri teladan yang mesti dijadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya pemahaman tentang batasan interaksi antara laki-laki dengan perempuan.
Dalam Islam ada rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar mengenai hal ini karena hukum asal antara keduanya itu adalah terpisah. Namun pada kenyataannya, masih sering kita lihat interaksi antara laki-laki dan wanita melebihi batas yang ditentukan.
Dalam Islam diperbolehkan adanya pertemuan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram jika ada hajat syar’i atau sesuatu yang memang mengharuskan mereka bertemu. Misalnya, jual beli, kegiatan belajar dalam ranah pendidikan antara guru laki-laki dan perempuan, dan interaksi para perawat di rumah sakit. Hal-hal semacam inilah yang memperbolehkan adanya pertemuan di antara keduanya.
Bukan malah pertemuan dengan niat tidak penting yang hanya akan menjerumuskan keduanya ke dalam dosa. Perlunya pemahaman semacam ini tujuannya bukan melarang komunikasi antar keduanya akan tetapi, untuk menjaga diri kedua belah pihak dari hal-hal yang tidak diharapkan. Sering kita lihat kasus-kasus di televisi yang berhubungan dengan lawan jenis. Seperti, pernikahan dini, aborsi yang dilakukan wanita, hamil di luar nikah, dan lainnya.
Penyebab maraknya kasus seperti ini tiada lain tiada bukan karena kurangnya pemahaman soal batasan interaksi antar lawan jenis. “Itu berarti dalam Islam laki-laki dan perempuan tidak boleh bertemu?” Tentu saja tidak. Adanya laki-laki dan perempuan yang diciptakan oleh Allah Swt. tentunya akan membuat terjalinnya interaksi.
Namun ditegaskan sekali lagi, ada batasan yang tidak boleh dilanggar. Pentingnya pemahaman tentang Islam di kalangan remaja diharapkan mampu memberikan pembahasan secara gamblang perihal hal-hal semacam ini, karena pada dasarnya remaja adalah aset yang akan meneruskan apa yang sekarang sedang berjalan serta memerlukan generasi yang saleh agar keridaan Allah senantian mengiringi.
Tipe Cowok Idaman
Beberapa waktu lalu, sempat kaget dengan salah satu ungkapan seseorang yang mengatakan, “Kalau aku mending cowok yang nakal di awal biar nanti kalau dia saleh, salehnya itu lebih baik daripada alim duluan nanti kalau nakal kebangetan”. Hal ini tentu saja sebuah pernyataan yang absurd, karena sesuai dengan dalil yang sudah tertulis sebelumnya. Sederhananya, yang baik akan bertemu pasangan yang baik dan sebaliknya. Meskipun memang ada beberapa kasus di mana yang baik malah mendapatkan yang kurang baik.
Namun bukan berarti membuat seseorang memiliki karakter “Bodo amat” terkait pasangan. Memang betul kita tidak bisa menjamin pasangan kita akan 100% sama persis dengan kita. Namun, dengan adanya usaha berupa belajar menjadi pasangan yang baik InsyaAllah akan dipertemukan juga dengan yang baik perilakunya. Menurut penulis pribadi, pernyataan sebelumnya itu bisa disangkut pautkan dengan hidayah.
Seseorang bisa dengan cepat berubah menjadi orang yang baik seketika itu karena Allah memberikan hidayah padanya. Sehingga bisa berubah karakternya. Namun untuk mengubah watak seseorang itu tidak mudah, karena perlu waktu, tenaga, pemikiran, dan pemahaman. Dalam merubah karakter seseorang tidak bisa dengan memaksakannya tiba-tiba berubah dalam satu hari. Kita pun tidak pernah tahu kapan seseorang dapat merubah karakternya.
Jadi baiknya bagaimana? Jalan terbaiknya adalah dengan belajar menjadi pribadi yang baik versi diri sendiri. Di sisi lain manusia itu mempunyai sudut pandang dalam menanggapi sesuatu itu artinya setiap orang memiliki tolak ukur yang berbeda-beda dalam memilih suatu pilihan, tetapi mesti diperlukan alasan yang jelas mengapa memilih pilihan tersebut.
Kembali lagi, pasangan yang baik itu InsyaAllah akan bertemu dengan yang baik pula. Kalau misalnya kurang baik bagaimana? Belajar memantaskan diri jangan sampai membuat kita putus asa karena pernyataan-pernyataan sebelumnya. Ingat bahwa Allah selalu menepati janjinya dan tak pernah mengingkarinya akan selalu ada balasan yang indah bagi mereka yang mau berusaha. Walaupun lelah, InsyaAllah akan bernilai Lillah.
Cara mengatasi pemikiran-pemikiran nyeleneh soal pasangan,
Pertama, mempelajari Islam secara kafah. Kurangnya pemahaman tentang suatu ilmu tentunya akan memengaruhi seseorang dalam berpikir yang artinya pemahamannya tidak akan seluas orang yang mengkaji lebih dalam soal suatu perkara. Nah, dalam Islam semua permasalahan itu ada jalan keluarnya. Sayangnya masih sedikit orang yang memakai Islam sebagai perantara dalam mengatasinya apalagi ini soal pasangan.
Berbicara soal pasangan, sebetulnya enggak usah khawatir atau GeGaNa (Gelisah, Galau, Merana). Dalam surat An-Naba ayat 8 Allah berfirman yang artinya, “Dan kami ciptakan kamu berpasang-pasangan”. Jadi sebetulnya nggak ada yang namanya jomblo. Semua manusia pasti akan bertemu dengan jodohnya di waktu yang sudah ditentukan oleh Allah. Bagi orang yang mempelajari Islam secara kafah tidak pernah khawatir perihal perkara begini karena ia yakin bahwa Allah pasti akan menepati janjinya.
Beda lagi kalau orang yang jauh dari agama pasti galau sekali, karena tidak punya pegangan. Dengan mempelajari Islam secara kafah akan membuat seseorang berpikir lebih luas tentang semua perkara yang terjadi dan pastinya akan selalu menjadikan Islam baik itu dari Al-Qur’an dan hadis sebagai jalan keluarnya. Jadi enggak perlu terlalu khawatir.
Kedua, pandai dalam memahami suatu ungkapan. Dalam hidup kita tentunya akan banyak ungkapan-ungkapan dari mulut setiap orang. Namun enggak semua ungkapan itu bisa kita terima. Contohnya ungkapan sebelumnya perihal pasangan. Bak perahu yang selalu mengikuti arus yang di mana perahu itu dikendalikan oleh manusia yang harus bisa mengendaikannya agar tidak salah arah.
Sama halnya dengan pemikiran kita, jangan sampai dapat dengan mudah terpengaruh, tetapi perlu juga memilah apakah ungkapan tersebut sesuai atau tidak. Oleh karena kita itu adalah manusia yang Allah ciptakan dengan adanya akal pikiran. Yang artinya ada kemampuan dalam membedakan suatu hal, tetapi untuk dapat membedakan hal itu perlu ilmu juga agar pemahaman kita lebih mendalam tentang suatu perkara.
Ketiga, jangan kebanyakan nonton film percintaan. Pernahkah kita melihat adegan suatu film yang di mana karakter seseorang bisa berubah menjadi pribadi yang care, peka terhadap orang lain, dan penuh kasih sayang setelah bertemu seseorang? Pasti sering, kan? Hal ini juga yang bisa membuat seseorang berharap memiliki pasangan yang cuek, tetapi saat bertemu dengan kita jadi berubah karakternya. Itu mungkin ada, tapi tidak banyak dan belum tentu dirasakan oleh semua orang.
Namun dunia nyata kita tidak bisa kita minta sama seperti cerita film, yang namanya film itu hanya cerita karangan yang diciptakan sesuai imajinasi penulisnya. Kalaupun memang ada hal yang demikian, itu karena Allah yang membalikkan hati manusia tersebut yang di mana kita dijadikan perantara untuk merubah karakternya.
Keempat, selalu ingat dan terhubung dengan Allah. Hati dan pikiran yang selalu terkait dengan Sang Pencipta akan senantiasa dilanda ketenangan dalam jiwa dan pikirannya. Cinta itu ada setelah adanya pengamatan yang di mana setelah pengamatan itu seseorang bisa menetukan ingin tipe pasangan yang seperti apa. Jika kita selalu terhubungan dengan Allah, tentunya pasangan yang kita harapkan pun akan sesuai dengan apa-apa yang Allah ridai.
Jadi bukan ingin memiliki pasangan karena nafsu, tetapi membutuhkan pasangan yang dapat menuntun kita agar semakin dekat dengan Allah. Ketika sudah memasuki babak rumah tangga pemahaman yang diperlukan yang utama itu adalah agama. Jika pasangan kita adalah pasangan yang diridai oleh Allah, InsyaAllah rumah tangga yang dibangun akan terasa seperti baiti jannati.
Kelima, jodoh cerminan diri. Sering kan mendengar ungkapan ini? Mungkin dari beberapa orang enggak ada yang setuju sama ungkapan ini, karena kalau begitu mungkin yang baik itu rezekinya untuk yang baik, dan kalau yang bejat akan bertemu dengan yang bejat. Perihal jodoh, tentunya enggak bisa 100% pasangan kita mirip dengan kita.
Kenapa? Sebab setiap manusia itu terlahir dan dibesarkan dalam pola asuh yang berbeda. Lingkungan yang berbeda serta asal muasal yang berbeda pula. Otomatis hal yang perlu dipahami itu adalah bagaimana caranya menerima pasangan kita sepenuhnya, meskipun karakternya berbeda. Jika semisal memaksakan harus sama dengan kita jujur itu tidak akan pernah ada.
Terkadang jodoh itu adalah lawan main dari diri kita. Misalnya, perempuannya kalem laki-lakinya aktif, perempuannya pemberani laki-lakinya penakut, perempuannya cuek laki-lakinya manja. Dan hal ini banyak kita lihat di lingkungan kita, tetapi bukan berarti membuat diri jadi tidak mau menjadi pribadi yang baik. Jadikan diri untuk terus belajar menjadi karakter yang baik.
Allah akan mendatangkan siapa-siapa ke dalam kehidupan kita sesuai pula dengan bagaimana diri kita saat ini. Jika ingin mendapat yang baik, maka belajarlah menjadi pribadi yang baik, kalau belum baik yang tetap kudu belajar jadi orang baik. Surat An-Nur yang sudah tertulis sebelumnya, itu adalah sebagai motivasi bagi kita untuk jangan pernah bosan berbuat baik, karena Allah akan memberikan balasan sesuai dengan apa yang kita usahakan. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






