Opini

Gen Z Rentan Mengalami Gangguan Mental, Keimanan Perlu Dipertebal

Generasi yang tangguh adalah generasi yang mampu menghadapi persoalan. Pemuda yang mampu memberikan solusi pada persoalan yang menimpa umat dan persoalan yang menimpa dirinya sendiriGenerasi yang tangguh adalah generasi yang mampu menghadapi persoalan. Pemuda yang mampu memberikan solusi pada persoalan yang menimpa umat dan persoalan yang menimpa dirinya sendiri.


Oleh Tsabita Zafirah
Aktivis Muslimah Kalsel

JURNALVIBES.COM — Di kalangan generasi Z, generasi muda saat ini, sedang trend menyerukan untuk peduli pada kesehatan mental, peduli dengan mental illness seseorang. Terutama selama pandemi dua tahun terakhir, ketika generasi muda ini lebih banyak berinteraksi dengan dunia maya. Maka informasi terkait mental health bertebaran di jejaring media sosial. Termasuk gejala-gejala penyakit gangguan mental. Pada akhirnya juga mudah untuk mendiagnosa diri sendiri mengalami gangguan mental. Sehingga angka penderita gangguan mental meningkat.

Sejalan dengan itu, sekitar 2,45 juta remaja didiagnosis alami gangguan mental yang termasuk ke dalam kelompok ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). Dikutip dari teknologi.id, (14/10/22), rasa kecemasan paling banyak muncul di antara remaja Indonesia yaitu sekitar 26,7%. Disusul masalah pemusatan perhatian atau hiperaktivitas yaitu 10,6%, depresi 5,3%, masalah perilaku 2,4% dan stress pasca trauma 1,8%.

Dikutip dari kumparan.com (14/10/22), sebuah penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan University of Queensland di Australia dan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health di Amerika Serika (AS) menemukan bahwa satu dari 20 remaja di Indonesia terdiagnosis memiliki gangguan mental. Mengapa generasi muda saat ini rentan untuk mengalami gangguan mental?

Gangguan mental yang dialami oleh generasi muda saat ini tidak lepas dari berbagai faktor. Dalam kehidupan saat ini seringkali menuntut pemuda untuk meningkatkan kemampuan yang ada pada diri mereka dengan tuntutan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Belum lagi ketika berhadapan dengan kehidupan kesenjangan sosial yang tinggi, sistem pendidikan yang menuntut untuk memperoleh nilai setinggi-tingginya, angka kemiskinan yang tinggi. Serta dengan kemajuan teknologi dengan adanya sosial media yang menampilkan konten gaya hidup mewah, yang kemudian itu ditiru oleh generasi muda. Namun tidak semuanya punya kemampuan ekonomi yang memadai. Sehingga hanya menjadi keinginan yang tidak terpenuhi, maka ini bisa menimbulkan persoalan baru.

Generasi Z atau generasi muda sekarang dihadapkan dengan pola pikir bahwa dunia itu menjadi tujuan mereka. Gaya hidupnya seolah-olah hanya hidup di dunia saja. Kemudian ini memicu generasi muda untuk memenuhi setiap keinginannya. Namun ketika tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi keinginan tersebut, maka akan terjadi kesenjangan yang nantinya akan memicu terjadinya gangguan mental. Ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, dorongan-dorongan keinginan ini akan memberi gangguan pada kondisi mental mereka.

Hal ini tidak lepas dari sistem kehidupan yang diterapkan saat ini. Sistem sekuler kapitalistik yang mendorong remaja untuk memiliki gaya hidup hedonis, kapitalisme, dan konsumerisme. Standar dalam sistem kapitalisme adalah materi, maka generasi muda pun berlomba-lomba untuk mendapatkan materi sebanyak-banyaknya.

Sistem kapitalisme adalah sistem yang lahir dari asas sekularisme dengan asas pemisahan agama dari kehidupan. Agama disingkirkan, agama hanya ada pada ruang privasi seseorang. Namun sebenarnya, kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari agama. Sehingga ketika generasi muda ini dijauhkan dari agama, sehingga mereka menjadi generasi yang rapuh. Ketika mendapati persoalan pada dirinya, akan mudah cemas, sedih, dan depresi.

Cara pandang dalam kehidupan dengan asas memisahkan agama dengan kehidupan, menyebabkan hidupnya berorientasi pada materi saja. Inilah yang menjadi akar masalah dari penyebab rentannya generasi muda mengalami gangguan mental. Maka harus kembali pada aturan-aturan agama, kembali pada syariat Islam.

Pemuda dalam Islam adalah pemuda yang tangguh. Hal ini sebagaimana tergambar dalam sabda Rasulullah saw.; “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad).

Generasi tangguh adalah manusia yang membawa manfaat kepada umat, dan dalam Islam generasi tangguh adalah generasi yang memiliki keyakinan kepada Allah Swt. yang kuat. Memahami bahwa hidup adalah untuk beribadah, karena nantinya akan dipertanggungjawabkan di kehidupan akhir.

Generasi yang tangguh adalah generasi yang mampu menghadapi persoalan. Pemuda yang mampu memberikan solusi pada persoalan yang menimpa umat dan persoalan yang menimpa dirinya sendiri. Generasi yang senantiasa mempertebal keimanannya kepada Allah Swt. Generasi yang tidak rapuh. Bukan generasi yang jika ada persoalan sedikit saja sudah cemas, putus asa, sampai mengambil jalan pintas. Itu adalah potret generasi yang rapuh, jauh dari Allah.

Generasi tangguh juga generasi yang tahan banting, generasi yang semangat, yang memikirkan persoalan umat, berpikir bagaimana cara membangkitkan umat, dan memiliki keterikatan yang kuat kepada Allah Swt. Menjadi pemuda yang sadar bahwa dirinya adalah ciptaan Allah, bergantung kepada Allah, cara pandangnya dalam kehidupan berasaskan pada syariat Allah.

Pemuda yang memperjuangkan syariat Allah untuk diterapkan secara sistemik. Karena dengan penerapan Islam secara sempurna lah, dia akan memiliki benteng yang kuat dari pemikiran-pemikiran yang merusak seperti saat ini. Menjadi pemuda yang menjadikan dunia sebagai tempat untuk berkarya, yang nantinya akan dia pertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by unsplash.com

Disclaimer : JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button