Nasib Honorer Kian Jadi Horor di Era Kapitalis

Islam adalah solusi atas semua permasalah yang dihadapi manusia, dan pengatur kehidupan manusia agar tetap berada pada jalur yang diperintahkan Allah Swt.
Oleh Fiani, S.Pd.
JURNALVIBES.COM – Nasibmu kian horor wahai para honorer, bukannya mensejahterakanmu tapi malah menyengsarakanmu. Bukannya mengangkat derajatmu tapi malah menambah deritamu.
Pekerja honorer adalah pegawai yang belum diangkat sebagai pegawai tetap atau PNS, dengan perjanjian kerja dan bekerja sesuai dengan surat keputusan dari pejabat tata usaha negara di lingkup pemerintah. Gaji yang diberikan berdasarkan alokasi anggaran yang diberikan tiap sekolah. Jadi gaji yang diberikan kepada guru honorer akan berbeda-beda tiap sekolah tergantung kesepakatan kepala sekolah dan dewan guru lain. Namun gaji yang diberikan tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, apalagi yang sudah berkeluarga memiliki anak lebih dari satu. Tetapi, justru pemerintah menghapus tenaga honorer, lalu apa kabar para honorer?
Dikutip laman Republika.co.id, (5/6), Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Tjahjo Kumolo menyatakan bahwa kebijakan penghapusan pekerja honorer bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para honorer.
Kebijakan yang diterapkan akankah menyejahterakan para honorer? Belum usai SK penempatan tenaga PPPK yang telah lulus seleksi. Tapi, pemerintah membuka kembali seleksi PPPK gelombang ketiga. Status tenaga honorer yang di iming-imingi menjadi pegawai untuk memperoleh gaji yang mencukupi kebutuhan keluarga kini menjadi suram. Kebijakan yang diambil pemerintah justru menggoreskan luka dalam.
Kemudian, pemerintah akan membuka seleksi calon PPPK dan seleksi CPNS, tapi tidak semua bisa lulus. Karena standar nilai kelulusan tertinggi yang ditetapkan oleh pemerintah. Apalagi, ada tenaga honorer yang sudah lanjut usia belum bisa mengoperasikan komputer. Jika, niat tulus pemerintah untuk menyejahterakan tenaga honorer, kenapa harus ada syarat? Tidak cukupkah kerja keras mereka selama mengabdi dengan beban kerja ganda tapi gaji kecil dan belum lagi disunat gaji kecilnya karena tidak hadir. Ulah sistem kapitalis menjauhkan manusia dari sifat ruhiyah.
Demikianlah, sistem kapitalis yang membuat manusia berhak mengatur hidupnya sendiri dengan melakukan atau meninggalkan sesuatu berdasarkan asas manfaat yaitu pertimbangan untung dan rugi. Kebijakan yang diterapkan pemerintah justru bukan untuk kepentingan tenaga honorer, tapi untuk kepentingan para pemegang saham. Namun, berbeda dengan Islam.
Dalam kacamata Islam, tenaga pendidik atau disebut sebagai guru dipandang mulia. di era kekhilafahan mereka sejahtera karena negara memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Sebab, guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmunya tetapi juga mencetak generasi untuk menjadi manusia yang beradab dengan syahsiyah Islam yang terpancar pada tiap perbuatannya.
Kesejahteraan guru, tidak hanya mengubah status non-PNS menjadi PNS, akan tetapi kesejahteraan guru dilihat ketika semua kebutuhannya terpenuhi dan semua fasilitas peserta didik juga terpenuhi. Di era khalifah Umar Bin Khattab, gaji guru sebesar 15 dinar. Jika 1 dinar sama dengan 4,25 gram emas dan harga emas pada hari ini 800 ribu rupiah per gramnya, maka saat itu gaji guru setara dengan 51 juta rupiah per bulan. Tentu dengan gaji sebesar itu, tenaga honorer hidupnya akan sejahtrah dengan semua kebutuhan hidup-nya terpenuhi. Maka tidak perlu lagi mencari pekerjaan tambahan.
Gaji sebesar itu berasal dari baitul maal yang di pergunakan untuk kepentingan para pendidik, dokter, dll. Dana ini juga digunakan untuk membangun sekolah dan rumah sakit. Semua perlengkapan yang dibutuhkan sekolah mau rumah sakit disediakan agar para pelajar dan pasien baik Muslim maupun nonmuslim ikut merasakan kenyamanan dan ketenangan di era Islam yang ditetapkan secara menyeluruh.
Uang dari baitul maal bersumber dari Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah dan terbentang luas, seprti pertambangan, kelapa sawit, dll. Tentu semua sumber daya alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak, negara sendiri yang harus turun tangan mengolahnya tanpa campur tangan asing/aseng atau pihak swasta. Dengan begitu keuntungan yang didapat oleh negara tidak lain untuk kemaslahatan rakyat.
Oleh karenanya, Islam adalah solusi atas semua permasalah yang di hadapi manusia, dan pengatur kehidupan manusia agar tetap berada pada jalur yang diperintahkan Allah Swt. Yuk, terapkan Islam secara menyeluruh. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






