Opini

Islamofobia Merajalela, Umat Islam Butuh Khilafah

Sistem kapitalisme liberal tak mampu untuk mengatur kehidupan manusia dengan keberagaman agama, suku, bangsa, dan ras. Terlebih terhadap umat Islam. Islamofobia melanda di berbagai negeri, bahkan di negeri yang mayoritas muslim sekalipun.


Oleh Ummu Salman
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM – Larangan jilbab pada mahasiswi sekolah kedinasan memicu kemarahan di India. Aktivis mahasiswa dan kelompok hak asasi menuduh administrasi perguruan tinggi bias terhadap minoritas muslim. “Ini adalah Islamofobia. Itu apartheid,” kata aktivis Afreen Fatima, sekretaris Gerakan Persaudaraan di New Delhi, kepada Al Jazeera.

Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan seorang muslimah berjilbab di India sedang dipersekusi sekelompok laki-laki yang berselendang safron. Mereka meneriaki wanita itu dan menghalang-halanginya untuk masuk ke kampusnya. Si wanita pun membela diri sambil meneriakkan takbir.

Larangan penggunaan hijab di beberapa lembaga pendidikan di India ini juga turut disesalkan oleh Wakil Ketua Umum (Waketum) MUI, Anwar Abbas. “Majelis Ulama Indonesia (MUI) sangat menyesalkan adanya larangan memakai hijab di sejumlah sekolah di India terutama di negara bagian Karnataka. Hal ini jelas-jelas mencerminkan islamofobia, permusuhan, dan kebencian dari pihak pemerintah terhadap rakyatnya sendiri yang beragama Islam,” kata Anwar dalam keterangan tertulisnya, Rabu lalu, (09/2/2022). (news.okezone.com, 9/2/2022)

Memang sejak partai radikal Hindu berkuasa, rezim penguasa dari partai tersebut makin banyak mengeluarkan kebijakan anti Islam. Salah satunya kebijakan tentang larangan berhijab bagi muslimah di India. Larangan hijab ini adalah bagian dari bukti kekejaman rezim islamofobia India terhadap muslim.

Ide kebebasan berekspresi yang selama ini digaungkan dalam sistem sekularisme liberal pada kenyataannya tak berlaku pada umat Islam. Sebagai negara yang katanya menganut paham kebebasan, nyatanya India tidak memberi kebebasan pada warga negaranya yang muslim untuk bebas melaksanakan apa yang mereka yakini. Hak umat Islam yang jumlahnya minoritas di sana, seperti hak pendidikan dihalangi oleh rezim dengan alasan karena mereka mengenakan jilbab.

Sementara itu muslim pada posisi membutuhkan perhatian dan bantuan dari dunia dan sesama muslim. Namun dunia internasional tidak terlalu perduli jika korbannya adalah umat Islam. Bandingkan jika yang terjadi sebaliknya, umat Hindu atau umat lain selain Islam yang mengalami diskriminasi. Seketika itu mereka akan bersuara dan segera melakukan berbagai tindakan untuk menghentikan diskriminasi itu. Apalagi jika pelakunya umat Islam, segera tuduhan intoleran akan digaungkan.

Apalagi posisi umat Islam saat ini yang tidak mempunyai institusi politik untuk melindungi mereka. Sehingga yang bisa dilakukan hanya mengutuk atau mengeluarkan pernyataan prihatin tanpa bisa melakukan tindakan yang berarti untuk menghentikan diskriminasi tersebut. Umat Islam yang berjumlah banyak, namun lemah seperti buih di lautan dan tak punya kekuatan.

Kondisi tersebut jauh sebelumnya telah disampaikan oleh Rasulullah Saw. Beliau bersabda yang artinya, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Inilah bukti bahwa sistem kapitalisme liberal tak mampu untuk mengatur kehidupan manusia dengan keberagaman agama, suku, bangsa, dan ras. Terlebih terhadap umat Islam. Islamofobia melanda di berbagai negeri, bahkan di negeri yang mayoritas muslim sekalipun. Ketidakadilan ini jelas terlihat jelas dan nyata. Mereka para pegiat, aktivis liberal yang sering menyuarakan kebebasan pun diam ketika ketidakadilan ini menimpa umat Islam. Menyadarkan kita bahwa ide kebebasan yang mereka teriakkan selama ini hanyalah bohong belaka. Yang terjadi sesungguhnya adalah mereka membenci Islam namun berlindung dibalik ide kebebasan dan HAM.

Maka jika muslim India menghendaki hadirnya kehidupan adil dan tenang bagi mereka, harapan Muslim India akan hanya bisa terwujud dalam naungan khilafah. Khilafah yang telah terbukti selama lebih dari 10 abad mampu mengakomodir keberagaman masyarakatnya.

Hal ini diakui sendiri oleh penulis Barat yang nonmuslim, Will Durant, dalam bukunya “The Story Of Civilization”. Agama Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentang mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir bahkan hingga Maroko dan Spanyol. Islam pun telah memiliki cita-cita mereka, menguasai akhlaknya, membentuk kehidupannya, dan membangkitkan harapan di tengah-tengah mereka, yang meringankan urusan kehidupan maupun kesusahan mereka. Islam telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka…” (Will Durant – The Story of Civilization).

Sejarah juga mencatat tentang kisah seorang khalifah yang merupakan kepala negara sistem khilafah, tentang perlindungan yang ia berikan kepada wanita berjilbab. Khalifah Al-Mu’tashim Billah yang mengirim pasukan, yang mana pasukannya tersebut kepalanya sudah di Kota Ammuriah, ekornya masih di Baghdad, ketika ada satu muslimah dilecehkan kehormatannya.

Kisah heroik Al-Mu’tashim Billah salah satu Khalifah dari Abbasiyah dicatat dengan tinta emas sejarah Islam dalam kitab “al-Kamil fi al-Tarikh” karya Ibn Al-Athir. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tahun 223 Hijriyyah (837 Masehi), dalam judul Penaklukan kota Ammuriah.

Pada tahun 837, al-Mu’tasim Billah menyahut seruan seorang budak muslimah dari Bani Hasyim yang sedang berbelanja di pasar yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi. Kainnya dikaitkan ke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya.

Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu’tashim Billah dengan lafadz yang legendaris: “waa Mu’tashimaah!” yang juga berarti “Di mana kau Mutashim…tolonglah aku!” Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki). Seseorang meriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki), karena besarnya pasukan.

Catatan sejarah menyatakan bahwa ribuan tentara muslim bergerak di bulan April, 833 Masehi dari Baghdad menuju Ammuriah. Kota Ammuriah dikepung oleh tentara Muslim selama kurang lebih lima bulan hingga akhirnya takluk di tangan khalifah al-Mu’tasim pada tanggal 13 Agustus 833 Masehi. Sebanyak 30.000 prajurit Romawi terbunuh dan 30.000 lainnya ditawan. Pembelaan kepada muslimah ini sekaligus dimaksudkan oleh khalifah sebagai pembebasan Ammuriah dari jajahan Romawi. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button