Opini

Kemakmuran yang Menyayat Hati

Kemakmuran dan keadilan yang diidamkan seluruh umat mampu diraih dengan kemuliaan pemimpinnya. Kecintaan rakyatnya yang luar biasa membawa mereka pada kemakmuran. Maka saatnya umat menyadari bahwa tidak ada sistem yang mampu membawa solusi hakiki untuk setiap persoalan umat selain Islam kafah.


Oleh Desi Wulan Sari, M.Si.
(Pegiat Literasi dan Pengamat Sosial)

JURNALVIBES.COM – Manusia akan mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah swt. Bahkan jika kenikmatan itu berupa limpahan harta yang diperoleh dengan jalan yang haq. Tentunya harta yang diperoleh sesuai syariat akan selalu membawa keberkahan. Kemakmuran hakiki akan dinikmati seluruh elemen baik pejabat maupun masyarakatnya.

Namun, bagaimana jadinya jika kemakmuran dan kesejahteraan itu hanya untuk segolongan pejabat negara saja, sedangkan kemakmuran rakyatnya hanya sebatas isapan jempol bagaikan anagn-angan di dalam mimpi?

Inilah fakta yang terjadi hari ini. Berbagai sumber berita nasional memberitakan kenaikan harta kekayan pejabat negara khususnya selama pandemi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat, sebanyak 70,3 persen harta kekayaan para pejabat negara naik selama setahun terakhir atau di masa pandemi Covid-19. Seorang Deputi Lembaga KPK mengatakan kenaikan paling banyak terlihat pada harta kekayaan pejabat di instansi kementerian dan DPR yang angkanya mencapai lebih dari Rp1 miliar. Sedangkan, di tingkat legislatif dan eksekutif daerah, penambahannya masih di bawah Rp1 miliar (cnnindonesia.com, 7/9/2021).

Kenaikan harta kekayaan pejabat tersebut bahkan ada yang mencapai 1000% atau 10 kali lipat sejak ia menjabat sebagai aparatur negara (suara.com, 15/9/2021). Di susul pejabat-pejabat lainnya. Sungguh fantastis kenaikan yang dihasilkan para pejabat negeri hingga mejadi sorotan publik. Seakan berbanding terbalik dengan kondisi rakyat yang semakin terpuruk ekonominya, sungguh menyayat hati rakyat, kebahagiaan di atas penderitaan yang kontras.

Memakmurkan diri bukan menjadi soal ketika pejabat negara menaikkan taraf hidupnya dibarengi dengan kenaikan taraf hidup rakayatnya. Namun yang menjadi persoalan adalah di saat kekayaan para pejabat negara kian meroket, justru keadaan ekonomi rakyat semakin terseok akibat hantaman pandemi dan berbagai dampaknya. Ironis. Melihat fenomena ini bisa dikatakan bahwa ini bukanlah hanya oknum tetapi terjadi pada banyak orang di berbagai level jabatan.

Inikah yang dikatakan kemakmuran, namun menyayat hati? Atau inikah sebuah keadilan, tetapi versi keadilan versi siapa? Karena dari fenomena ini, kita memahami sebuah gambaran potret sistem kapitalisme yang tengah dijalankan membuka lebar pintu bagi pejabat dan segelintir elit memperkaya diri, seakan ada “pengabaian” nasib rakyat yang hanya mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Inikah potret sistem demokrasi yang digadang membawa keadilan? Rasanya ingin percaya ini sebagai sistem terbaik jika saja fakta tidak menunjukkan bagaimana sengsaranya rakyat dalam sistem ini.

Lantas, adakah sistem yang mampu membawa keadilan dan kemakmuran hakiki? Tidak hanya membuat kaya pejabat dan aparatur negaranya tetapi juga memberikan kemakmuran bagi rakyat yang dipimpinnya.

Meraih Kemakmuran dengan Islam

Sistem Islam kafah mengajarkan kepada para pemimpinnya untuk selalu memberikan kemakmuran kepada rakyat yang dipimpinnya. Tugas yang diembannya merupakan amanah yang dipercayakan untuk dilaksanakan, dengan kekuasaan dan kekuatan kebijakan yang dimilikinya untuk kemaslahatan umat berdasarkan syariat.

Perlu dipahami, dalam meraih kemakmuran, Islam mewajibkan manusia untuk bekerja sesuai kemampuan dan keahlian yang diperoleh melalui proses belajar, berlatih, dan menjalani pengalaman hidup. Dalam bekerja, syariat Islam memberikan rambu-rambu berupa perintah dan larangan. Adanya rambu-rambu sebagai standar operasional prosedurnya. Dan manfaat yang akan diperoleh di samping sebagai ujian, rambu-rambu juga untuk menjaga subtansi nilai-nilai dan manfaat yang akan diperoleh dalam setiap aktivitas pekerjaan.

Dalam sistem Islam, sesuatu yang diperintahkan atau dibolehkan syariat akan memberikan maslahat bagi manusia. Begitupun dengan kemakmuran dan kekayaan yang diraih akan tersebar dengan adil antara pejabat negara dengan rakyatnya. Sebaliknya, apa yang dilarang atau dibenci syariat akan memberikan mudharat bagi manusia dan lingkungannya. Seperti penerapan sistem kapitalis yang selalu bertentangan dengan syariat, akan selalu membawa problematika umat tanpa ada solusi sedikitpun di dalammya, akibatnya ketimpangan kemakmuran terjadi antara pejabat negara dengan rakyatnya.

Sejatinya sistem Islam juga mendorong pengembangan bisnis, inovasi produk, model pemasaran sesuai perkembangan dunia bisnis, baik lokal maupun global, untuk mencapai tujuan bisnis yaitu kesejahteraan dan kemakmuran bersama.

Seperti teladan umat muslim terdahulu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Suatu hari di sebuah mimbar ia menangis, ia telah dibaiat umat muslim sebagai pemimpin. Di sekelilingnya terdapat para pemimpin, menteri, ulama, penyair, dan panglima pasukan. Di depan mereka, ia mengatakan “Cabutlah pembaiatan kalian!”. Mereka menjawab, “Kami tidak menginginkan selain Anda!” Ia kemudian menerimanya, sedang ia sendiri membencinya.

Itulah sosok pemimpin yang amat memegang amanah serta tanggung jawab, melebihi apapun.

Khalifah Umar justru tidak melihat kesempatan untuk memperkaya diri atau memanfaatkan jabatannya itu, melainkan beban berat yang dipikulnya di hari kiamat kelak. Oleh karenanya, sejarah mencatat, selama kepemimpinannya, sang khalifah benar-benar bertindak dengan mendahulukan kepentingan umat. Dan hal tersebut juga ditanamkan kepada segenap anggota keluarganya.

Sungguh mulia bagaimana Islam membawa kemaslahatan. Kemakmuran dan keadilan yang diidamkan seluruh umat mampu diraih dengan kemuliaan pemimpinnya. Kecintaan rakyatnya yang luar biasa membawa mereka pada kemakmuran.

Maka saatnya umat menyadari bahwa tidak ada sistem yang mampu membawa solusi hakiki untuk setiap persoalan umat selain Islam kafah, karena Islam membawa syariat dalam mengatur seluruh kehidupan manusia agar selamat dunia dan akhirat. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button