Kekerasan Merenggut Nyawa Generasi

Islam sebagai diin yang sempurna sangat melindungi umatnya. Oleh karena itu, negara wajib menjaga keamanan seluruh rakyatnya, laki-laki-perempuan, kaya atau miskin, anak-anak ataupun dewasa, muslim atau nonmuslim, semua tanpa ada perbedaan.
Oleh Sulistijeni
(Pegiat Literasi)
JURNALVIBES.COM – Seorang siswa SMA di Yogyakarta menjadi korban klitih hingga meninggal dunia pada minggu dini hari (3/4/2022). Fenomena klitih tampaknya telah terjadi hingga kesekian kalinya bahkan sampai memakan korban jiwa. Hal ini sontak membuat Kota Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar dan humanis berubah menjadi mengerikan.
Fenomena ini meresahkan masyarakat Yogyakarta dan wisatawan yang menjadi takut untuk berkunjung ke Yogyakarta. Klitih yang pada awalnya memiliki makna positif, dalam bahasa Jawa memiliki arti kegiatan di luar rumah baik jalan-jalan ataupun keliling kota tanpa tujuan yang jelas untuk mengisi waktu luang. Tetapi belakangan ini berubah menjadi aksi kekerasan jalanan dengan menyasar pengendara motor. Pelaku umumnya adalah pelajar atau remaja, di mana mereka menyasar pengemudi sepeda motor di malam hari, dan ini sangat meresahkan masyarakat. (liputan6.com, 5/4/2022)
Di Bekasi Kepolisian Resort Metropolitan Bekasi telah menetapkan dua tersangka kasus tawuran sarung yang berujung maut. Satu korban DS (14 th) meninggal dunia pada selasa (5/4/2022) dini hari. Kapolres Metro Bekasi Komisaris Besar Gidion menjelaskan, aksi tawuran yang berujung maut itu berawal dari perjanjian perang sarung antara kelompok pelaku yang tengah berkumpul di dekat musala dengan kelompok remaja lain. Saat perang sarung berlangsung, seorang anggota kelompok pelaku terkena sayatan senjata tajam sehingga memicu amarah. Korban mengalami luka akibat hantaman benda tumpul. Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi AKBP Aris Timang mengatakan korban meninggal dunia akibat luka pukulan benda tumpul. (suara.com, 7/4/2022)
Di Palmerah, Jakarta Barat juga telah terjadi peristiwa tawuran hingga memakan korban jiwa pada saat membangunkan sahur keliling. Korban tawuran yang tewas itu bernama Muhammad Diaz (20), berawal ketika korban bersama belasan temannya warga Kota Bambu Utara, Palmerah membangunkan saur keliling. Kemudian terjadi tawuran pada Sabtu (9/4/2022) dini hari, remaja kelahiran tahun 2002 itu meregang nyawa di lokasi tawuran setelah mendapat luka sabetan senjata tajam di dada sebelah kiri. (tribunnews.com, 10/4/2022)
Fenomena klitih, perang sarung, bahkan sahur on the road (SOTR) masih terus terjadi, terutama di malam hari bulan Ramadhan. Aktivitas ini dilakukan oleh remaja untuk mengisi waktu kosong mereka di malam Ramadhan. Ini merupakan bentuk eksistensi diri anak muda masa kini, meskipun kadang sampai memakan korban mereka tidak perduli. Ini akibat dari banyak anak muda kita hari ini yang terpapar krisis moral. Suul adab dan senang melakukan kekerasan, ini adalah salah satu penyakit akhlak yang kini menjangkiti anak muda dan remaja di Indonesia.
Sudah selayaknya umat merasa prihatin melihat kondisi para remaja dan pemuda hari ini.
Dal sistem kapitalis, sekularisme, keburukan individu dan kelompok sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Dimana sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan, memungkinkan adanya keluarga yang tidak optimal dalam mendidik anaknya sendiri.
Apalagi didukung dengan beban hidup yang semakin sulit, menjadikan orangtua sibuk bekerja siang dan malam dan tidak memperhatikan tumbuh kembang anak-anaknya sesuai dengan aturan Islam. Hal ini berakibat banyaknya di antara remaja yang tidak memahami Islam dan menjadikan generasi muda dan remaja rentan terjerumus kepada pergaulan yang rusak dan liberal. Sehingga melakukan tindak kekerasan yang berujung maut sampai merenggut jiwa genarasi.
Padahal seharus bulan Ramadhan merupakan momen untuk mendekatkan diri kepada Allah. Menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan amalan istimewa. Malam-malam yang penuh kemuliaan, yang didalam ada malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu Lailatulqadar.
Seharusnya malam-malam Ramadhan diisi dengan aktivitas ibadah, agar mendapatkan pahala kebaikan dan keberkahan. Bertaqarub kepada Allah, mohon agar diberikan selamat dari segala kejahatan dan keburukan apa pun, setan-setan tidak mampu berbuat kerusakan dan kejahatan sampai terbit fajar di pagi harinya. Tetapi malah digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan mengarah ke kemaksiatan.
Masa muda bukanlah masa untuk menceburkan diri dalam suasana hedonisme, bersenang-senang tanpa tahu batas halal dan haram, Nabi Muhammad saw. bersabda : “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, keadaan kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum saat sibukmu dan saat hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR al-Baihaqi).
Usia remaja merupakan masa pencarian jati diri dan memiliki jiwa bersaing yang tinggi. Ingin menunjukkan eksistensi diri dengan kemauan tinggi untuk berkompetisi dan saling menunjukkan jati diri masing-masing. Dengan maraknya kekerasan remaja yang berujung mereggut nyawa manusia ini adalah merupakan bentuk cerminan atas gagalnya bangunan sosial politik yang didasari ideologi kapitalisme, serta rapuhnya tatanan moral masyarakat yang ada akibat tidak adanya standar baku yang mengatur tingkah laku manusia. Kalaulah kaum Muslim mau menengok kepada Islam dan memahami Islam, sebenarnya Islam telah memberikan jawaban yang tuntas terhadap permasalahan apa pun, termasuk permasalahan kekerasan. Kita tinggal mengikuti apa yang telah diwahyukan oleh Allah Swt., sebagai Al-Khaliq Al-Mudabbir dan meneladani Rasulullah Muhammad saw.
Negara seharusnya menyelesaikan akar masalah dengan edukasi dan fasilitasi amal shalih, tidak cukup hanya memberi sanksi pada pelaku dan mengeluarkan larangan aktivitas di jalan. Negara berkewajiban membina generasi muda melalui pendidikan dan berbagai ajang kajian agama sehingga ketakwaan individu menjadi pilar bagi pelaksanaan hukum-hukum Islam.
Kurikulum pendidikan disusun dalam rangka membentuk kepribadian Islam yang utuh pada siswa, baik dari sisi akidah, tsaqafah, maupun penguasaan IPTEK, karena Islam menerapkan seperangkat hukum yang menyelesaikan permasalahan, mulai dari akar sampai ke cabang-cabangnya. Islam akan memberikan rahmat dan ketenteraman bagi manusia di muka bumi ini, apabilah diterapkan secara keseluruhan.
Islam sebagai din yang sempurna sangat melindungi umatnya. Oleh karena itu, negara wajib menjaga keamanan seluruh rakyatnya, laki-laki-perempuan, kaya atau miskin, anak-anak ataupun dewasa, muslim atau nonmuslim, semua tanpa ada perbedaan. Semua ini hanya bisa direalisasikan dengan penerapan islam secara kafah dan keseluruhan dalam bingkai khilafah. Wallahu a’lam bisshawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






