Refleksi Idul Fitri 1442 H: Makin Takwa dengan Penegakkan Hukum-Nya

Hari raya Idul Fitri telah datang, hari kemenangan bagi umat Islam. Namun, kemenangan dan kegembiraan tersebut masih berbalut kesedihan, bagaimana tidak kaum muslimin di Palestina mendapat serangan bertubi-tubi dari tentara Israel.
Penulis: Izzah Nisriinah
JURNALVIBES.COM – Alunan takbir mengumandang di seluruh penjuru dunia, pertanda hari nan fitri telah datang. Dengan suka cita, kaum muslimin menyambutnya dengan persiapan yang lengkap, mulai dari perlengkapan salat, performance diri maupun rumah sampai kue dan masakan yang akan dihidangkan. Hari raya Idul Fitri telah datang, hari kemenangan bagi umat Islam. Namun, kemenangan dan kegembiraan tersebut masih berbalut kesedihan, bagaimana tidak kaum muslimin di Palestina mendapat serangan bertubi-tubi dari tentara Israel. Israel kembali menumpahkan darah kaum muslimin Palestina. Kaum muslimin berjuang untuk mempertahankan diri dari gempuran Israel. Darah bergelimang di mana-mana.
Tak hanya serangan fisik saja yang diderita umat Islam, serangan pemikiran pun tak henti-hentinya mendera tubuh umat Islam. Serangan pemikiran tak henti-hentinya mereka gencarkan seperti ide sekulerisme, moderasi beragama, liberalisme agama, dan sebagainya berselancar di media hingga menumpulkan pemikiran umat Islam. Umat Islam dibuat buta terhadap kebenaran agamanya sendiri, sehingga banyak remaja muslim terjatuh dalam kubangan kemaksiatan, free sex, alkohol, narkoba, hedon, materialitis, dan akhirnya semuanya menjadi life style mereka. Tak hanya itu, mereka dibuat apatis dan abai terhadap agamanya sendiri.
Serangan untuk melumpuhkan pemikiran umat Islam tidak luput dari persekusi ulama yang berdiri di atas kebenaran dan berani menentang kemungkaran penguasa. Ulama-ulama yang demikian mereka namai sebagai ulama radikal, inspirator teroris hingga teroris itu sendiri. Ulama dipenjarakan tanpa pidana yang jelas. Inilah kemenangan di tengah suasana hati yang merana.
Apakah kondisi seperti ini yang dinamakan khairu ummah?
Allah Swt. berfirman dalam surat Ali Imron ayat 110
وَتَنْهَوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ تَأْمُرُوْنَ لِلنَّاسِ اُخْرِجَتْ اُمَّةٍ خَيْرَ كُنْتُمْ بِاللّٰهِ تُؤْمِنُوْنَ وَ الْمُنْكَرِ عَنِ
Artinya :”Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, ( karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. (TQS. Ali Imron: 110)
Tidak hanya Allah yang memberi stempel umat terbaik. Rasulullah saw dalam riwayat Imam Ahmad mengatakan bahwa umat ini adalah umat terbaik dan paling mulia di antara 70 umat yang lainnya. ( HR Ahmad, musnad, Juz V/5)
Lalu apakah umat yang mulia itu adalah umat yang mudah ditindas, dijajah dan dizalimi? Tentu tidak.
Inilah yang terjadi pada umat islam di berbagai negara. Umat Islam kehilangan jati dirinya sebagai umat terbaik, hilangnya jati diri umat Islam tidak bisa dilepaskan dari penerapan sistem sekuler di negeri ini. Hal ini karena dalam sistem sekuler aturan agama (syariah) dicampakkan dan pembuatan aturan diserahkan kepada manusia melalui mekanisme demokrasi.
Tolok ukur kapitalisme dalam segala hal adalah untuk meraih keuntungan dan manfaat sebesar-besarnya, terutama manfaat ekonomi. Akibat sekulerisme, umat Islam tidak bisa mendapatkan hak-haknya dan tidak bisa menikmati kegembiraan sebagai buah dari puasa Ramadan. Padahal persepsi sebagai umat terbaik harus selalu ada dalam diri setiap muslim terlebih saat dunia membutuhkan mereka.
Kita bisa melihat dulu selama 10 tahun di Makkah, Rasulullah saw menanamkan keyakinan kepada umat ini. Keyakinan yang mengubah diri mereka dan budak menjadi merdeka, dari manusia hina menjadi manusia mulia. Dan hal ini bisa terjadi karena Rasulullah menerapkan Islam secara kaffah. Umat harus memahami bahwa penerapan Islam kaffah mengembalikan predikat mereka sebagai umat terbaik.
Kondisi umat yang terpuruk dan jauh dari predikat umat terbaik ini tidak boleh dibiarkan terjadi terus menerus. Kondisi ini harus segera kita ubah. Aktivitas perubahan harus gencar dilakukan di tengah umat ini sebab perubahan itu tidak akan datang dengan sendirinya melainkan harus diusahakan.
Allah Swt. berfirman dalah surat Ar-Ra’du ayat 11
بِاَنۡفُسِهِمۡؕمَا يُغَيِّرُوۡا حَتّٰى بِقَوۡمٍ مَا يُغَيِّرُ لَا اللّٰهَ اِنَّ
Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (TQS. Ar-Ra’du: 11)
Di momen Idul Fitri ini, dimana Allah menghadiahkan ketakwaan sehingga buah dari puasa seharusnya menjadikan dorongan bagi umat Islam untuk berusaha bersungguh-sungguh mengembalikan predikat khairu ummah pada tubuh umat Islam dengan memperjuangkan tegaknya seluruh hukum Allah di muka bumi ini dan bagi siapapun yang bertakwa Allah Swt. akan memberi dia setidaknya tiga jaminan: Pertama, jalan keluar atas semua kesulitan. Kedua, rezeki dari arah tak terduga. Ketiga, kemudahan dalam segala urusan. Ketiganya itu dijelaskan dalam surat Ath-Tholaq: 2-3
مَخْرَجً لَّهُۥ يَجْعَل ٱللَّهَ يَتَّقِ وَمَن
فَهُوَ اللّٰهِ عَلَى يَّتَوَكَّلْ وَمَنْ يَحْتَسِبُۗ لَا حَيْثُ مِنْ وَّيَرْزُقْهُ ۗ ا قَدْرً شَيْءٍ لِكُلِّ اللّٰهُ جَعَلَ قَدْ اَمْرِهٖۗبَالِغُ اللّٰهَ نَّ اِ حَسْبُهٗ
Artinya : ”Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu“ (TQS. Ath-Tholaq: 2-3)
Maka dari itu, di tengah kesulitan menegakkan hukum Allah, pasti ada jalan keluar. Inilah bentuk pertolongan Allah bagi orang-orang yang menolong agamanya. Atas dorongan takwa saat kemenangan tiba (diterapkannya aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan) hari raya umat Islam akan dipenuhi kebahagiaan lahir dan batin. Umat Islam akan hidup dalam kemuliaan bukan penindasan apalagi kezaliman.[]
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com





