
Generasi muda yang sebagian besar melek teknologi, harus mampu memanfaatkan platform ini untuk menebar pengaruh dan membangun kesadaran akan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan, termasuk isu terkait sampah.
Oleh Zarkasya Umniyah ‘Ulya
(Aktivis Mahasiswi)
JURNALVIBES.COM – Beberapa pekan ini, masyarakat Yogyakarta kembali digaduhkan soal sampah yang membludak. Pasalnya, TPA Piyungan yang menjadi tempat pembuangan sampah di DIY ditutup sejak 23 Juli hingga 5 September 2023 karena kelebihan muatan sampah. Pada 23 Mei 2023 sudah terbit surat pemberitahuan tentang kedaruratan kondisi TPA Piyungan yang over capacity dengan rata-rata 700 ton/hari masuk ke TPA Piyungan (detik.com, 30/7/2023).
Keputusan untuk menutup TPA Piyungan tentu menuai polemik di tengah masyarakat Jogja. Puluhan kantung sampah menjadi menumpuk di berbagai titik jalanan Jogja, sebab tidak diambil oleh petugas.
Dengan pro-kontra yang makin memanas di tengah masyarakat, akhirnya per tanggal 28 Juli, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X membuka TPA Piyungan kembali. Namun dengan pembatasan sampah yang masuk 200 ton per hari.
Meski TPA Piyungan sudah dibuka terbatas, kondisi darurat sampah di sejumlah wilayah DIY belum teratasi. Sejauh ini, pemerintah sedang mengupayakan pengurangan sampah untuk menanggulangi masalah sampah yang terjadi. Namun warga yang bingung, justru membakar sampah untuk mengurangi penumpukan. Ini menimbulkan polusi udara dan mengganggu kesehatan pernapasan. Belum lagi jika sampah masuk ke dalam sungai, tentu akan mencemari perairan.
Jika berlangsung terus-menerus, dapat berpengaruh pada perubahan iklim. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Untuk itu seharusnya masalah menjadi perhatian kita dan mencari solusinya. Pun pemuda sebagai agen perubahan, hendaknya memberikan kontribusi nyata.
Peran Pemuda
Masalah sampah ini sebenarnya isu lama. Penutupan TPA Piyungan bukan pertama kali terjadi. Bahkan masalah sampah juga menjadi hantu bagi negara-negara lain. Dan bayangkan jika sampah tersebut–yang didominasi oleh sampah plastik– tidak diolah dan hanya ditumpuk, akan butuh berapa ribu tahun untuk hancur?
Lalu pertanyaannya, siapa yang bertanggung jawab atas masalah ini? Masalah sampah adalah masalah bersama yang butuh sinergi kuat dari pihak pemerintah maupun lapisan masyarakat. Pemerintah perlu memberi fasilitas dana atau teknologi untuk mengolah sampah lebih efektif. Juga mengeluarkan peraturan dan sanksi tegas. Adapun masyarakat juga perlu meningkatkan kesadaran bahwa sampah bukanlah masalah sepele.
Terutama bagi anak muda punya peran yang tak kalah penting. Terlebih tahun 2030 diprediksi sebagai puncak bonus demografi bagi negara Indonesia. Di mana jumlah usia produktif (15-64 tahun) akan sangat tinggi.
Pertahun 2020 saja, berdasarkan data BPS, jumlah penduduk usia produktif atau angkatan kerja sebanyak 140 juta jiwa dari total 270,20 juta jiwa penduduk indonesia (kemenkopmk.go.id). Pemuda tentu saja termasuk dalam kategori usia produktif. Jika para pemuda bergerak melakukan hal positif maka bisa berdampak positif pula bagi negara ini.
Adapun langkah pemuda dalam berkontribusi mengatasi darurat sampah di DIY khususnya, ialah:
- Membuang sampah pada tempatnya. Meski satu bungkus permen kecil tetaplah buang pada tempat sampah. Bayangkan jika ada 100 orang yang menyepelekan bungkus permen kecil, sama saja akan menjadi penumpukan sampah. Terutama di daerah pariwisata.
- Mengurangi penggunaan plastik. Sampah plastik lama terurai. Gunakanlah barang-barang yang bisa digunakan ulang, seperti tempat makan, botol minum, atau totebag. Bisa juga menggunakan plastik berkali-kali.
- Menghabiskan makanan. Sampah sisa makanan juga berdampak pada pencemaran lingkungan.
- Memilah sampah dan membuat kompos organik. Jika ada sampah sisa makanan seperti tulang, duri ikan, dan sebagainya, akan lebih baik jika dibuat kompos organik mandiri di rumah. Pemilahan sampah juga diperlukan agar pengolahannya bisa lebih efisien.
- Mengajak dan mengedukasi via media sosial (medsos). Kecanggihan teknologi di zaman ini membuat masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu untuk berselancar di medsos. Tak jarang medsos kini dijadikan platform untuk menyebarkan pengetahuan. Cara ini bisa menjadi lebih efektif dibanding cara konvensional.
Generasi muda yang sebagian besar melek teknologi, harus mampu memanfaatkan platform ini untuk menebar pengaruh dan membangun kesadaran akan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan. Termasuk isu sampah, harapannya bisa mengubah pandangan masyarakat dalam mengelola sampah.
Langkah kecil yang kita ambil saat ini bisa berdampak besar jika dilakukan bersama-sama. Maka sebagai pemuda, mumpung raga masih kuat, yuk, kita peduli pada masalah sampah ini! Berikan kontribusi terbaik demi masa depan yang lebih sehat dan kemaslahatan umat. []
Editor: Puspita Satyawati; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by google.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






