
Masyarakat dalam sistem Islam memiliki budaya amar makruf nahi munkar. Mereka tidak akan membiarkan kemaksiatan terjadi di dalam negaranya. Oleh karenanya, para generasi mendapat tempat untuk belajar dan mempraktikan pemahaman Islam mereka dalam kehidupan.
Oleh Vivi Rumaisha
(Aktivis Dakwah Kampus)
JURNALVIBES.COM – Generasi dalam tubuh umat adalah sumber kekuatan, karena fisik dan pemikiran mereka sangat kuat. Generasi, terutama pemuda adalah arsitek kehidupan, mereka yang merancang masa depan hingga berusaha untuk mewujudkannya. Mereka memiliki banyak potensi dan kekuatan, memiliki banyak waktu dan cita-cita. Sejarah dan peradaban Islam yang gemilang selalu menghadirkan pemuda-pemuda bermental baja, berjiwa penakluk, serta berhati emas.
Setiap peradaban mencetak pemuda yang berbeda-beda. Pemuda pada peradaban Islam berbeda dengan pemuda peradaban kapitalisme-sekuler. Karena peraturan yang mengikat antara kedua jenis generasi muda ini pun berbeda. Generasi yang masih memegang erat aturan Sang Pencipta menjadi langka dalam sistem ini.
Dilansir dari republika.co.id (15/01/2023), baru-baru ini seorang remaja berinisial M tewas usai menghentikan satu unit truk yang tengah melaju diduga untuk membuat konten. Dari pantauan remaja yang biasanya terlibat berusia sekitar 12 hingga 15 tahun.
Dikutip dari kompas.com, (15/01/2023), kasus tawuran remaja pun silih berganti. Sempat mereda selama pandemi, kini mulai marak lagi tawuran berdarah. Terakhir kasus tawuran di Palembang dikabarkan menewaskan satu orang pada 15 Januari 2023. Hal sama terjadi di Kota Tangerang, sebanyak 72 remaja diamankan Polres Metro Tangerang Kota. Dari sejumlah barang bukti yang disita, puluhan remaja berusia belasan tahun itu dicurigai akan melakukan tawuran usia menenggak minuman keras yang ada.
Inilah potret buram generasi tanpa visi di sistem kapitalisme hari ini. Generasi yang hanya sibuk mengejar dunia dan eksitensi diri semata. Terlihat hanyalah potret kerusakan generasi. Berbagai problem yang menimpa generasi hari ini, mulai dari pergaulan yang berujung pada kebebasan, narkoba, sampai pada krisis moral. Apa jadinya negeri ini jika generasi yang terbentuk menjadi seperti ini?
Generasi muda Muslim saat ini menghadapi tantangan yang cukup tinggi. Kehidupan sekuler yang mengukung dunia pemuda hari ini, tidak dapat dimungkiri telah menjauhkan pemuda Muslim dari aturan hidup Islam. Potensi mereka tersia-siakan, bahkan posisi sebagai generasi terbaik yang Allah Swt. kabarkan dalam kitabullah tidak banyak terlihat dalam profil kehidupannya.
Seorang Tokoh Muslimah yakni drg. Luluk Farida mengatakan bahwa pemuda mengalami serangan kaum kapitalisme melalui tiga desain, salah satunya yakni adanya serangan media kapitalis sekuler agar pemuda Muslim hidup hedonistik dan arahan kreativitas demi cuan, meskipun melanggar nilai-nilai agama.
Apa yang dikatakan oleh Tokoh Muslimah ini benar adanya, melihat banyak pemuda hari ini yang ketika melakukan sesuatu tidak lagi memandang halal dan haram, akan tetapi pada manfaat apa yang didapatkan. Cuan menjadi nilai yang paling tinggi untuk setiap aktivitas yang dilakukan. Sehingga banyak yang relah bertaruh nyawa demi mendapatkan cuan yang banyak.
Hal ini semakin parah ketika negara tidak punya visi penyelamat generasi. Negara penganut kapitalisme yang menggaungkan kebebasan berlepas tangan dari tanggung jawabnya menjaga generasi atas nama HAM. Negara hanya mencukupkan diri pada upaya-upaya pragmatis, seperti penangkapan pelaku tawuran, himbauan dan sejenisnya. Jadilah generasi mengikuti kemana arus bertiup, abai terhadap bahaya yang mengancam.
Sangat berbeda dengan sistem Islam dalam menjaga generasi. Islam memandang kualitas pemuda sangat penting dalam eksitensi peradaban Islam. Memerintahkan semua pihak bertanggung jawab untuk mendidik para pemuda agar mereka menjadi sosok yang berkualitas untuk kemuliaan Islam dan bermanfaat untuk umat.
Dari lingkungan terkecil, Islam memerintahkan orang tua agar mendidik anak mereka dengan akidah Islam. Sedari kecil para generasi memiliki bekal berpikir dan berprilaku sesuai dengan aturan Islam, dalam artian memiliki kepribadian yang Islam. Tidak hanya itu penanaman akidah ini, menggiring para generasi sadar dan paham potensi yang mereka miliki untuk peradaban. Jiwa-jiwa mereka terpupuk kerinduan menyerahkan dirinya untuk kemuliaan Islam.
Tidak sampai di keluarga saja. Ketika para generasi itu keluar dari rumah mereka, akhirnya mereka akan menemui dan berbaur dengar masyarakat yang khas. Masyarakat dalam sistem Islam memiliki budaya amar makruf nahi munkar. Mereka tidak akan membiarkan kemaksiatan terjadi di dalam negaranya. Oleh karenanya, para generasi mendapat tempat untuk belajar dan mempraktikan pemahaman Islam mereka dalam kehidupan.
Berikutnya negara berperan untuk menjaga generasi secara komunal. Negara Islam akan menerapkan sistem pendidikan Islam. Hasilnya adalah melahirkan generasi yang memiliki syakhsyiah Islam, yakni terbentuk pola pikir dan pola sikap sesuai dengan Islam. Generasi ini juga dibekali dengan ilmu-ilmu duniawi agar survive dalam kehidupan.
Pendidikan seperti ini akan semakin menguatkan pendidikan akidah yang sudah para generasi dapatkan dari keluarga. Para generasi dalam Sistem Islam akan senantiasa tersibukan dengan aktivitas-aktivitas untuk kemuliaan Islam.
Selain dari sistem pendidikan, output generasi yang demikian juga didukung oleh sistem pergaulan dalam Islam dan media dalam Islam. Jikalau ada yang bermaksiat, seperti melakukan tawuran, negara Islam akan memberikan sanksi kepada para remaja tersebut. Sanksi Islam yang akan diterapkan dalam negera Islam akan memberi efek jera atau pencegah dan penebus dosa bagi pelaku.
Dengan demikian, tidak ada celah sedikit pun bagi para pemuda untuk melakukan tindak kekerasan, kejahatan dan maksiat lainnya. Seperti inilah negara Islam menjaga generasi dengan mekanisme yang sangat komperhensif dan melahirkan generasi berkualitas emas.
Oleh karena itu sebagai generasi pembaharuan, maka kita seharusnya siap untuk melakukan pembaharuan secara menyeluruh. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as, ingatlah ketika ia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya: “Wahai bapaku mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong sedikitpun“. (TQS. Maryam: 42).
Berjuanglah, sampai peradaban emas itu tegak di tangan para generasi muda kita. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by istockphoto.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






