Teenager

Bermain Petak Umpet dengan Cinta

Saat benih cinta itu mulai tumbuh, dan harapan bersemai subur dalam hati, namun belum siap melamar dan dilamar, karena bukti cinta itu melamar, maka tak usah kita tunjukkan cinta kepadanya. diam adalah cara yang terbaik


Oleh: Cicih Yuningsih Irawan, M.Pd. (Hijrah Consultant)

JURNALVIBES.COM – Ketika rasa cinta terpatri dalam jiwa, gundah gulana rasanya ingin mengungkapkan dan menyalurkan perasaan indah ini. Sungguh tak kuat rasanya menahan rasa ini, ingin segera diungkapkan kepada orang yang dicintainya. Sebab diselimuti rasa penasaran “Apakah objek yang dicintai mempunyai rasa yang sama?” Diungkapkannya rasa itu. Namun itu saja tak cukup, sebab rasa itu perlu disalurkan. Seperti halnya ketika kita lapar, tak cukup kita mengatakan bahwa saya lapar, namun perlu penyaluran rasa lapar itu dengan cara makan.

Related Articles

Namun sahabat, di saat penyaluran cinta itulah setan mulai beraksi untuk memoles pikiran dan hati kedua insan tersebut untuk melanggar rambu-rambu cinta. Tak menyadari bahwa hakikat cinta sesungguhnya merupakan suatu perasaan yang fitrah. Perasaan yang seharusnya melahirkan suatu perbuatan yang positif, suatu perbuatan yang bisa mendekatkan kita kepada Yang Mahacinta.

Semua manusia memiliki fitrah dari Allah Swt. berupa rasa cinta dan kasih sayang. Cinta takkan bisa disalahkan, datangnya tiba-tiba, perginya pun tiba-tiba, tergantung dari motivasi rasa cinta itu muncul karena apa. Perasaan cinta itu terkadang hadir pada seseorang yang tidak disangka sebelumnya. Dan perasaan ini menjadi hal yang lumrah terjadi, sehingga menjadi sangat wajar bila perasaan itu tumbuh.

Namun, tumbuh kembangnya perasaan cinta janganlah dibiarkan. Melainkan kita harus bisa membatasi diri, bahwa ada satu Dzat yang harus kita beri rasa cinta dengan sangat besar, jangan sampai rasa cinta kepada makhluk melebihi rasa cinta kepada-Nya.

Saat benih cinta itu mulai tumbuh, dan harapan bersemai subur dalam hati, namun belum siap melamar dan dilamar, karena bukti cinta itu melamar, maka tak usah kita tunjukkan cinta kepadanya. diam adalah cara yang terbaik, daripada kita ucapkan cinta kepada wanita atau lelaki yang belum halal atau bahkan tak pernah jadi halal yang membuat iman menjadi goyah.

Tak perlu cemas bila orang yang kita cintai bersama dengan orang yang tentunya bukan kita. Allah Mahatahu segalanya. Dia tahu apa yang terbaik untuk kita. Mungkin saja, apa yang menurut kita baik itu adalah buruk bagi kita, karena Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS. Al-Baqarah: 216).

Saat kegelisahan itu singgah, bersabarlah. Jaga jarak dengan dia dan mendekatlah kepada Allah. Doakan dia dalam sujud-sujud panjangmu dan mintalah kepada-Nya agar meneguhkan hati agar hanya ada Allah yang mengisi relung hati. Tak perlu cemas, bila nantinya dia menjauh. Seharusnya kita cemas saat jauh dari Allah.

Muliakanlah diri kita, berdoalah dia adalah orang yang tepat. Orang yang kita cintai dalam diam belumlah halal, dan belumlah tentu akan halal. Bersabarlah, janji Allah sudah ada pendamping untuk kita. Mungkin dia, mungkin juga bukan dia. Janganlah terikat dengan sesuatu yang masih mungkin. Jangan habiskan waktumu untuk cinta kepada manusia. Kejarlah Allah, maka kebaikan-kebaikan akan datang kepada kita.

Jika kita mencintai Allah, maka rasa cinta terhadap apapun akan sirna. Itulah cinta sejati, cinta di jalan yang benar. Jangan takut, jika ia adalah yang terbaik, Allah akan dekatkan, jika bukan yang terbaik, Allah akan selesaikan dengan cara-Nya. Cinta dalam Islam itu adalah tanggung jawab. Bukan sekedar pertemuan indah dan kata-kata indah, yang mengikat kau dan dirinya adalah pernikahan.

Tak usahlah takut cintamu maupun cintanya itu akan sirna ketika kau dan dia saling menjauh. Insya Allah cinta itu akan tetap bersemayam di hati. Agar rasa itu tetap tumbuh subur, maka landaskan cinta itu karena Allah, bukan karena makhluk-Nya. Karena subur atau tidaknya rasa cinta, tergantung motivasi bagaimana cinta itu datang. Jika kita mencintai ia karena sesuatu yang ada padanya, maka cinta itu akan hilang bersamaan dengan hilangnya sesuatu yang ada padanya. Namun, jika mencintai seseorang karena Allah, itu akan tumbuh abadi, karena Allah tak akan pernah hilang. 

Mari belajar bermain petak umpet dengan cinta. []


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button